Kisah Tim Pemulasaraan Covid-19 Indramayu, Ada Jenazah Mati Suri, Mau Dimakamkan Nadi Berdenyut Lagi
Kejadian jenazah Covid-19 mengalami mati suri rupanya pernah terjadi di Kabupaten Indramayu.
Penulis: Handhika Rahman | Editor: dedy herdiana
Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Handhika Rahman
TRIBUNCIREBON.COM, INDRAMAYU - Kejadian jenazah Covid-19 mengalami mati suri rupanya pernah terjadi di Kabupaten Indramayu.
Hal tersebut diceritakan koordinatortim pemulasaran jenazah Covid-19, Hari Nuryani kepada Tribuncirebon.com saat ditemui di Kantor BPBD Kabupaten Indramayu, Rabu (21/4/2021).
Hari Nuryani mengatakan, kejadian tersebut menjadi pengalaman paling mengejutkan yang pernah ia alami selama bertugas sebagai tim pemulasaraan jenazah Covid-19 sejak tahun 2020.
Baca juga: Ini Wanita Tangguh di Balik Baju Hazmat di Setiap Pemulasaraan Jenazah Covid-19 di Indramayu

"Salah satu kejadian yang gak terlupakan, pas ada janazah hidup lagi," ujar dia.
Hari Nuryani menceritakan, kejadian itu terjadi sekitar bulan Januari 2021 kemarin.
Padahal, pasien Covid-19 sudah dinyatakan meninggal dunia oleh dokter.
Saat itu, peralatan yang digunakan untuk membantu pasien bernapas pun sudah dicabut, termasuk menyiapkan liang halat untuk lokasi pemakaman.
Baca juga: Banyak Program Pemkab Cirebon Ditangguhkan Akibat Pandemi Covid-19, Pansus Perubahan RPJMD Dibentuk
Hanya saja, lanjut Hari Nuryani, saat ia sedang menunggu rekan sesama tim pemulasaraan datang ke rumah sakit, tiba-tiba saja dari dalam rumah sakit heboh.
Jenazah Covid-19 yang tadinya sudah meninggal dunia, tiba-tiba saja denyut nadinya berdenyut lagi.
"Waktu itu sampai heboh di rumah sakit, peralatan yang sudah dilepas langsung dipasang lagi, tapi seminggu kemudian pasien meninggal lagi," ujar dia.

Ketika Tim Pemulasaraan Harus Dorong Ambulans
Kejadian tidak mengenakan yang dialami tim pemulasaraan jenazah Covid-19 di Kabupaten Indramayu langsung mendapat respon dari Plt Bupati Indramayu Taufik Hidayat.
Seperti diketahui, tim pemulasaran jenazah Covid-19 harus mendorong-dorong mobil ambulans dengan masih mengenakan baju hazmat karena mogok kehabisan bensin.
Mereka hanya difasilitasi uang bensin sebesar Rp 50 ribu untuk menempuh jarak jauh maupun dekat.
Baca juga: Tim Pemulasaran Covid-19 di Indramayu Beli Makan hingga Vitamin Pakai Uang Honor Agar Tak Terpapar
Baca juga: Kunjungi Rumah Sakit, Polres Majalengka Bahas Sinergitas Penanganan Pemulasaraan Jenazah Covid-19
Kendala lainnya, karena speedometer mobil ambulance itu rusak sehingga tim pemulasaran tidak mengetahui BBM habis.
Kejadian sampai mendorong-dorong mobil itu, sedikitnya, dialami tim pemulasaran Covid-19 Kabupaten Indramayu sebanyak 4 kali.
"Saya juga belum cek langsung, tapi saya sudah dapat laporan kejadian tersebut, bahwa itu speedometer mobil tidak berfungsi," ujar dia saat ditemui Tribuncirebon.com di Pendopo Indramayu, Senin (1/2/2021).
Kabar baiknya, disampaikan Taufik Hidayat, dirinya sudah memerintahkan untuk memfasilitasi mobil ambulance yang laik untuk digunakan mengantar jenazah Covid-19, termasuk untuk keperluan BBM.
Taufik Hidayat bahkan mengaku prihatin adanya kejadian tersebut.
Ia menekankan, kejadian itu tidak boleh lagi terjadi.
"Termasuk pembenahan-pembenahan SOP-nya, karena kita sudah anggarkan semua," ujarnya.
Baca juga: BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem Selasa 2 Februari 2021, Waspadai Hujan & Angin Kencang
Baca juga: BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem Selasa 2 Februari 2021, Waspadai Hujan & Angin Kencang