Geger Siluman Biawak 'Nyimas Ratna Herang' Konon Bersarang di Lokasi Jembatan Rusak di Kuningan
Menurut cerita rakyat jaman dahulu, kata Johan, lokasi keluar masuk biawak itu merupakan tempat atau petilasan Nyimas Ratna Herang.
Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Mumu Mujahidin
Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai
TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN – Banyaknya biawak yang berkeliaran di sekitar lokasi jembatan ambruk di Desa Ciherang, Kecamatan Kadugede ini menjadi perbincangan warga desa setempat.
“Konon kawasan itu tempat siluman biawak dan beberapa tahun lalu, ada orang nangkap biawak. Lalu beberapa hari kemudian, dilepaliarkan di tempat semula,” ungkap Johan (51) diamini Mumu (54) warga setempat saat ditemui di sekitar lokasi jembatan ambruk, Selasa (10/11/2020).
Menurutnya sehari saat pengerjaan evakuasi dengan alat berat ada tiga ekor biawak dengan ukuran besar mondar–mandir di sekitar lokasi jembatan ambruk tersebut.
“Iya kemarin sore biawak besar keluar masuk dari liang dan berkeliaran seperti hewan peliharaan saja,” katanya.
Terlebih kata Johan, salah seorang petani di sekitar lokasi jembatan ambruk itu sering melihat biawak berkeliaran.
“Mang Juju (Juhadi, red) pernah lihat banyak biawak berkeliaran sebelum dua hari sebelum jembatan ambruk,” katanya.
Menurut cerita rakyat jaman dahulu, kata Johan, lokasi keluar masuk biawak itu merupakan tempat atau petilasan Nyimas Ratna Herang.
“Iya, katanya sih tempat ini merupakan lahan jarah (bermain,red) Nyimas Ratna Herang. Sehingga wajar, desa kami disebut Ciherang ini karena memiliki kandungan dan memiliki mata air jernih alias herang,” ungkapnya.
Baca juga: 3 Ekor Biawak Pemangsa Mayat Bayi Perempuan di Kuningan Belum Berhasil Ditangkap Damkar
Baca juga: Alat Berat Mulai Evakuasi Jembatan Ambruk di Kuningan, Sementara akan Dibuatkan Jembatan Darudat
Jembatan Baru Harus Berkualitas
Sementara Susanto yang juga Anggota DPRD Kuningan asli Desa Ciherang mengatakan, memasuki hari kedua pelaksaan evakuasi jembatan ambruk.
“Kami minta kualitas pembangunan itu berkualitas, sebab jalur ini merupakan akses utama yang digunakan warga tiga desa,” kata Susanto sekaligus tokoh pemuda desa setempat.
Kemudian secara teknis, kata Susanto, jalur aliran sungai ini harus dibuat ulang dan tidak seperti saat sekarang yang berkelok.
“Iya, untuk menghindari hantaman arus air pada bangunan bawah atau pondasi jembatan ini, aliran sungai harus lurus dan jangan ada belokan seperti sekarang,” katanya.
Terlepas dengan pelaksaan evakuasi jembatan ambruk, kata Susanto, pihaknya mengapreasiasi terhadap Dinas Lingkungan Hidup Kuningan.