PNS yang Tewas Gantung Diri di Kuningan Ternyata Pengantin Baru, Korban Mengidap Penyakit Komplikasi

Seorang PNS yang nekat akhiri hidup dengan cara gantung diri ternyata pengantin baru.

Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Mutiara Suci Erlanti
Tribun Jogja - Tribunnews.com
Ilustrasi Gantung Diri 

Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai

TRIBUNCIREBON.COM,KUNINGAN - Seorang PNS yang nekat akhiri hidup dengan cara gantung diri ternyata pengantin baru yang usia pernikahannya belum genap setengah tahun.

Demikian hal itu dikatakan Soleh yang juga teman akrab istri korban gantung diri, Nani saat dihubungi ponselnya, Selasa (9/3/2021).

Soleh mengatakan, saat melakukan prosesi pernikahan korban beberapa bulan lalu itu dilangsungkan di rumahnya.

Baca juga: Atlet Voli Aprilia Manganang Jadi Anak Buah Jenderal Andika, dari Serda Kowad Jadi Tentara Laki-laki

Baca juga: Partai Demokrat Indramayu Janji Bakal Setia pada Ketum AHY: Moeldoko Itu Cuma Orang Luar

Saat itu juga memang tidak banyak mengundang orang dalam hajat pernikahan.

"Secara langsung saya tidak mengenal korban. Tapi saya kenal kepada istri korban, yaitu Ibu Nani yang sudah berteman lama sejak sekolah," kata Soleh.

Menyinggung soal riwayat penyakit yang dialami korban, kata Soleh, informasi yang diterima memang bukan mengidap penyakit gula saja. Melainkan ada riwayat penyakit lain yang penyerta kondisi korban.

"Suami Ibu Nani, sepengetahuan informasi saya dapat itu ada penyakit gula, darah tanggi dan kolesterol serta jantung," ujarnya.

Kasus mengakhiri hidup yang dilakukan PNS (Pegawai Negeri Sipil) alias gantung diri itu bertugas sebagai tenaga Tata Usaha di SMPN kawasan Kuningan kota.

Baca juga: INI ngakuan Pemilik Mobil yang Viral karena Satu Penumpangnya Lempar Sampah ke Mulut Kuda Nil

"Iya Pak DR itu teman kami, informasi semalam meninggal. Nah, untuk sebab akibat meninggal dunia gantung saya gak tahu," ungkap EN salah seorang guru sekolah tersebut, saat dihubungi ponselnya, Selasa (9/3/2021).

Mengenal korban memang terbilang pendiam dan kurang aktif dalam berkomunikasi dengan sesama kawan sejawat di tempat kerja.

Apalagi korban itu sebelumnya pernah merasa kehilangan saat ditinggal mati istri pertamanya.

"Selain itu, almarhum juga diketahui mengidap penyakit gula atau deabetes. Nah, belum lama keluar dari rumah atas pengobatan penyakitnya dan kami emang gak sempat nengok karena hawatir ada paparan Covid19," ungkapnya.

Melihat korban sebelumnya memang sangat baik tidak neko - neko dalam menjalankan tugas dan kewajiban sebagai tenaga kerja di sekolah. "Ya kalau orangnya baik dan tidak neko-neko juga pendiam," ujarnya.

Berita atau artikel ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri.

Pembaca yang merasa memerlukan layanan konsultasi masalah kejiwaan, terlebih pernah terbersit keinginan melakukan percobaan bunuh diri, jangan ragu bercerita, konsultasi atau memeriksakan diri ke psikiater di rumah sakit yang memiliki fasilitas layanan kesehatan jiwa.

Berbagai saluran telah tersedia bagi pembaca untuk menghindari tindakan bunuh diri.

Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup.

Anda tidak sendiri. Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada.

Berikut daftar layanan konseling yang bisa Anda kontak maupun untuk mendapatkan informasi seputar pencegahan bunuh diri:

Gerakan "Into The Light"
Facebook: IntoTheLightID
Twitter: @IntoTheLightID
Email: intothelight.email@gmail.com
Web: intothelightid.wordpress.com

Sumber: Tribun Cirebon
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved