Ini Pesan Terakhir Bidan Imas yang Tewas Ditusuk Suaminya Sendiri, Sahabat Terima Pesan Tak Biasa
Sebanyak 30 pegawai Puskemas Jamali Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, menggelar doa yasinan untuk almarhumah Imas Mulyani (40).
5. Dijerat Pasal Berlapis
Pihak kepolisian langsung menetapkan tiga pasal sekaligus kepada suami yang menusuk istrinya hingga tewas.
Pasal tersebut adalah pasal penganiayaan, pasal pembunuhan, dan pasal kekerasan dalam rumah tangga. Jika dilihat dari ancaman hukuman, tersangka bisa dipastikan menjalani sisa hidupnya di penjara.
Kasatreskrim Polres Cianjur, AKP Anton, mengatakan pihaknya sudah menerima laporan dan saat ini kasus sedang ditangani Polsek Bojongpicung.
"Kami sudah terima tadi pagi laporan penganiayaan yang menyebabkan korban tewas, asal muasal ada permasalahan keluarga," katanya saat melakukan konperensi pers di Mapolres Cianjur, Senin (24/5/2021).
Anton mengatakan, pelaku membawa pisau lalu ditusukan ke bagian perut sebelah kiri kirban, di perjalanan ke rumah sakit korban meninggal.
"Tindakan pertama masih di Polsek Bojongpicung," ujar Anton.
Anton mengatakan, sementara ini pasal yang dikenakan kepada pelaku yakni pasal 340, 338, karena terjadi di lingkungan keluarga kami jerat juga dengan undang undang KDRT
"Masih kami dalami apakah ada motif lain sebelumnya," katanya.
6. Korban, Sosok Periang
Kepala Puskesmas Jamali Kecamatan Mande Kabupaten Cianjur, Euis, mengaku sangat terpukul dan kehilangan sosok Imas Mulyani (40) yang tewas di tangan suaminya sendiri.
Imas adalah Perawat yang periang dan tidak pernah bercerita apapun tentang keadaan rumah tangganya.
"Sehari-hari ia sangat periang, tak menyiratkan ada permasalahan keluarga di wajahnya," ujar Kapus Mande, Euis, melalui sambungan telepon, Senin (24/5/2021).
Euis mengatakan, ia baru mengetahui kejadian dari teman korban yang sesama perawat juga.
"Saya tahu kabar ini pagi tadi dari teman perawatnya yang bertugas di Puskesmas Kademangan, saya sangat suck dan langsung ke Rumah sakit untuk melihatnya," kata Euis.
Euis pun berangkat bersama dengan rekan seprofesi korban untuk melihat jenasah yang sedang diautopsi di rumah sakit menjelang siang.
"Saya bertemu terakhir hari Sabtu kemarin saat Vaksinasi di Desa Mande," katanya.
Euis mengaku sedih dan terpukul kehilangan sosok perawat yang periang tersebut.
"Iya saya kaget sekaligus terpukul mendengar kabar ini," kata Euis.
(Tribunjabar.id/Ferri Amiril Mukminin)