Breaking News:

Human Interest Strory

Ada Kampung Bungkus Gorengan di Kuningan, Berawal Sejak 1950, kini Dijual ke Jakarta, Bogor & Bekasi

Untuk melakukan praktek peliptan bungkus gorengan, kata Masjda, ini dilakukan di setiap rumah warga di sela aktivitas kesehariannya. 

Ahmad Ripai/Tribuncirebon.com
Agus Somantri Bos bungkus gorengan di Kuningan 
Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai
TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN – Kampung bungkus gorengan di Desa Ciherang, Kecamatan Kadugede di Kuningan, kini mulai menyebar di desa tetangga dan sekitarnya. 
“Dahulunya hanya desa kami yang menghasilkan bungkus gorengan dari kertas yang dilipat persis kantong,” ungkap Kepala Desa Ciherang, Masjda saat ditemui di ruang kerjanya, kantor desa setempat, Senin (9/11/2020).
Menurutnya mayoritas penduduk di desanya tidak lepas dari kegiatan pembuatan bungkus gorengan. 
“Cara pembuatannya itu biasanya, dengan lipatan tertentu dan sesuai dengan ukuran pada biasanya,” katanya.
Untuk melakukan praktek peliptan bungkus gorengan, kata Masjda, ini dilakukan di setiap rumah warga di sela aktivitas kesehariannya. 
“Untuk pembuatan bungkus gorengan itu rata- rata ibu rumah tangga dan atau kaum perempuan yang banyak di rumah,” katanya.
Aktivitas Warga Desa Ciherang saat bikin bungkus gorengan
Aktivitas Warga Desa Ciherang saat bikin bungkus gorengan (Ahmad Ripai/Tribuncirebon.com)
Dalam pembuatan itu, kata dia, memang tidak ditarget harus menghasilkan berapa banyak dalam melakukan produksi tersebut. 
“Iya kebanyakan dari pada gak ada kegiatan di rumah mereka (warga, red). Sambil nonton televisi itu sembari bikin bungkus gorengan,” katanya.
Menyinggung soal bahan baku, kata Masjda, ini biasanya dikirim oleh pengepul atau bos bungkus gorengan. 
“Jadi di desa kami, bos bungkus gorengan ini setiap pagi kirim kertas atau bahan baku. Kemudian jelang sore atau waktu tertentu, itu dilakukan pengambilan bahan baku yang sudah jadi bungkus gorengan tersebut,” katanya.
Selain kertas, kata dia, untuk bahan baku itu disertai dengan lem sebagai perekat saat melipat dan membentuk kertas menjadi kantong. 
“Ada beberapa lipatan dan diberi perekat, kemudian untuk ukuran atau bentuk bungkus gorengan ini berbeda – beda. Mulai ukuran kecil, sedang dan besar,” katanya.
Kegiatan sama, kata Masjda, pembuatan bungkus gorengan ini dilakukan warga desa tetangga. 
“Seperti warga Desa Cikadu, Tinggar, Jambar dan desa lainnya. Kegiatan sama dilakuan desa lain itu jelas bahan baku dikirim dari pengepul disini,” katanya.
Mengenai sejarah desa terkenal dengan bungkus gorengan, kata Masjda, mulanya dari Bandung sejak tahun 1950 an. 
“Sewaktu itu warga kami ikut bikin dengan jumlah banyak dan diperjualbelikan,” katanya.
Dari sana, kata dia, manfaat bungkus gorengan ini ternyata bukan hanya bagi penjual gorengan. 
“Melainkan penjual lainnya, seperti penjual beras dan komoditas lain juga ikut gunakan bungkus gorengan sebagai pembungkus barang jual,” katanya.
Kemudian, lanjut Masjda, kenapa bungkus gorengan berbahan kertas ini sangat laku bagi penjual gorengan. 
“Sebab beberapa alasan dari tukang gorengan, jika kehabisan bungkus kertas ini. Gorengan yang dijajakannya tidak laku, karena bungkus bukan dari kertas,” katanya.
Bungkus gorengan dari kertas, kata dia, ternya bisa menyerap minyak yang bisa keluar dari gorengan yang sebelumnya di proses terlebih dahulu. 
“Ya, intinya. Orang gak mau beli gorengan kalau bungkus gorengan ini bukan kertas. Karena, pembeli biasanya lebih apik dalam membutuhkan makanan yang ia beli,” ungkapnya.  
Saat mendatangi rumah warga desa setempat, yakni Titi Nuridah (66) terlihat santai saat melakukan aktivitas dan kegiatannya dirumah. 
“Iya Emak kalau pekerjaan rumah sudah beres, paling lipat-lipat kertas ini bikin bungkus gorengan,” katanya.
Untuk setiap harinya, kata Mak Titi, hasil produksi atau pembuatan bungkus gorengan ini tidak menentu. 
“Ya, lumayan saja. Kalau udah banyak bungkus gorengan ini diambil bos dan dari situ baru dapat uang,” katanya.
Sementara, Agus Somantri sekaligus bos bungkus gorengan ini mengatakan, untuk penjualan bugkus gorengan. 
“Kebanyak dijual ke luar daerah. Seperti Kota Bandung, Bekasi, Jakarta dan Bogor dan kota-kota lainnya,” kata Agus yag mengaku meneruskan usahanya ini warisan dari orang tua sebelumnya.
Untuk setiap pengiriman, kata Agus, dalam sebulan itu bisa sebanyak dua mobil truk. 
“Dan setiap satu ikat bungkus gorengan seberat 4-5 kg, untuk harga Rp 40 ribu,” katanya.
Untuk mengupah pembuat bungkus gorengan, kata Agus, pihaknya memberikan bayaran sebesar Rp 5 ribu. 
“Pembayaran itu diberikan untuk per ikatnya,” katanya.
Untuk mendapatkan bahan baku, kata Agus, ini dihasilkan dari pangkalan rongsok dan sejumlah perkantoran pemerintah. (*)
Penulis: Ahmad Ripai
Editor: Mumu Mujahidin
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved