PLTU Cirebon Unit 2 Gunakan Teknologi Terbaru, Emisinya Dipastikan Lebih Bersih
pembakaran batu bara menggunakan teknologi ultra super critical akan menggunakan temperatur yang lebih tinggi.
Penulis: Ahmad Imam Baehaqi | Editor: Machmud Mubarok
Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Ahmad Imam Baehaqi
TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON - Proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cirebon Unit 2 telah dimulai sejak 2018.
Direksi Cirebon Power menargetkan pembangunan PLTU Cirebon Unit 2 itu selesai pada 2020.
Menurut Wakil Direktur Utama Cirebon Power, Joseph Pangalila, nantinya PLTU Cirebon Unit 2 tetap menggunakan pasokan batu bara.
"Tapi kalorinya rendah, yaitu berkisar antara 4.000 hingga 4.600 Kkal perkilogram," ujar Joseph Pangalila kepada Tribuncirebon.com, Sabtu (15/2/2020).
• Kisah KH Maimun Zubair atau Mbah Moen soal Kelahirannya, Ibunya Dulu Minum Air yang Diludahi 3 Kiai
• Bakal Dilaporkan ke Polisi, Babe Ridwan Saidi Minta Maaf Bikin Gaduh, Siap Datang Jika Diundang
• Bandar Narkoba di Surabaya Ditembak Mati Polisi, Terpaksa Dilenyapkan karena Tak Gubris Peringatan
Ia mengatakan, teknologi yang digunakan PLTU Cirebon Unit 2 merupakan yang terbaru.
Bahkan, kata Joseph, lebih canggih dibanding teknologi yang diterapkan di PLTU Cirebon Unit 1.
"Teknologi yang diterapkan di Unit 2 ini disebut ultra super critical," kata Joseph Pangalila.
Menurut dia, pembakaran batu bara menggunakan teknologi ultra super critical akan menggunakan temperatur yang lebih tinggi.
Karenanya, batubara yang menjadi bahan baku utama PLTU itupun akan habis terbakar.
"Emisi yang dihasilkan PLTU Unit 2 ini pastinya akan lebih bersih," ujar Joseph Pangalila.
Teknologi ultra super critical merupakan teknologi yang paling baru diterapkan di pembangkit listrik di Indonesia.
PLTU Cirebon Unit 2 yang ditargetkan mulai beroperasi Februari 2020 itu akan langsung menerapkan teknologi tersebut. (*)