Tahun Ini Mudik Dilarang Pengusahan Bus di Ciamis Terpaksa Jual Sawah demi Tutup Operasional

Selama masa pandemi Covid-19 katanya kendaraan harus tetap beroperasi sementara penumpang sepi.

Editor: Mumu Mujahidin
Tribun Jabar/Cipta Permana
Ilustrasi: Kondisi arus mudik di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung pada H-3 lebaran 2019/1440 H, Minggu (2/6/2019). Tahun Ini Mudik Dilarang Pengusahan Bus di Ciamis Terpaksa Jual Sawah demi Tutup Operasional 

Laporan Wartawan Tribunjabar.id, Andri M Dani

TRIBUNCIREBON.COM, CIAMIS – Sama dengan lebaran tahun lalu, pemerintah melarang mudik untuk lebaran tahun ini.

Alasannya karena masih masa pandemi Covid-19.

Untuk kedua kalinya para pengusaha bus menghadapi kenyataan sulit, gagal panen saat lebaran.

“Sudah setahun ini pengusaha bus menghadapi masa sulit, Apalagi sekarang, mudik lebaran kembali dilarang. Mudik ditiadakan,” ujar H Tatang Aceng Kendar, pengusaha bus PO Aladin kepada Tribun dan wartawan lainnya Rabu (31/3).

Baca juga: Terbaring di Ranjang RS, Pelaku Duel Berdarah di Tasik Siap Datangi Lawan Duelnya Jika Sudah Sembuh

Baca juga: Sikap Amanda Manopo Bikin Arya Saloka Tertawa, Sering Perhatikan Kebiasaan Saat Syuting Ikatan Cinta

Selama masa pandemi Covid-19 katanya kendaraan harus tetap beroperasi sementara penumpang sepi.

Setiap hari terpaksa nombok untuk biaya operasional, BBM maupun spare part (suku cadang).

“Belum lagi cicilan ke bank yang harus dibayar tiap bulan. Aladin masih punya kewajiban bayar cicilan 4 bus ke leasing. Awalnya Rp 51 juta/bulan, sekarang setelah direstrukturisasi jadi Rp 31 juta/bulan,” katanya.

Karena terus menerus nombok, terlebih adanya kewajiban pembayaran cicilan 4 bus tiap bulan tersebut, menutut H Tatang Aladin, pihaknya terpaksa menjual aset yang ada.

“Sejumlah aset sudah dilepas. Sekarang dua bidang sawah juga terpaksa dijual. Sesuai dengan wasiat orang tua saya, bus Aladin harus tetap dipertahankan.

Banyak yang mencari penghidupan dari bus, tidak hanya sopir dan kernet. Tetapi juga pengurus-pengurus di terminal, di jalur. Ratusan orang jumlahnya, semuanya punya keluarga. Punya anak dan isteri,” tutur H Tatang Aladin panggilan akrab H Tatang Aceng Kendar.

Dua petak sawah yang sudah ditawarkan untuk dijual tersebut menurut H Tatang Aladin masing-masing di Blok Segel Sadananya seluas 177 bata (1 bata = 14 meter persegi) serta di Pulo Erang Lakbok seluas 400 bata.

“Semula berharap, lebaran ini akan panen. Tapi mudik ditiadakan. Mau tidak mau, dua aset tersebut terpaksa dilepas. Dua petak sawah terpaksa dijual, cicilan mobil harus tetap dibayar,” katanya.

Baca juga: Siap-siap Warga Majalengka di Luar Daerah Tak Boleh Pulang Kampung, Pemerintah Resmi Larang Mudik

Baca juga: Pemerintah Resmi Menghapus Mudik Idulfitri Tahun Ini, Ridwan Kamil Sebut Jangan Memaksakan Diri

Sementara itu Sekretaris DPC Organda Ciamis, R Ekky Bratakusumah berharap pemerintah tidak hanya meniadakan mudik.

Tetapi juga harus ada solusinya yang bisa meringankan beban pengusaha angkutan umum.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved