Pemimpin Padepokan Kandang Wesi Nurseno Diperiksa Polisi 5 Jam,'Saya Bukan Raja, Cuma Pemangku Adat'

Nurseno menyebut polisi mengajukan sejumlah pertanyaan terkait Kandang Wesi. Serta sejumlah isu yang beredar di masyarakat.

Pemimpin Padepokan Kandang Wesi Nurseno Diperiksa Polisi 5 Jam,'Saya Bukan Raja, Cuma Pemangku Adat'
Tribun Jabar/Firman Wijaksana
Pemimpin PadepokanKandang Wesi, Nurseno SP Utomo menunjukkan salah satu medali penghargaan yang diberikan kepadanya di Kerajaan Kandang Wesi, Desa Tegalgede, Kecamatan Pakenjeng, Jumat (24/1/2020) 

Laporan Wartawan Tribun, Firman Wijaksana

TRIBUNCIREBON.COM, GARUT - Meski telah disebutkan jika Kandang Wesi bukan sebagai kerajaan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Garut, Nurseno SP Utomo tetap diperiksa oleh Polres Garut.

Kemarin malam, Nurseno memberi klarifikasi kepada Bakesbangpol. Ia menjelaskan mengenai isu yang berkembang seputar Kandang Wesi. Selama 1,5 jam, Nurseno menjelaskannya kepada Kepala Bakesbangpol Garut, Wahyudijaya.

Seusai memberikan klarifikasi kepada Bakesbangpol hingga pukul 20.30, Nurseno langsung menuju Mapolres Garut. Di Polres, ia sudah dinanti untuk memberikan keterangan.

Pemeriksaan kepada Nurseno langsung dilakukan oleh Kasatreskrim Polres Garut, AKP Maradona Armin Mappaseng. Sejak pukul 21.00, polisi mulai meminta keterangan kepada Nurseno.

Pemeriksaan baru berakhir pada Sabtu (25/1/2020), pukul 02.00. Selama lima jam, Nurseno menjelaskan pertanyaan yang diajukan polisi.

Nurseno menyebut, polisi mengajukan sejumlah pertanyaan terkait Kandang Wesi. Serta sejumlah isu yang beredar di masyarakat.

"Pemeriksaan berjalan santai dan tenang. Saya jawab pertanyaannya juga tidak tertekan," kata Nurseno usai diperiksa polisi.

Jokowi Puji Sandiaga Uno Setinggi Langit, Rocky Gerung Bilang Ada Maunya, Mau Melemahkan Anies

Penampilan Mulan Jameela Dikritik saat Rapat DPR, Saltum Celananya Disebut Kayak Mau Piknik

Omid Nazari Resmi Perpanjang Kontrak Satu  Musim di Persib Bandung, Siap Beri Prestasi Maung Bandung

Penjelasan yang ia sampaikan, tak jauh berbeda dengan yang dijelaskan kepada Bakesbangpol. Ia menilai, isu kerajaan yang menimpanya merupakan hal yang biasa.

"Ada hikmah di balik semua ini. Dari Bakesbangpol juga sudah menyatakan kalau hanya sebuah padepokan. Gelar raja itu karena saya sebagai pelestari budaya," ujarnya.

Halaman
1234
Editor: Machmud Mubarok
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved