Jumat, 24 April 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

Intip Sungai Cipedak di Kuningan yang Katanya Angker tapi Jadi Tambang Emas bagi Warga Desa Sekitar

Kawasan di Sungai Cipedak, Desa Pasir Agung, Kecamatan Hantara, Kuningan Jawa Barat, ini selain mejadi objek wisata air, juga dikenal angker dan . . .

Editor: dedy herdiana
TribunCirebon.com/Ahmad Ripai
Bantaran Sungai Cipedak di Desa Pasir Agung, Kecamatan Hantara, Kuningan, Senin (23/8/2021). 

TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN – Kawasan di Sungai Cipedak, Desa Pasir Agung, Kecamatan Hantara, Kuningan Jawa Barat, ini selain mejadi objek wisata air, juga dikenal angker dan banyak ditemukan emas.

Kini aktivitas pertambangan emas di Sungai Cipedak sudah dihentikan.

Penghentian pertambangan emas yang dilakukan warga tersebut tentu memiliki alasan dan sebagai bentuk penyelamatan terhadap alam yang berada di lingkungan warga sekitar.

Apakah ini juga termasuk disebabkan oleh kondisinya yang angker.

Baca juga: Katanya Angker Ternyata Warga Desa Berani Eksploitasi Emas Secara Manual di Sungai Cipedak

“Sebenarnya, untuk membahas lokasi wisata yang masih memiliki keangkeran. Saya tidak mau mendalam, namun sebagai edukasi terhadap calon pengunjung ya, boleh lah gak apa – apa,” ungkap Ayip Nursamsi yang juga tokoh masyarakat setempat, Senin (23/8/2021).

Latar belakang sebagai edukasi, kata Ayip menegaskan bahwa keangkeran di lokasi wisata itu tidak langsung menimbulkan atau memakan korban. Melainkan hanya sebuah peringatan – peringatan yang dibuktikan melalui fakta lingkungan dan kejadian sekitar di luar nalar atau kebiasaan warga setempat.

“Ini sebagai edukasi ya, sebagai pengalaman terjadi pada waktu di daerah kami ada kegiatan pertambangan emas, pernah ada warga luar daerah datang mengambil kandungan alam di sini. Nah,saat dalam  perjalanan dalam kendaraannya itu mengalami kejadian aneh, seperti kondisi kendaraan berat dan bikin mogok.Saat itu juga, kawanan yang mengambil batu itu ada yang sadar dan merasa ketakutan hingga balik ke daerah kami untuk menunda batu tersebut,” ujarnya.

Baca juga: Wow Ada Kandungan Emas di Lokasi Wisata Sungai Cipedak, Warga Sebut Tempatnya Angker

Hal lain yang terjadi di lingkungan warga, kata Ayip mengklaim sering diketahui warga sekitar. Seperti munculnya hewan yang biasa warga pelihara pada umumnya.

“Kejadiannya begini, warga kami sering menemukan ayam di bantaran sungai. Padahal jelas, bahwa ayam itu bukan milik warga, namun si ayam itu seolah ingin di masukin ke kandang dan di pelihara warga. 
Nah, dari situ. Warga kami cuek pada ayam misterius tadi, sebab kalau di masukin ke kandang dan mendapat perlakuan sama seperti pada ayam lainnya itu bisa berakibat kurang baik,” katanya.  

Sebagai bukti lain, kata Ayip mengaku bahwa kawasan wisata di Sungai Cipedak ada sebuah tempat bak petilasan hingga dikenal dengan Masigit Agung. 

“Iya disana ada petilasan, kata orang tua terdahulu itu merupakan Masigit Agung (Masjid Agung),”katanya.
Ayip menerangkan, sumber daya alam di kawasan wisata peraiaran di Sungai Cipedak, hingga saat ini menjadi kebutuhan pokok untuk dimanfaatkan sebagai irigasi pertanian dan kebutuhan warga lainnya.

“Kalau bicara sumber daya alam. Air sungai di sini menjadi kebutuhan pokok untuk irigasi lahan pertanian warga dan sebagai catatan, jika kita bisa menghargai kelestarian alam itu pasti berbalik pada kebaikan kita. Artinya, kandungan alam jangan dihabiskan untuk kekayaan pribadi,”katanya.  

Kawasan wisata perairan Sungai Cipedak di Desa Pasir Agung, Kecamatan Hantara, Kuningan Jawa Barat, diduga mengandung kadar emas

Hal itu diketahui sejak beberapa tahun lalu oleh aktivis mahasiswa dari Bandung saat melakukan Kuliah Kerja Nyata di daerah setempat.

“Betul, terdapat kandungan emas di kawasan wisata peraiaran Sungai Cipedak ini, mulanya diketahui oleh Mahasiswa yang KKN di desa kami dan membawa sampel tanah permukaan yang dilanjutkan dengan penelitiannya laboratorium,” kata Ayip Nursamsi, tokoh pemuda setempat saat ditemui di sungai tersebut, Senin (23/8/2021).

Baca juga: Gelombang Tinggi Terjang Pesisir Sukabumi Selatan, Warga Malah Mencari Emas dan Barang Berharga

Baca juga: Harga Emas Naik, Puluhan Warga Kota Bandung Langsung Antre Beli Emas, Duit THR Dimaksimalkan

Ayip menyebut bahwa lokasi kandungan emas di desanya itu tidak boleh dimanfaatkan atau dikomersialkan. 
Pasalnya, lokasi alam di sana sangat kental dengan nilai mistis dan tidak boleh dilakukan eksploitasi.

“Warga kami sempat berembuk untuk melakukan pendayagunaan lahan tersebut, namun kebanyakan warga tidak menyetujuinya. 

Karena itu merupakan kekayaan yang hanya bisa dinikmati seadanya tanpa merusak lingkungan dan kandungannya,” ujarnya.

Bantaran Sungai Cipedak di Desa Pasir Agung, Kecamatan Hantara, Kuningan, Senin (23/8/2021).
Bantaran Sungai Cipedak di Desa Pasir Agung, Kecamatan Hantara, Kuningan, Senin (23/8/2021). (TribunCirebon.com/Ahmad Ripai)

Sekadar informasi, kata Ayip mengemuka bahwa Desa Pasir Agung ini merupakan dominasi wilayah tengah Kabupaten Kuningan

“Iya, Kecamatan Hantara termasuk desa kami ini berada di tengah Kabupaten Kuningan dan ini bisa dilihat dari peta geografi,” ujarnya.

Pengklaim sebagai wilayah tengah, Ayip mengklaim potensi wisata di Desa Pasir Agung ini memiliki lebih dari satu lokasi wisata. 

“Bicara potensi wisata di desa kami sangat banyak, namun untuk memajukannya itu kembali kepada pemerintah dalam mendukung pegiat wisata di desa. Karena sangat jelas bahwa dari jaraknya saja cukup jauh, jika mengambil star dari pusat Kuningan kota itu bisa memakan waktu sekitar satu jam an,” katanya. 

Manual

Informasi warga melakukan pendayagunaan alam yang memiliki kandungan emas dan tembaga di Kecamatan Hantara, Kabupaten Kuningan dibenarkan oleh Anggota DPRD Kuningan, Toto Tohari saat dihubungi ponselnya.

“Benar, dulu warga kami melakukan pengambilan emas dengan cara manual,” ujarnya Tohari yang warga Desa Citapen, Kecamatan Hantara, Senin (23/8/2021).

 Pemanfaatan kandungan alam, kata Tohari mengaku sebelumnya ditemukan oleh Mahasiswa saat melakukan KKN di daerah setempat. 

“Iya, awalnya dari Mahasiswa yang ngambil kandungan alam lalu di teliti memang benar ada kandungan emas dan tembaga serta semacam boksic,” ujarnya.

Kejadian itu, menurut Tohari, pada  tahun 2000 an dan sejumlah warga pun bergantung untuk memenuhui hajat hidupnya pada usaha pengambilan kandungan alam tersebut.

“Waktu itu, usaha warga sekitar 3 tahunan lebih dan menggantungkan hidup sebagai penambang emas. Jadi, mereka itu menambang dan menjual matrial semacam batu secara mentahan,” ujarnya. 

Penjualan batu yang memiliki kandungan emas tersebut, Tohari mengklaim bahwa bisnis itu dilakukan oleh warga secara ilegal.

“Alur bisnisnya begini, jadi si warga bertambang dan menjualan batu yang memiliki kandungan emas itu secara karungan. Penjulan itu langsung oleh warga ke pengepul yang di ada di Jakarta,” ujarnya.

Harga jual hasil tambang oleh warga, Tohari menyebut seberat 1 kg batu itu dihargakan Rp 1.000. 

“Untuk penjualan matrial alam dengan berat 1 kg itu dihargakan Rp 1000 dan mereka menjual secara masing – masing ke pengepul,” ungkapnya. (Tribuncirebon.com/Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai)

Sumber: Tribun Cirebon
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved