Breaking News:

Banyak Informasi Tak Layak Anak Soal Bom Bunuh Diri di Makassar, KPAI Beri Peringatan

Tentunya berbagai informasi yang masif dan berseliweran akan dibaca anak anak, yang mengundang mereka bereaksi

Editor: Mutiara Suci Erlanti
Tangkap layar YouTube Kompas TV
Ledakan terjadi di depan Gereja Katedral Makassar, Jl Kajaolalido-MH Thamrin, Makassar, Sulawesi Selatan saat ibadah berlangsung, Minggu (28/3/2021). 

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Kepala Divisi Pengawasan, Monitoring dan Evaluasi pada Komisi Perlindungan Anak Indonesia mengatakan bom bunuh diri yang meledak di Makassar membawa pilu bangsa Indonesia.

Tentunya berbagai informasi yang masif dan berseliweran akan dibaca anak anak, yang mengundang mereka bereaksi dengan berbagai pernyataan di media sosialnya.

"Untuk itu penting orang tua menghindari dari informasi yang tidak layak di konsumsi anak, seperti perdebatan tiada ujung di publik. Yang membawa anak dalam perlakuan salah dan mengancam jiwanya seperti dalam saling persekusi, kekerasan gender berbasis online, bahkan menjadi berhadapan hukum. Untuk itu orang tua sebagai yang terdekat anak sangat penting mendampingi dan menghadirkan diskusi itu di dalam ruang keluarga," katanya melalui ponsel, Minggu (28/3).

Baca juga: Ucapan Minta Maaf Malam Nisfu Syaban 1442 H Menjelang Ramadan, Kirim Lewat WA & Buat Status Medsos

Baca juga: Peringatan Dini Cuaca Ekstrem, Senin 29 Maret 2021: Jabar Potensi Hujan Lebat dan Angin Kencang

Jasra mengatakan apalagi trennya sekarang, anak-anak mempunyai lebih dari satu akun di media sosialnya. Bayangkan bila semua akun itu mengundang reaksi anak.

Untuk itu, sejak dini Undang-Undang Perlindungan Anak mengingatkan bahwa dalam situasi seperti ini, anak tidak boleh dibiarkan tanpa perlindungan jiwa.

"Harusnya anak-anak mendapatkan informasi yang layak, yang menempatkan anak-anak dalam tumbuh kembang yang maksimal. Membangun edukasi yang lebih dominan pada kepekaan nilai nilai kemanusiaan. Karena kebutuhan mereka yang besar dalam tumbuh kembangnya. Menprasyaratkan kondisi dorongan dan intervensi yang bertujuan baik. Jangan sampai kebutuhan besar itu, dipenuhi reaksi yang berujung mengancam jiwanya," katanya.

Jasra mengatakan seringkali peredaran foto, video, pernyataan, yang tidak layak masif beredar di media sosial. Bahkan berita tersebut di produksi lagi, dengan tidak sesuai realita.

Baca juga: Bukan Kemenangan, Ternyata Ini Target Sebenarnya Persib Bandung Saat Menghadapi Persita Tangerang

Akhirnya menjadikan anak-anak lebih bertumbuh ke arah penyebaran kebencian kepada orang lain, bahkan kepada teman-temannya sendiri yang ikut menyikapinya.

"Jangan sampai, anak-anak digiring dalam konflik tak berkesudahan yang berakibat buruk. Untuk itu berbagai pihak seperti keluarga, sekolah, tempat tempat pembelajaran di masyarakat, rumah ibadah punya tugas menjelaskan kembali secara baik dalam kegiatannya, seperti mengajak anak anak bersikap tenang, mendoakan para korban, mengajarkan nilai nilai yang di pegang bangsa Indonesia dalam hidup bersama," katanya.

Baca juga: KESAKSIAN Pastor Paroki Soal Bom Bunuh Diri: Dua Orang Ditahan Saat Nekat Masuk, Pelaku Naik Motor

Halaman
12
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved