Tangis Pilu Keluarga Kapten Afwan Saat Tabur Bunga di Lautan, Jasad Sang Pilot Tak Ditemukan
Sambil menahan tangisnya, keluarga Kapten Afwan dan 15 korban lainnya pun menaburkan bunga ke lautan.
Langit yang mendung seolah ikut merasakan kesedihan para keluarga korban Sriwijaya Air.
Ada yang mengusap-usap kepala.
Ada yang merangkul pundak.
Ada pula yang bergegas mencari dan memberikan mereka tisu.
Tak semua keluarga korban kuat berlama-lama menatap lautan.
Sebagian bergegas untuk kembali ke tenda di atas geladak helikopter tersebut sambil menahan tangis seakan lautan luas hendak mengalir melalui kedua mata mereka.
Sambil menahan tangisnya, keluarga Kapten Afwan dan 15 korban lainnya pun menaburkan bunga ke lautan.

Bunga-bunga warna warni, mulai dari merah, kuning, putih mulai terlihat mengapung di atas lautan.
"Cuma bisa tabur bunga," ucap salah satu keluarga Kapten Afwan sambil menangis.
Ketika ditanya lebih lanjut oleh wartawan, keluarga Kapten Afwan enggan berbicara banyak karena masih terlihat sedih dan menitikkan air mata.
Lagu Anneth, Mungkin Hari Ini, Esok atau Nanti pun seolah menggambarkan duka keluarga korban.
"Mungkin hari ini
Hari esok atau nanti
Berjuta memori yang terpatrI
Dalam hati ini
Mungkin hari ini
Hari esok atau nanti
Tak lagi saling menyapa
Meski kumasih harapkanmu,"

Di laut, tampak sebuah balon berwarna merah yang dikelilingi sejumlah kapal kecil.
Petugas bilang, balon merah tersebut merupakan titik jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 lalu.