Berita Jabar
Pabrik Sumpit di Tasikmalaya Digrebek, Diduga Produksi Obat Terlarang Jenis PCC
Pabrik Sumpit di Tasikmalaya Digrebek, Diduga Produksi Obat Terlarang Jenis PCC.
Dalam pesan yang didapatkan itu, disebutkan penggerekan dilakukan tim gabungan Dakjar BNN RI dan BNNP Jabar.
Modusnya memproduksi narkotika atau psikotropika disekitar pemukiman warga dengan menyamarkan sebagai tempat pembuatan sumpit dan tusuk sate.
Dalam laporan itu disebutkan pula dua orang berinisal JO dan satu lagi yang tak disebutkan namanya diamankan.
• Mendagri Tito Karnavian Kritik Gubernur Jakarta Anies Baswedan Sebut Jakarta Lebih Kampung Dari Ini
Disebutkan pula ditemukan sejumlah barang bukti di antaranya PCC siap edar, PCC siap cetak, bahan bahan pembuat PCC (masih dalam tahap penghitungan), 7 mesin cetakan obat dan Logo, 1 Oven (pemanas) dan bahan baku obat.
Satu orang yang diamankan itu yakni JO disebutkan sebagai penjaga pabrik yang merupakan asal Kebumen.
Namun kabar tersebut belum bisa dipastikan kebenarannya, karena hingga saat ini pihak BNN maupun kepolisian belum memberikan pernyataan secara resmi.
Kepala BNN Kota Tasikmalaya, Tuteng Budiman yang pada saat penggerebekan terlihat di lokasi enggan memberikan keterangan lebih lanjut.
Tuteng langsung meninggalkan lokasi sebelum memberikan pernyataan dan sedikit berujar.
Sosok Bos
Pemilik pabrik sumpit di Kampung Awilega RT 02 RW 08, Kelurahan Gunung Gede, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya yang digrebek BNN dan polisi Selasa (26/11/2019) Petang, sudah menyewa di sana selama dua tahun.
Hal tersebut diketahui dari pemilik lahan yakni Oding Rohendi (66) saat dijumpai.
Lahan seluas sekitar 1.232 meter persegi itu dikatakan Oding di sewa selama 5 tahun oleh JN yang diketahui asal Cilacap.
"Dikontrakan untuk dijadikan pabrik sumpit sudah 2 tahun terakhir. Kalau pabrik sumpit sudah beroperasi sejak 9 bulan karena sebelumnya direnovasi dahulu oleh penyewa," kata Oding saat ditemui di lokasi.
Selama beroperasi, Oding menyebut tidak ada aktivitas mencurigakan dari pabrik sumpit tersebut.
"Saya lihat normal-normal saja, Pukul 08.00 WIB masuk, kebanyakan perempuan pekerjanya, lalu pukul 16.00 WIB pulang," tuturnya.