Breaking News:

Habib Bahar Ingin Persidangannya Cepat dan Tertutup : Jika Sidang Disiarkan, Saya Enggak Akan Hadir

Habib Bahar bin Smith menjalani persidangan dengan agenda dakwaan pada Senin (6/4/2021) secara virtual.

Tribunjabatr.id/Mega Nugraha
Habib Bahar menjalani persidangan perdana kasus penganiyaan sopir taksi online. Sidang digelar di Pengadilan Negeri Kelas IA Khusus Bandung ( PN Bandung)  Jalan LLRE Martadinata, Selasa (6/4/2021). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha

TRIBUNCIREBON.COM,BANDUNG- Habib Bahar bin Smith sempat meminta majelis hakim Pengadilan Negeri Kelas IA Khusus Bandung yang mengadilinya, agar persidangan berlangsung tertutup.

Habib Bahar bin Smith menjalani persidangan dengan agenda dakwaan pada Senin (6/4/2021) secara virtual.

Seusai sidang, Habib Bahar meminta agar sidang tertutup.

"Saya keberatan sidang secara live streaming. Kalau sidang selanjutnya disiarkan saya enggak akan hadir," ucap Habib Bahar, terdengar suaranya di pengeras suara.

Baca juga: Bantuan Sembako Akan Diberikan Kepada 12 Ribu KPM di Kota Cirebon, Nilainya Naik Menjadi Rp 200 Ribu

Penceramah Habib Bahar bin Smith
Penceramah Habib Bahar bin Smith (Istimewa)

Dia juga berharap persidangannya berlangsung dengan cepat. Tidak seperti persidangan dia pada kasus sebelumnya, yakni kasus penganiayaan pada tiga anak di bawah umur yang membuatnya dihukum penjara tiga tahun.

"Saya ingin agar persidangan berlangsung dengan cepat, tidak seperti persidangan sebelumnya sampai berbulan-bulan. Saya ingin cepat biar saya mendapat hukuman nanti, menjalaninya dengan tenang disini (di Lapas Gunung Sindur), bisa ibadah dan bisa mengajar," ucap dia.

Selain itu, Habib Bahar juga sempat melayangkan protes karena kasus penganiayaan terhadap Andriansyah, pengemudi taksi online itu sempat berakhir damai dan sudah cabut laporan.

Baca juga: Kecamatan Kesambi Kota Cirebon Punya Polsek Baru, Kapolres Langsung Lantik Sudharsono Jadi Kapolsek

Baca juga: Miss Landscape Indonesia Laporkan Profesor M, Guru Besar di Bandung ke KPAI Karena Penelantaran Anak

Ia bahkan menyebut Peraturan Kejaksaan Agung Nomor 15 tahun 2020 yang mengatur soal penanganan restoratif justice atau jaksa bisa menghentikan penuntutan. Syaratnya bila kedua pihak sudah berdamai.

."Adanya perdamaian korban, tersangka mengganti kerugian korban setelah upaya perdamaian diterima untuk diteruskan kepada kepala kejaksaan tinggi."

Halaman
123
Editor: Mutiara Suci Erlanti
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved