4 Rumah di Desa Sepat Majalengka Terancam Ambruk karena Abrasi
Abrasi sungai sering terjadi di sisi Sungai Ciwaringin, Desa Sepat, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka.
Penulis: Eki Yulianto | Editor: Mutiara Suci Erlanti
Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNCIREBON.COM, MAJALENGKA- Abrasi sungai sering terjadi di sisi Sungai Ciwaringin, Desa Sepat, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka.
Abrasi itu kerap terjadi akibat aliran deras Sungai Ciwaringin yang meluap sehingga meruntuhkan tanah di sisi sungai.
Saat ini sudah ada lahan 10 meter dengan panjang 20 meter tanah sudah runtuh akibat abrasi tersebut.
Baca juga: Sejumlah Bangunan Sekolah di Talaga Majalengka Terancam Rusak Karena Abrasi Sungai Cikalong
Baca juga: 12.000 Ekor Ayam Hangus Terpanggang, Pemilik Kandang di Sumedang Rugi Rp 1,5 M
Seringnya abrasi itu juga mengancam sedikitnya empat rumah di desa tersebut.
Pantauan Tribun di lokasi, terlihat bibir Sungai Ciwaringin yang jatuh menimbulkan cerukan tanah di pinggir sungai.
Di titik tersebut bahkan sudah meruntuhkan sebuah rumah yang kini telah rata dengan tanah.
Baca juga: Teja Paku Alam Tinggalkan Persib Musim Depan? Bos Teddy dan Robert Alberts Angkat Bicara
Kepala Desa Sepat, Akbar Sudrajat mengatakan, tak bisa berbuat banyak dengan ancaman abrasi sungai yang mengancam beberapa rumah warga tersebut.
Pihaknya hanya bisa berharap, pihak terkait melakukan langkah nyata demi tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Paling dari pemerintah desa hanya sebatas membuat proposal lalu mengajukan bantuan-bantuan seperti pembuatan bronjong ke pihak terkait, dalam hal ini BBWS," ujar Akbar kepada Tribun, Jumat (25/3/2022).
Menurut dia, peristiwa nahas pernah terjadi pada tahun 2011 lalu.
Di mana, sebuah rumah milik satu keluarga ambruk akibat pondasinya terkikis aliran Sungai Ciwaringin.
"Pernah terjadi 2011 lalu, 1 rumah ambruk. Sekarang mah sudah gak terlihat bangunannya juga."
"Selain itu, ada juga warung dan rumah yang sebagiannya telah ambruk dindingnya. Sekarang 4 rumah terancam ambruk akibat abrasi," ucapnya.
Sri Evi (45), warga sekaligus pemilik rumah yang sebagiannya telah ambruk mengatakan, abrasi di sungai itu sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu dan mulai tahun 2020 ke belakang kondisinya semakin parah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/cirebon/foto/bank/originals/penampakan-rumah-di-desa-sepatss.jpg)