Breaking News:

Nama Curug Bangkong Kuningan, Berawal dari Cerita Katak Besar Bersuara Keras Terdengar hingga 1 KM

Kepala Desa Kertawarima Dani, menyebutkan bahwa sejarah objek wisata Curug Bangkong berawal pada tahun delapan puluhan (1980).

Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Mumu Mujahidin
Ahmad Ripai/Tribuncirebon.com
Pengunjung Curug Bangkong Kabupaten Kuningan Dipadati Pengunjung 
Laporan Kontributor Tribuincirebon.com, Ahmad Ripai
TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN – Sejarah penamaan Curug Bangkong di Desa Kertawarima, Kecamatan Nusaherang, Kabupaten Kuningan.
Kepala  Desa Kertawarima Dani, menyebutkan bahwa sejarah objek wisata Curug Bangkong berawal pada tahun delapan puluhan (1980).
"Namun untuk bisa terkenal seperti sekarang belum lama ini,” kata Dani saat ditemui di lokasi Curug Bangkong tadi, Minggu (28/5/2020).
Dani menceritakan, muncul nama Curug Bangkong itu bermula dari adanya lubang yang persis di dalam air terjun tersebut.
“Nah, ketika itu ada katak besar dan tiap malam mengeluarkan suara hingga terdengar hampir ke pemukiman warga desa setempat, bahkan bisa terdengar hingga jalan nasional (jalan Ciamis-Cirebon, red),” katanya.
Suara yang keluar dari lubang sekitar curug, bisa terdengar hingga 1 kilometer.
“Suaranya keras banget dan setiap malam tanpa mengenal musim, pasti bunyi,” ujarnya.
Sejak saat itulah objek wisata air terjun ini diberi nama Curug Bangkong hingga popular sekarang.
“Debit air yang dihasilkannya ini, masih dari Cisanggarung atau dari Waduk Darma,” katanya.
 
Nilai Mistis Curug Bangkong
Mengenai nilai mistis sekitar Curug bangkong, kata dia, dalam setiap tahunnya itu aura mistis malah berkurang. 
“Kalau dulu memang di lingkungan Curug Bangkong ini, banyak warga melakukan ritual untuk kejayaan usaha. Tapi sekarang nilai mistis itu tidak begitu kental lagi,” ungkapnya.
Dulu, kata dia, pernah lokasi ini menjadi syuting untuk program tv swasta dalam mengungkap misteri.
“Iya, dulu Trans 7 pernah ngambil syuting dalam acara dunia lain. Namun tidak ada apa-apa dan acara berjalan seperti biasa saja,” katanya.
Keberagaman Warga Setempat
Untuk lingkungan warga sekitar Curug bangkong, kata dia, memang sangat beragam dalam melakukan aktivitas kehidupannya.
“Dari jumlah Kepala Keluarga (KK) sebanyak 782 dan jumlah penduduk sekitar dua ribuan sekian. Warga memiliki mata pencaharian seperti bertani, berkebun dan ada yang memilih usaha dagang di luar kota (jualan bubur kacang ijo alias Burjo, red),” katanya.
Namun, kata dia, warga disini banyak usaha dagang dengan cara kreditkan barang. “Iya, warga kami ada yang suk mengkreditan barang jaualannya,” katanya.
Meski demikian, kata dia, keberagaman warga tetap menjaga dan saling gotong royong. “Seperti diketahui saja, untuk usaha objek wisata ini diserahkan kepada Karang Taruna,” katanya.
Memasuki kemajuan jaman hingga sekarang, kata dia, pemerintah desa mulai melakukan penataan lingkungan lokasi sekitar. 
“Sebab objek wisata alam ini memiliki potensi dalam menarik pengunjung dari luar maupun dalam daerah itu sendiri,” katanya.
Sekitar tahun 2015, kata dia, penataan lingkungan objek wisata ini dibuat sedmikian rupa.
“Sehingga bisa kita rasakan dan kenyamanan akses jalan seperti sekarang,” kata Dani.
Belum lama, kata dia, sewaktu tahun 2019 kemarin itu dilakukan penataan dengan penanaman rumput dan pembuat gazebo untuk pengunjung.
“Juga sebagi sebagai pelengkap nilai estetika lingkungan objek wisata curug sekitar,” katanya.
“Memang kami berharap kepada warga pemilik tanah sudah mencoba menawarkan lahannya untuk dibuatkan lahan parkir bagi pengunjung,” katanya.
Penyerahan Kelola Objek Wisata
Ini dilakukan sebagai bentuk kepdulian warga dan memberikan semangat usaha untuk para pemuda desa.
“Bentuk lain kita berikan melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes, red),” katanya.
Dimana, kata dia, dalam setiap tahunnya itu pendapatan ada yang masuk terhadap kas desa.
“Iya sebagai pendapatan asli desa dari sektor wisata,” katanya.
Kedepan, kata Dani, lokasi Curug Bangkong akan dilakukan penataan, untuk menarik pengunjung lebih banyak.
“Sebab selain wisata peraiaran curug ini, kita akan imbangi juga dengan wisata religi,” ujarnya.
Kebetulan, kata dia, ada makam yang dikeramatkan oleh masyarakat disini.
“Dan semasa hidupnya, makam Pangeran Saringsingan sebagai tokoh agama dan penyebara agama Islam,” ujar Dani seraya menambahkan bahwa Pangeran Saringsingan masih keturunan dari Pangeran Cirebon. (*)
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved