Breaking News:

Saji Maleman Keraton Kasepuhan Cirebon

Ini Makna Tradisi Saji Maleman yang Dilaksanakan di Keraton Kasepuhan Cirebon, Sambut Lailatul Qadar

Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat, mengatakan, ada makna filosofis yang terkandung dalam pelaksanaan tradisi maleman.

Ahmad Imam Baehaqi - Tribincirebon.com
Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat (kanan), saat melepas iringan kraman yang mengantarkan gerbong maleman di Keraton Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Rabu (13/5/2020). 
Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Ahmad Imam Baehaqi
TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON - Keraton Kasepuhan menggelar Saji Maleman, tradisi menyambut malam lailatulkadar, Rabu (13/5/2020).
Namun, pelaksanaan tradisi maleman menerapkan protokol pencegahan penyebaran Covid-19.
Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat, mengatakan, ada makna filosofis yang terkandung dalam pelaksanaan tradisi maleman.
Di antaranya, umat Islam harus dalam keadaan bersih dan wangi, khususnya saat menyambut kedatangan Lailatul Qadar.
"Itu makna dari ukup yang dinyalakan sebagai pengharum ruangan di makam Sunan Gunung Jati," ujar PRA Arief Natadiningrat saat ditemui usai kegiatan.
Pasalnya, di malam Lailatul Qadar para malaikat akan turun ke bumi dan mendoakan umat Islam yang saat itu tengah beribadah.
Karenanya, untuk menyambut malam yang dianggap lebih mulia dibanding 1000 bulan itu umat Islam harus menyiapkan diri dengan kebersihan dan keharuman.
PRA Arief Natadiningrat juga mengingatkan, di malam ganjil dalam 10 hari terakhir Ramadan kaum muslimin disarankan memperbanyak beribadah kepada Allah swt.
Selain itu, menurut dia, dinyalakannya lilin dan delepak menggambarkan hati serta pikiran manusia pun harus terang-benderang.
"Kita harus menyambut malaikat dalam keadaan bersih, wangi, dan terang, melalui salat, zikir, serta doa, yang dipanjatkan," kata PRA  Arief Natadiningrat.
Pelaksanaan Sesuai Protokol Kesehatan
Keraton Kasepuhan menggelar Saji Maleman, tradisi menyambut malam Lailatul Qadar, Rabu (13/5/2020).
Namun, dimasa pandemi Covid-19 seperti sekarang pelaksanaan tradisi itu menerapkan protokol pencegahan penyebaran virus corona.
Hanya ada lima abdi dalem Keraton Kasepuhan yang mengikuti tradisi saji maleman dan merekapun tampak mengenakan masker.
Mereka akan mengantarkan peti kayu yang disebut gerbong maleman dari Keraton Kasepuhan ke Makam Sunan Gunung Djati di Desa Astana, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon.
Gerbong maleman itu berisi lilin, delepak, dan ukup yang dikemas dalam guci-guci pusaka peninggalan 700 tahun lalu.
Selain itu, pemimpin rombongan yang mengantar gerbong maleman tersebut terlihat membawa tombak pusaka yang panjangnya kira-kira satu meter.
Sebelum digunakan dalam tradisi maleman, seluruh benda-benda pusaka itu dicuci dalam tradisi jemasan yang dilaksanakan pada Selasa (12/5/2020).
Sebelum berangkat, Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat, tampak memimpin doa dan melepas rombongan gerbong maleman itu.
Para Kraman Astana Gunung Jati itu berjalan kaki sejauh kira-kira enam kilometer untuk mengantarkan gerbong maleman ke Makam Sunan Gunung Djati.
Selama perjalanan, mereka pun tampak saling menjaga jarak minimal satu meter dengan orang di dekatnya sehingga tidak berdekatan.
"Para kraman ini mengenakan masker dan menjaga jarak sesuai protokol pencegahan Covid-19," kata Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat, saat ditemui di Keraton Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Rabu (13/5/2020).
Ia mengatakan, lilin, delepak, dan ukup yang dibawa para kraman akan dinyalakan di makam Sunan Gunung Jati setiap tanggal ganjil dalam 10 hari terakhir Ramadan dan dimulai malam ini.
Arief juga menjelaskan, lilin dan delepak akan dinyalakan sebagai penerang ruangan di makam Sunan Gunung Jati.
Delepak sendiri terbuat dari campuran kapas dan minyak kelapa, kemudian dimasukkan ke guci serta diikat agar tidak tumpah.
Sementara ukup merupajan campuran kayu-kayuan dan akar wangi yang dicacah kemudian disangrai dengan gula merah.
"Nanti ukup ini juga dibakar, fungsinya sebagai pewangi ruangan, kalau lilin dan delepak hanya untuk penerangan," ujar PRA Arief Natadiningrat.
Menurut dia, lilin, delepak, dan ukup itu yang digunakan dalam tradisi maleman disiapkan oleh keluarga keraton.
Padahal, biasanya abdi dalem para wargi juga turut terlibat dalam persiapan tersebut tetapi pada tahun ini tidak dilakukan.
Sebab, hal tersebut semata-mata demi menjalankan kebijakan pemerintah yang melarang kerumunan massa.
"Jadi, tidak bisa melibatkan banyak orang dalam persiapan gerbong maleman ini, bahkan tradisi jemasan juga hanya diikuti beberapa abdi dalem," kata PRA Arief Natadiningrat.
Penulis: Ahmad Imam Baehaqi
Editor: Mumu Mujahidin
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved