Sabtu, 9 Mei 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

Konflik Afghanistan

Perwira Polisi Wanita Afghanistan Ini Diburu dan Diserang oleh Taliban: Dipukul dengan Senjata

Ia adalah Gulafroz Ebtekar, seorang perwira polisi wanita Afghanistan, sedang dalam pelariannya setelah mengaku diserang oleh Taliban.

Tayang:
Editor: Mumu Mujahidin
(Instagram @ebtekar_gulafroz)
Perwira polisi wanita Afghanistan, Ebtekar Gulafroz. 

TRIBUNCIREBON.COM - Seorang perwira polisi wanita Afghanistan mengaku tengah diburu dan diserang oleh Taliban.

Ia adalah Gulafroz Ebtekar, seorang perwira polisi wanita Afghanistan, sedang dalam pelariannya setelah mengaku diserang oleh Taliban.

Kepada surat kabar Rusia Moskovsky Komsomolets, Ebtekar mengatakan dirinya tengah berjuang untuk hidup setelah dipukul oleh kelompok garis keras tersebut.

Ia mengungkapkan dirinya menghabiskan waktu berhari-hari untuk menunggu di bandara Kabul agar bisa pergi, tapi upayanya gagal.

"Saya menghabiskan lima malam di gerbang bandara Kabul tanpa air ataupun roti, di tengah hujan peluru dan dikelilingi Taliban," katanya, dikutip dari New York Post.

"Saya menyaksikan kematian anak-anak dan wanita," imbuhnya.

Baca juga: Mimpi Taliban Bentuk Pemerintahan Baru di Afghanistan Tertunda, Perang di Panjshir Masih Terjadi

Perwira polisi wanita Afghanistan, Ebtekar Gulafroz.
Perwira polisi wanita Afghanistan, Ebtekar Gulafroz. (Instagram @ebtekar_gulafroz)

Lebih lanjut, Ebtekar mengaku telah mengirim pesan ke sejumlah kedutaan banyak negara.

Ia meminta tolong agar ada pihak yang bersedia menyelamatkan dirinya dan keluarga.

Namun, kata Ebtekar, semua upayanya sia-sia.

Di tengah upayanya melarikan diri, ia berharap pasukan Amerika Serikat (AS) yang ditemuinya selama kekacauan di Kabul, akan membantunya terbang ke luar negeri bersama sang kekasih dan kerabatnya.

"Kami tiba di kamp pengungsi tempat tentara Amerika ditempatkan."

Baca juga: Perang di Afghanistan Belum Usai, Taliban dan Kelompok Oposisi Bertempur di Lembah Panjshir

"Saat tentara Amerika sudah dekat, saya (bisa) menghela napas, saya pikir akhirnya kami aman," ungkapnya.

"Saya menjelaskan bahwa tidak aman bagi kami untuk tetap berada di Kabul. Mereka memeriksa dokumen kami."

"Saya membawa kartu identitas, paspor, dan sertifikat polisi," imbuhnya.

Saat ditanya ke mana ia akan pergi, Ebtekar memastikan dirinya tak masalah ke negara manapun, selama wilayah itu aman dan dirinya bisa bertahan hidup.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved