Kena PHK Karena Covid-19, Pemuda Desa Margabakti Kuningan Berhasil Ubah Limbah Menjadi Rupiah
Sejumlah pemuda di Desa Margbakti, Kecamatan Kadugede, Kuningan, Jawa Barat melakukan terobosan untuk usaha kreatif
Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Mutiara Suci Erlanti
Laporan Kontributor Kuningan Ahmad Ripai
TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN - Sejumlah pemuda di Desa Margbakti, Kecamatan Kadugede, Kuningan, Jawa Barat melakukan terobosan untuk usaha kreatif dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Usaha kreatif dilakukan Diki bersama belasan pemuda lainnya, ternyata fokus memproduksi kerajinan tangan dari limbah lingkungan setempat.
Saat ditemui di lapak produksi pembuatan kerajinan tangan, Diki mengatakan, usaha pembuatan kerajinan diharapkan bisa memberikan kebaikan dan bisa memenuhi kebutuhan hidup.
"Iya usaha kerajinan kami ini semua kerajinan tangan yang di hasilkan atau berbahan baku dari limbah," ungkap Diki kepada wartawan, Rabu (17/3/2021).
Baca juga: Kasus Covid-19 Makin Menggila di Majalengka dalam Sehari Bertambah 47 Orang Positif Virus Corona
Baca juga: Marcus-Kevin Tampil Perdana Malam Ini, Berikut Jadwal Lengkap dan Live Streaming All England 2021
Diki menyebut bahwa latar belakang usaha kerajinan tangan membuat wadah, gelas serta teko dari tempurung.
Ini sebagai pemanfaatan limbah yang biasa ditemukan di lingkungan pemukiman dan perkebunan warga sekitar.
"Semua bahan kerajinan ini dari tempurung yang tadinya banyak ditemukan kemudian dimanfaatkan seperti ini. Pemanfaatan ini istilahnya merubah limbah supaya dapat rupiah," ujarnya.
Pemantapan produksi pembuatan kerajinan dari tempurung, kata Diki, awalnya itu sejak terjadi pandemi Covid-19 dan menjadi korban PHK (Putus Hubungan Kerja) dengan perusahaan tempat kerja di Jabodetabek.
"Ya dari korban PHK, akhirnya saya putuskan untuk mencari kegiatan yang memberi keuntungan untuk bertahan hidup, akhirnya seperti ini ditemukan sebagai pengrajin pembuatan batok kelapa," ujarnya.
Mengenai omzet, kata Deki mengaku belum bisa menjawab terhadap persoalan demikian. Karena rinitisan usaha belum lama berjalan dan belum pernah menjual secara partai besar.
"Kalau bicara saya gak tahu. Tapi untuk harga jual per set hasil kerajinan kami. Misal teko dengan beberapa gelas itu dihargai sebesar Rp 100 -150 ribu," ujarnya.
Untuk menghasilkan kerajinan tangan hingga bisa dijual, kata Diki, ini bisa memakan waktu cukup lama, sekitar dua sampai tiga pekan dan membutuhkan modal cukup lumayan.
Baca juga: Masih Ada 622 Pelayan Publik di Majalengka yang Belum Divaksin Covid-19
Baca juga: Ayah Ulinnuha Kecewa Nyawa Anaknya yang Tewas Ditabrak Hanya Dihargai 2,6 Tahun Penjara Sang Sopir
"Cara pembuatan seperti pada umumnya, kita bersihkan batok kelapa dengan memulai membentuk batok yang dibutuhkan sesuai pola. Kemudian, menghaluskan batok disertai pewarnaan alami pada batok untuk daya tarik konsumen dalam memilikinya," katanya.
Mengenai penjualan itu baru dilakukan bewara dari mulut ke mulut bahwa ada desa di Kecamatan Kadugede memproduksi kerajinan tangan berbahan tempurung.
"Iya, kita belum maksimal di bagian penjualan. Namun sejak produksi kerajinan tangan ini ada saja yang datang terus beberapa orang yang beli," katanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/cirebon/foto/bank/originals/diki-saat-ditemui-di-lapak-produksi-kerajinan-tangan-di-desa-margabakt1.jpg)