Begini Analisis BMKG tentang Penyebab Gempa Bumi Bermagnitudo 5,9 di Majene
BMKG menginformasikan tentang penyebab terjadinya gempa bermagnitudo 5,9 yang terjadi di Majene, Sulawesi Barat pada 14 Januari 2021 pukul 13.35 WIB
TRIBUNCIREBON.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) menginformasikan tentang penyebab terjadinya gempa bermagnitudo 5,9 yang terjadi di Majene, Sulawesi Barat pada 14 Januari 2021 pukul 13.35 WIB diikuti dengan beberapa gempa susulan.
Dilansir dari Kompas.com, data resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pada 15 Januari 2021 pukul 01.28 WIB, terjadi gempa susulan bermagnitudo 6,2 dengan kedalaman 10 kilometer.
Kemudian, pada 16 Januari 2021 pukul 06.32 kembali terjadi gempa susulan (aftershock) bermagnitudo 5,0. Disebutkan, gempa dirasakan cukup kuat oleh masyarakat sekitar 5-7 detik.
Update terakhir, selain membuat sejumlah bangunan roboh, gempa menewaskan sebanyak 46 orang dan 826 orang luka-luka.
Baca juga: Posting Foto dan Tulisan Takut Gempa Susulan, Gita Tertimpa Reruntuhan Saat Gempa Susulan Mamuju
Baca juga: Warga Pengungsi di Majene Cegat Mobil Bantuan Logistik, Mensos Risma:Bukan Penjarahan, Itu Kelaparan
Baca juga: Tak Hanya Awan Panas dan Lava, Letusan Gunung Semeru Berpotensi Lontarkan Batuan Pijar
Penyebeb gempa bumi
Dihubungi Kompas.com, Kepala Bidang Informasi Gempa bumi BMKG Daryono mengatakan gempa kedua berdampak lebih merusak dengan cakupan yang lebih luas.
Adapun gempa bumi disebabkan oleh naiknya sesar Mamuju-Majene.
"(Pemicunya) sesar naik Mamuju-Majene," kata Daryono, Sabtu (16/1/2021).
Daryono menambahkan, dari lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa signifikan pertama dan kedua yang terjadi berjenis gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake) akibat aktivitas sesar aktif Mamuju-Majene Thrust.
"Mekanisme sesar naik ini mirip dengan pembangkit gempa Lombok 2018, dimana bidang sesarnya membentuk kemiringan ke bawah daratan Majene," ujar dia.
Gempa susulan Daryono memperingatkan, gempa susulan masih akan terjadi seperti lazimnya pasca gempa kuat akan diikuti rangkaian gempa susulan.
"Dengan kembalinya terjadi gempa kuat di Majene ini maka gempa yang terjadi pada hari Kamis 14 Januari 2021 pukul 13.35.49 WIB statusnya menjadi gempa pendahuluan/pembuka (foreshock)," tutur dia.
Sementara gempa yang terjadi 15 Januari 2021, sejauh ini menjadi gempa utama (mainshocks).
Daryono mengimbau masyarakat untuk mewaspadai kawasan perbukitan dengan tebing curam, dikarenakan gempa susulan signifikan dapat memicu longsoran (landslide) dan runtuhan batu (rock fall).
"Apalagi saat ini musim hujan yang dapat memudahkan terjadinya proses longsoran karena kondisi tanah lereng perbukitan basah dan labil," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/cirebon/foto/bank/originals/gempa-majene-3.jpg)