Cerita Karmidi Memilih Tinggal di 'Kampung Mati' Majalengka, Terlanjur Cinta Kampung Mendiang Istri
Salah satunya, Karmidi (65) yang sudah 36 tahun lamanya menempati Blok Tarikolot tersebut.
Penulis: Eki Yulianto | Editor: Mumu Mujahidin
Ia mengaku, usai peristiwa itu, banyak tetangganya yang langsung pindah meninggalkan rumahnya.
Takut ada bencana susulan menjadi alasan utamanya.
"Tapi karena saya sudah betah, cinta kampung istri saya, saya tidak pindah. Di samping itu, saya juga punya ladang pertanian, kalau pindah jauh," jelas dia.
Memasuki area kampung tersebut juga, terkesan menyeramkan dan angker.
Jumlah binatang seperti anjing maupun ayam lebih banyak terlihat dibanding adanya kehidupan manusia.
Jalan yang berlumpur, ditambah suara khas hewan hutan tampak terus terngiang.

Bangunan rumah juga banyak tampak terbengkalai.
Kesan kotor dan kumuh menambah rasa angker di area tersebut.
Sementara, pintu-pintu rumah dan jendela telah dimakan rayap.
Jendelanya terbuka dan baut engselnya sudah banyak yang lepas.
Adapun, cat-cat dindingnya mengelupas, buram.
Sementara, Kepala Desa (Kuwu) Sidamukti, Karwan menjelaskan ada 180 rumah yang rusak karena pergerakan tanah pada beberapa tahun lalu itu.
Tak sedikit pula rumah yang tertimbun reruntuhan.
Rata-rata kejadian longsor pada pukul 18.00 WIB sore.
Namun, tak ada korban jiwa setiap kali terjadi pergerakan tanah.