INILAH Penyebab Kemiskinan Ekstrem di Kuningan Tinggi di Jawa Barat, BPS Jelaskan Begini
faktor lain melihat dari kesenjangan sosial di masyarakat bisa dikatakan menjadi penyebab kemiskinan ekstrem meningkat
Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Machmud Mubarok
Laporan Kontributor Kuningan Ahmad Ripai
TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN - Munculnya angka kemiskinan ekstrem di Kuningan mencapai 6,36 persen dengan jumlah penduduk miskin ekstrem 69.090 jiwa mendapat penjelasan dari Badan Pusat Statistik (BPS) di Kuningan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), presentase penduduk miskin di Kuningan meningkat dari tadinya 11,42 persen di tahun 2019, naik 1,41 persen atau menjadi 12,82 persen di tahun 2020.
Diketahui sebelumnya dari tahun 2019 ke 2020 itu jumlah penduduk miskin di Kuningan naik 16.000 jiwa.
"Adanya kenaikan Ini sebenarnya tidak seberapa dibanding dengan Bogor. Tapi masalahnya terkait presentase itu begitu tinggi, sementara penduduk Kuningan hanya 1,1 juta. Sehingga terjadi kemiskinan naik karena presentasenya tinggi," kata Kasi Kordinator Fungsi Analisis Statistik BPS Kuningan Asep Hermansyah saat ditemui di kantornya, Jumat (1/10/2021).
Baca juga: Raja Angling Dharma Siap Entaskan Kemiskinan, Ternyata Ini Sumber Duit Sang Baginda Sultan Banten
Asep mengatakan, faktor lain melihat dari kesenjangan sosial di masyarakat bisa dikatakan menjadi penyebab kemiskinan ekstrem meningkat. Misal dari rata-rata penduduk miskin di Kuningan hanya bersekolah tidak lebih dari tingkat SMP.
"Selain itu, partisipasi anak usia 13-15 tahun yang semestinya wajib bersekolah hanya di angka 85,84 persen dari standar minimalnya yakni 95 persen. Kemudian hanya 85,84 persen anak 13-15 tahun yang sekolah. Kalau di sebuah daerah yang baik itu minimal 95 persen," ungkapnya.
Kondisi tersebut diperparah dari banyaknya penduduk miskin di Kuningan yang saat ini berstatus tidak bekerja yang persentasenya mencapai 58,63 persen.
"Penyebab kemiskinan ekstrem ini dari angka pengangguran tinggi. Sudah gak punya pendidikan bagus, kerja juga tidak. Logikanya apa yang bisa didapat sama penduduk seperti itu," ujarnya.
Alasan lain, Asep berpendapat bahwa selain terjadi kesenjangan sosial, tingkat kemiskinan ekstrem yang terjadi di Kuningan ini akibat banyak warga urban balik kampung dengan berbagai faktor.
"Kondisi kemiskinan ekstrem tersebut karena banyak warga urban pulang kampung dan memulai bekerja sebagai petani dan justru berhasil membuat Kuningan menjadi swasembada beras di tahun 2020 karena hasil panennya yang surplus 15 persen.
Dengan mereka bertani sebenarnya ini sebuah keberhasilan kata saya, kenapa? Karena tahun 2020 Kuningan yang tadinya kurang pasokan beras jadi swasembada beras," katanya.
Baca juga: Kunjungi DPD PAN Kuningan, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan Cerita Soal Kemiskinan Hingga Prostitusi
Asep mengaku bahwa keberhasilan petani Kuningan dengan hasil panen yang melimpah tidak mendapat dukungan dari pemerintah. Ini karena banyaknya bantuan berupa beras yang diberikan pemerintah membuat daya beli beras menurun.
"Ketika pandemi Covid-19 terjadi itu bantuan pemerintah bentuknya adalah beras pada turun. Akhirnya penduduk gak mau beli beras, kenapa? Karena sudah disuplai pemerintah dan petani kita gak bisa jual beras," ujarnya.
Buntut pengumuman dilakukan Menteri Dalam Negeri, Titi Karnavian beberapa waktu lalu di Gedung Sate, mengenai daerah yang menjadi prioritas penanganan kemiskinan seperti Cianjur, Karawang, Indramayu, Bandung dan Kabupaten Kuningan masuk daerah miskin ekstrem di Jawa Barat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/cirebon/foto/bank/originals/tradisi-buat-bronjong-di-kuningan.jpg)