Sabtu, 9 Mei 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

VIDEO - Dua Kakak Adik di Kuningan Ini Butuh Bantuan, Kondisi Cacat, Bantuan dari Dinsos Diputus

Rumah yang ditinggali Enab memang tergolong cukup luas. Namun rumah seluas itu dihuni oleh tiga kepala keluarga.

Tayang:
Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Machmud Mubarok

Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai

TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN - Budi Muhibudin (26) dan Salsa (16), kakak adik yang tinggal di Blok Sembung Rugul, RT 23/09, Desa Lengkong, Kecamatan Garawangi, Kabupaten Kuningan. Mereka tidak bisa berjalan seperti orang normal, karena mengalami cacat.

"Kedua anak saya mengalami tulang rawan dan seharusnya mendapat perawatan medis serius," ungkap Enab Jaenab (49), ibu kandung Budi dan Salsa, saat ditemui di rumahnya, Selasa (25/2/2020).

Enab yang merupakan single parent, menuturkan, pengalaman kedua anaknya, tidak bisa berjalan, memang bawaan sejak lahir. "Ceritanya begini. Sewaktu kecil Budi ikut cek kesehatan melalui posyandu. Saya kecewa karena saat itu, anak saya harus membutuhkan obat buat tulang. Namun, petugasnya bilang tidak ada dan tak mau mengusahakan, " jelas dia.

Beranjak dari kekecewaan terhadap petugas posyandu, Enab memutuskan, untuk tidak melanjutkan periksa kesehatan ke posyandu. "Dari sana, setiap periksa kesehatan, saya datang ke bidan saja," ujarnya.

Enab mengaku ditinggal pergi suami tanpa kabar ataupun nafkah.  Kondisi itu membuatnya harus bekerja keras, putar otak dan kuras tenaga demi kelangsungan hidup dua buah hatinya. Ia pun akhirnya memutuskan untuk menjanda.

"Kejadiannya sih, sejak punya anak pertama. Nah, pas kumat keburukan suami terulang, ketika lahiran anak kedua. Saya hanya fokus untuk kesehatan kedua anak saya dan sampai sekarang berstatus janda," jelas dia.

Rumah yang ditinggali Enab memang tergolong cukup luas. Namun rumah seluas itu dihuni oleh tiga kepala keluarga. "Di sini ada ibu saya, keluarga saya dan keluarga adik kandung," ucap dia.

Untuk kebutuhan sehari-hari, Enab hanya mengandalkan jasa dan kemampuan yang ia miliki. "Ya, kalau ada orang suruh cuci pakaian dan bersih-bersih rumahnya, saya pasti kerjakan. Nah dari situ, saya dapat bayaran untuk memenuhui kebutuhan hajat hidup keluarga," imbuhnya.

Selama beberapa tahun, anak keduanya, Salsa, mendapat bantuan dari Dinas Sosial setempat.
Namun sejak 2019, bantuan itu diputus.

"Bantuan tidak ada dan putus begitu saja. Kalau untuk bantuannya itu sebesar tiga ratus ribu," jelas Enab.
Tentu saja Enab merasa kecewa. Pasalnya, bantuan yang idealnya itu diberikan kepada Salsa itu seumur hidup. "Dari situ, saya pasrah dengan keadaan seperti saat ini," ucapnya.

Di tempat yang sama, anak pertam Enab, Budi, mengaku ia hanya berbekal keahlian dan keterampilan sebagai desain photoshop. Kini hanya tinggal cerita alias menganggur. "Sekarang saya nganggur begini kang," ungkap Budi kepada wartawan.

Alasan menganggur, kata dia, akibat mesin dan perangkat pendukung komputer lainnya, mengalami kerusakan dan tidak bisa digunakan sebagai mestinya. "Sudah lama komputer saya rusak. Tidak tahu dari mana asal mulanya," sebut dia.

Budi bersyukur bisa menjadi lulusan Mts/SMP. Berkat pengorbanan dan perjuangan ibunya yang mencari uang, ia bisa menulis berhitung dan paham pengoperasian komputer.

"Mulai SD hingga lulus MTs, saya diantar ibu dan menggunakan jasa ojek motor. Lepas dari sana, bisanya menjadi desain. Saya ikut kursus komputer di sekitar lingkungan desa kami," kata dia..

Perangkat komputer yang dimilikinya didapat dari pemberian orang. “Saat lulus dari kursus, saya buka usaha sebagai desainer, seperti mengendit foto atau bikin kartu undangan begitu,” ujarnya.

Sementara sang adik, Salsa, menambahkan, dirinya hanya pasrah dengan kondisi penyakit yang dialaminya. "Kalau baca berhitung saya bisa, berkat diajarin ibu," kata Salsa. (*)

Sumber: Tribun Cirebon
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved