Breaking News:

Covid 19 di Indonesia

Benarkah Virus Corona Bisa Menular Melalui Udara? Ini Penjelasan Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Covid

Berdasarkan bukti-bukti tersebut, WHO terus merekomendasikan pencegahan penularan yang disebabkan oleh droplet dari orang yang terinfeks

Editor: Machmud Mubarok
IRNA
Ilustrasi Virus Corona 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Pemahaman para ahli terhadap karakter virus SARS-CoV-2 masih terus berkembang. Hasil dari berbagai penelitian mereka pun akan berpengaruh terhadap kebijakan pencegahan COVID-19 secara global.

Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Nasional, Wiku Adisasmito, menyampaikan pihaknya telah menanyakan secara langsung kepada Badan PBB untuk Kesehatan Dunia (WHO) mengenai perkembangan penelitian virus SARS-CoV-2. WHO Indonesia pun berkoordinasi aktif dengan para peneliti sejak April lalu.

Salah satunya mengenai penelitian transmisi atau penularan lewat udara. Hasil dari peneltian yang ada, katanya, menunjukkan bahwa transmisi udara belum terbukti secara pasti.

“WHO mendorong penelitian lebih lanjut di bidang ini. Seiring dengan transmisi melalui udara, kami melihat banyak rute transmisi lainnya, bekerja sama dengan para ahli dari berbagai bidang. WHO juga akan meringkas apa yang mereka ketahui dalam ringkasan ilmiah tentang transmisi, yang akan segera dirilis,” ujar Wiku saat memberikan keterangan pers, Jumat (10/7).

Lebih lanjut, Wiku menjelaskan bahwa transmisi COVID-19 melalui udara mungkin dapat terjadi pada kondisi dan keadaan tertentu di mana suatu tindakan yang menimbulkan partikel aerosol dilakukan, seperti memasang dan melepas selang intubasi endotrakea, bronkoskopi, penyedotan cairan dari saluran pernapasan, pemakaian nebulisasi, tindakan invasif, dan non invasif pada saluran pernapasan dan resusitasi jantung paru.

Sementara itu, publikasi baru-baru ini dari New England Journal of Medicine telah mengevaluasi ketahanan virus penyebab COVID-19.

Dalam kajiannya, aerosol terkumpul melalui sebuah alat yang kemudian dimasukkan ke dalam tabung Goldberg dalam lingkungan terkendali laboratorium.

Alat tersebut merupakan mesin berkekuatan tinggi dan tidak merefleksikan kondisi normal manusia saat batuk.

Daftar Harga HP Vivo Juli 2020, Lengkap dengan Bocoran Spesifikasi Seri Terbaru Vivo X50 dan X50 Pro

Daftar Harga Sepeda Lipat 2020, Mulai dari Rp 1 Jutaan: Sepeda Lipat Polygon, Noris, United, Element

Misteri Mobil Pikap yang Tiba-tiba Ada di Hutan Cianjur Terungkap, Ternyata Begini Ceritanya

Penemuan pada kajian itu menunjukkan bahwa virus COVID-19 yang mampu bertahan di udara hingga 3 jam ini tidak mencerminkan kondisi klinis manusia di saat batuk.

Kondisi tersebut terjadi pada saat eksperimen dilakukan untuk melihat konsentrasi partikel yang melayang di udara.

Berdasarkan bukti-bukti tersebut, WHO terus merekomendasikan pencegahan penularan yang disebabkan oleh droplet dari orang yang terinfeksi COVID-19. Pada lingkungan di mana dilakukan prosedur yang menghasilkan aerosol, WHO tetap merekomendasikan tindakan pencegahan berdasarkan tingkat risikonya. (Sam)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved