Kamis, 23 April 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

Ridwan Kamil Bilang Seniman Jangan Baper Kalau Mural Dihapus, Netizen:Pejabat Oge Tong Baper

kritik dalam mural, harus segera didialogkan antara pelaku mural dengan pihak-pihak lainnya seperti seniman dan pemerintah.

Editor: Machmud Mubarok
(Tribun Jakarta/Ist)
Mural Presiden Jokowi 404:Not Found di Batuceper, Kota Tangerang, Banten. 

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan para pelaku mural jangan sampai tersinggung atau mengeluh jika karyanya ditertibkan atau ditutup mural lainnya.

Ia mengatakan hal tersebut sudah biasa dalam seni mural, seni perkotaan yang didukungnya sejak menjadi Wali Kota Bandung.

Ia mengatakan mengenai kritik dalam mural, harus segera didialogkan antara pelaku mural dengan pihak-pihak lainnya seperti seniman dan pemerintah. Apapun, katanya, selalu memiliki aturan dan batasannya.

"Kita ini harus berdialog, dalam merumuskan 'batas'. Batasan mana yang boleh dan pantas, mana yang tidak boleh dan tidak pantas. Di dunia digital pun, tidak semua dari kita paham, mana itu 'kritik' argumentatif mana itu 'bully/shaming'," katanya melalui akun instagramnya, Rabu (1/9).

Baca juga: Mural Mirip Presiden Jokowi di Jalan Layang Pasupati Bandung Mendadak Hilang, Siapa yang Menghapus?

Baca juga: Heboh Mural Jokowi 404 : Not Found di Tangerang, Polisi Buru Sang Pembuat Mural: Ini Lambang Negara

Ia pun menyebutkan sejumlah etika dalam berkarya. Ia mengatakan bahwa orang yang berkarya dan berjiwa besar selalu membicarakan gagasan, tetapi orang berjiwa kerdil membicarakan atau menggosipkan orang.

"Seperti saat lalu lintas kita dibatasi di lampu setopan, kebebasan ekspresi pun dibatasi, oleh nilai kesepakatan budaya dan kearifan lokal. Itulah kenapa isu mural kritik kelihatannya masih berada di ruang abu-abu," katanya.

Jika belum ada kesepahaman, tuturnya, maka tafsir boleh atau tidak bolehnya mural kritik akan selalu menyertai perjalanan dialektika. Akan sulit membedakan mana kritik atau hinaan, dalam dinamika demokrasi bangsa ini.

"Dalam perspektif saya, Mural adalah seni ruang publik yang temporer. Ada umurnya. Pelaku mural juga harus paham dan jangan baper, karena karyanya suatu hari akan hilang. Bisa tersapu hujan, dihapus aparat ataupun oleh hilang ditimpa pemural lainnya. Mari berdialog," katanya.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan pihaknya terbuka akan ekspresi seni yang menggambarkan suatu pesan, termasuk seni mural yang sudah tidak asing lagi ditemui di kota-kota besar.

Kang Emil berpesan meski sebuah ekspresi, tetap harus memegang etika dan juga batasan. Hal itu diungkapkan Kang Emil ketika menyikapi tren mural akhir-akhir ini yang menimbulkan kontroversi.

“Soal mural saya kira, tradisi seni kota ini (Kota Bandung) saya sangat senang. Dulu waktu jadi wali kota, saya memberi ruang-ruang, tiangnya Pasupati dimural, tembok di Jalan Siliwangi dimural,” ujar Kang Emil dalam jumpa pers virtual dari Gedung Pakuan, Kota Bandung, Jumat (27/8).

Menurutnya, ekspresi seni yang selama ini dituangkan di tempat publik tidak akan menjadi masalah selama memegang batasannya. 

“Tinggal kita menyepakati secara etika, budaya, batas-batasnya saja. Selama memenuhi kearifan lokal dan etika disepakati, saya kira tidak masalah,” tuturnya.

Untuk menyepakati batasan-batasan tersebut, Kang Emil mengajak media di antaranya untuk bisa menarasikan, mewacanakan, dan mendiskusikan ekspresi seni tersebut.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved