Tiga Hari Unjuk Rasa Rusuh di Kota Bandung, Polisi Masih Menduga-duga Massa Berbaju Hitam, Anarko?

Massa ketiga ini saat aksi juga tidak membawa bendera dan selalu jadi yang memprovokasi polisi dengan melempari batu.

Editor: Machmud Mubarok
TribunJabar.id/Syarif Abdussalam
Massa berbaju hitam-hitam bertindak anarkis saat berdemo di depan Gedung DPRD Jabar, Rabu (7/10/2020). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha

 TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Tiga hari berturut-turut sejak Selasa (6/10/2020) hingga Kamis (8/10/2020) unjuk rasa di Kota Bandung rusuh. Pelakunya massa perusuh dengan ciri-ciri berpakaian dominan hitam.

Selama tiga hari unjuk rasa itu, massa pengunjuk rasa bisa terpetakan dengan seragam yang terlihat. Yakni massa buruh yang tergabung delam berbagai organisasi serikat pekerja. Lalu, massa mahasiswa yang saat unjuk rasa selalu menggunakan jas almamater masing-masing kampus.

Lalu ketiga, massa berpakaian hitam-hitam, tidak berjas almamater atau tidak berseragam identitas organisasi buruh.

Massa ketiga ini saat aksi juga tidak membawa bendera dan selalu jadi yang memprovokasi polisi dengan melempari batu.

Massa ini mengingatkan pada kejadian kerusuhan di Kota Bandung pada 2018 saat unjuk rasa May Day. Saat itu, massa ini juga berpakaian hitam-hitam dan mencoreti tembok dengan logo anarko atau huruf A dalam lingkaran.

Lalu pada 2019, saat unjuk rasa penolakan rancangan KUHP dan RUU Revisi KPK. Mereka juga sama-sama berpakaian hitam-hitam dan mencoreti tembok dengan simbol anarko. Massa ini juga terlibat kerusuhan saat eksekusi lahan untuk rumah deret di Tamansari.

Tahun ini, massa dengan identitas berpakaian hitam-hitam kembali membuat kerusuhan. Siapa mereka?

"Yang pasti bukan massa mahasiswa‎ atau buruh," ucap Kapolrestabes Bandung Kombes Ulung Sampurna Jaya di Gedung DPRD Jabar, Kamis (8/10/2020).

TERKUAK Sosok Adit Jayusman Calon Suami Ayu Ting Ting dan Menantu Umi Kalsum, Hadir Saat Ultah Umi

Kisah Anggota TNI Membunuh Istrinya Sendiri Demi Wanita Selingkuhan, Korban Dipukul Pakai Linggis

Ini Rekam Jejak Sofyan Djalil Pencetus Omnibus Law di Pemerintahan, Bertahan Jadi Menteri Sejak SBY

Sejak aksi dua hari lalu, polisi menangkap massa perusuh itu. Pada unjuk rasa kemarin, yang diamankan sebanyak 209 orang. 13 orang diantaranya reaktif Covid 19. Dari data yang ada, massa perusuh ini rata-rata berusia 15 tahun hingga 20 tahun.

"Jadi pelaku kerusuhan sejak dua hari lalu hingga hari ini itu berasal dari kelompok massa yang sama," ucap Ulung. Ditanya memastikan mereka dari kelompok berideologi Anarko, ia tidak bisa memungkirinya.

"Ya bisa anarko bisa dari massa yang lain," ucap dia.

Melihat kebiasaan perusuh sejak dua hari lalu itu, pola membuat rusuhnya selalu sama. Yakni, memprovokasi polisi lalu menyusup ke massa mahasiswa yang berjaket almamater.

Itu terbukti saat unjuk rasa Rabu (7/10/2020).

Pantauan Tribun saat itu, massa hitam-hitam ini berusaha masuk ke massa mahasiswa, terutama terlihat saat massa mahasiswa dari arah Jalan Sulanjana menuju Gedung DPRD Jabar, massa hitam-hitam ini berusaha masuk ke massa mahasiswa. Saat itu, massa hitam-hitam langsung dibubarkan polisi dan massa mahasiswa maju ke Gedung DPRD Jabar.

"Iya, mereka memancing, memprovokasi, melempari dengan batu dan sebagainya. Itu sejak sejak hari pertama unjuk rasa minggu ini. Lalu, saat massa mahasiswa dan buruh sudah bubar, mereka masih bertahan melawan polisi. Saat kami tangkap, mereka ada yang bawa batu, bawa ketapel," ucapnya. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved