Partai Gelora Resmikan Kepengurusan 27 DPD di Jawa Barat, Mayoritas Pengurus Mantan PKS

dalam waktu dekat pihaknya akan meluncurkan aplikasi digital untuk merekrut dan pendataan kadernya, tepatnya pada 16 Desember 2019.

Editor: Machmud Mubarok
Tribun Jabar/Gani Kurniawan
Ketua Umum Partai Gelora (Gelombang Rakyat) DPW Jawa Barat, Haris Yuliana berswafoto bersama jajaran pengurus pada acara Penyerahan SK Kepengurusan Partai Gelora Kepada 27 Ketua DPD Kabupaten/Kota Se-Jawa Barat di Jalan Cihampelas, Kota Bandung, Rabu (20/11/2019). Dengan penyerahan SK tersebut, menjadi landasan tugas setiap DPD untuk membentuk kepengurusan sampai tingkat paling bawah 

Laporan Wartawan Tribun, M Syarif Abdussalam

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Partai Gelora meresmikan kepengurusannya di Jawa Barat, ditandai dengan pemberian surat keputusan kepengurusan dari DPW Partai Gelora Provinsi Jawa Barat kepada 27 DPD kabupaten dan kota di Jawa Barat, di Bandung, Rabu (20/11).

Ketua DPW Partai Gelora Jawa Barat, Haris Yuliana, mengatakan penyerahan SK ini adalah tanda kehadiran partainya di Jawa Barat. Selanjutnya, setiap kabupaten dan kota membentuk kepengurusan partai di tingkat krcamatan.

"Penyerahan SK ini sekaligus menjadi landasan tugas bagi mereka untuk membentuk pengurus sampai tingkat paling bawah, mulai dari kecamatan di bawahnya," kata Haris melalui ponsel, Rabu (20/11).

Haris mengatakan belum mengetahui jumlah anggotanya yang resmi terdaftar. Namun, dengan terbentuknya pengurus di kabupaten dan kota, dia optimistis akan memiliki kader yang signifikan.

Terlebih, dalam waktu dekat pihaknya akan meluncurkan aplikasi digital untuk merekrut dan pendataan kadernya, tepatnya pada 16 Desember 2019.

Rumah Bilik Reyot Dirobohkan TNI Lalu Dibangun Lebih Layak, Buruh Tani Ini Tak Bisa Tidur Semalaman

TERBONGKAR Misteri Keberadaan Soeharto Saat Sejumlah Jenderal Dibantai Pada Peristiwa G30S/PKI

Disinggung mengenai sejumlah mantan kader Partai Keadilan Sejahtera yang hadir dalam kesempatan tersebut, Haris tidak menampiknya. Menurut Haris, tidaklah heran jika banyak mantan kader PKS yang kini berlabuh di partainya.

"Mayoritas mantan PKS. Di setiap kabupaten kota selalu ada mantan PKS. Memang ada konflik ideologis yang terjadi dengan PKS, yang membuat ada ketidaknyamanan dan kegelisahan dari sebagian kader," katanya.

H-2 Big Match Arema Fc vs Persija Jakarta, Macan Kemayoran Sesumbar Siap Taklukkan Arema di Malang

INI Sosok Syekh Abdul Rahman yang Makamnya Ditemukan di Kiajaran Wetan Indramayu,Sosok Tak Sembarang

Haris mengatakan walau demikian, Partai Gelora sangat berbeda dengan PKS. Dengan mengusung ideologi Islam Nasionalis, dia optimistis partainya akan dilirik banyak kalangan. 

Deddy Mizwar Bergabung

Aktor yang terkenal lewat film Naga Bonar, Deddy Mizwar, mengisyaratkan dirinya akan bergabung bersama Fahri Hamzah di Partai Gelora Indonesia.

Isyarat itu terlihat dalam cuitan di akun Twitter pribadinya.

"Gelora... Perjalanan Baru... Visi Baru... Arah Baru," ujar mantan Wakil Gubernur Jawa Barat itu dalam akun Twitter pribadinya, Rabu (6/11/2019).

Saat dikonfirmasi, Deddy Mizwar membenarkan hal tersebut. Namun pengumuman resmi disebut Deddy Mizwar akan disampaikan setelah deklarasi Partai Gelora 10 November 2019 mendatang.

 Desak PKS Segera Bayar Rp 30 Miliar ke Fahri Hamzah, Pengacara Pertanyakan Pengumpulan Koin

Lantas apa itu Partai Gelora?

Partai Gelora merupakan parta politik baru, yang merupakan akronim dari Partai Gelombang Rakyat.

Melansir dari Antaranews (10/09/2019), partai ini dibentuk Mantan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah yang kini tak berpartai setelah bersengketa dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Partai ini ditargetkan akan ikut kontestasi Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada 2020.

Fahri Hamzah menyebut anggota yang tergabung dalam Partai Gelora merupakan orang potensial menjadi kepala daerah sehingga dirinya yakin akan menang dalam kontestasi nanti.

Kepada Antara, Fahri Hamzah menyebut jika Partai Gelora dibentuk karena adanya permintaan dari para Anggota Ormas Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi) yang diinisiasinya bersama mantan Presiden PKS Anis Matta.

 Jelang Pilkada Makassar 2020, 2 Adik Menteri Pertanian Siap Maju Berebut Kursi

Selain dirinya dan Anis Matta, Fahri Hamzah menyampaikan terdapat beberapa anggota PKS yang ikut bergabung.

"Ya kalau anda lihat di Kaltim, Wakil Gubernur (Hadi Mulyadi), lalu di Jakarta juga kan banyak. Salah satu cagub berpotensi Tri Wisaksana," ujarnya.

Wawancara Khusus Anis Matta

 Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta menegaskan, partai pimpinannya tidak akan lagi memperdebatkan soal partai Islam atau soal partai Nasionalis.

Anis Matta memastikan Partai Gelora terbuka untuk seluru komponen bangsa.

Ia tak membantah, berdirinya Partai Gelora karena adanya konflik internal di Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Diutarakan Anis saat ditemui Tim Tribun Network di Hotel Park Regis Arion, Kemang, Jakarta Selatan.

Saat itu, Anis Matta tengah melaksanakan rapat bersama jajaran pimpinan Partai Gelora, yakni Wakil Ketua Umum Fachri Hamzah, Sekretaris Jenderal Mahfudz Siddiq, dan sejumlah pimpinan partai.

"Konflik di internal PKS memicu lebih cepat lahirnya atau keputusan untuk melahirkan satu partai baru," ujar Anis Matta kepada Tribun Network, Senin (11/11/2019) petang.

Tapi, menurut Anis, ada yang lebih penting, yakni bagaimana membangun semangat integrasi ke-Indonesiaan. Ia merasa di tataran nasional ada krisis narasi dan krisis kepemimpinan.

Anis Matta tidak ingin Partai Gelora terjebak dalam perdebatan yang tidak produktif, antara Nasionalis atau Islam.

Golongan Kiri atau Kanan.

"Kita ingin menghentikan perdebatan, bahwa Islam dan Nasionalis ini sudah selesai. Tapi untuk itu kita perlu membuka diri kita semuanya kepada seluruh komponen bangsa, dan mengajak seluruh komponen bangsa ini untuk terlibat," tuturnya.

"Jadi satu narasi besar yang diperlukan Indonesia adalah narasi yang mampu menyatukan seluruh komponen bangsa. Menyatukan elitenya untuk sama-sama memasuki gelombang baru dalam sejarah kita itu. Itu idenya yang paling fundamental," ujar Anis Matta.

Berikut Wawancara Eksklusif Tribun Network bersama Anis Matta:

Apa yang menjadi dasar berdirinya Partai Gelora?

Jadi saya tidak menafikan, tidak memungkiri, adanya konflik di internal PKS. Dan menjadi salah satu trigger lahirnya partai ini. Tapi sebenarnya akar pemikirannya sudah ada sejak lama bukan sebagai partai, tetapi sebagai narasi. Jadi ketika saya menulis buku Gelombang Ketiga tahun 2013 yang lalu. Ide-ide ini sudah kita kembangkan jauh. Ide-ide ke-Indonesiaan tentang narasi baru Indonesia sudah kita kembangkan. Tapi memang kemudian konflik di internal PKS memicu lebih cepat lahirnya atau keputusan untuk melahirkan satu partai baru.

Apa yang membedakan PKS dengan Partai Gelora?

Sebenarnya perbedaan utamanya itu pada semangat integrasi ke-Indonesiaan. Saya merasakan bahwa 10 tahun pertama dari 1998-2009 kita mengalami pergulatan demokrasi yang luar biasa intensnya. Tapi kemudian saya merasakan di tataran nasional ini ada krisis narasi. Saya kira juga krisis kepemimpinan karena itu kita di PKS ketika itu, terutama saya dan teman-teman ini, mulai mengalami pergulatan memikirkan tentang narasi baru Indonesia, maka lahirlah Gelombang Ketiga itu. Tapi sebenarnya kita tidak pernah menduga bahwa ini nanti ujungnya satu partai baru. Kita baru memutuskan membentuk partai baru, setelah berbagai upaya untuk menyelesaikan konflik di internal PKS itu tidak ada jalan lagi. Akhirnya baru kita melangkah untuk itu. Sebetulnya kita sempat berpikir bahwa narasi yang selama ini tetap bisa kita pakai di kendaraan yang lama, yaitu di PKS. Tetapi konflik ini tidak terbendung.

Artinya narasi yang ada di PKS saat ini, menurut Anda sudah melenceng? Anda ingin membawa partai ini berada di 'tengah'?

Menurut saya ada persoalan di internal, di institusi di PKS. Tetapi yang lebih penting menurut saya adalah kita tidak terintegrasi sepenuhnya dalam semangat ke-Indonesiaan itu yang menurut saya penting. Misalnya soal ide keterbukaan yang pernah kita buka dulu di Bali. Yang mendapatkan pertentangan luar biasa di dalam. Sehingga menurut saya bahwa, jika kita ingin menjadi kekuatan politik yang memimpin Indonesia, kita harus membuka diri terhadap seluruh kelompok, seluruh komponen bangsa yang ada di negeri kita ini. Karena itu ini ada persoalan. Bahwa kita tidak seutuhnya terintegrasi dengan Indonesia. Sehingga kalau Anda menanyakan apa perbedaannya, saya kira adalah pada keterbukaan. Karena itu di sini, azas yang kita pakai adalah Pancasila. Tetapi kita tetap menegaskan jati diri kita sebagai kekuatan Islam Politik. Sebab, kita tidak ingin terus menerus ada perdebatan yang tidak produktif, yaitu antara Islam dan Nasionalis. Kita ingin menghentikan perdebatan bahwa Islam dan Nasionalis ini sudah selesai. Tapi untuk itu kita perlu membuka diri kita semuanya kepada seluruh komponen bangsa, dan mengajak seluruh komponen bangsa ini untuk terlibat. Jadi satu narasi besar yang diperlukan Indonesia adalah narasi yang mampu menyatukan seluruh komponen bangsa. Menyatukan elitenya untuk sama-sama memasuki gelombang baru dalam sejarah kita itu. Itu idenya yang paling fundamental.

Ada 99 deklarator. Siapa-siapa saja public figure yang ikut membidangi organisasi ini?

Saya kira sebagian besarnya sudah Anda ketahui. Ada Pak Fachri Hamzah sebagai Wakil Ketua Umum, ada Pak Mahfudz Siddiq sebagai Sekretaris Jenderal, ada Pak Ahmad Riyaldi sebagai Bendahara Umum. Saya kira banyak ya.

Apakah Anda yakin akan menggerus akar rumput PKS? Kemudian bergabung ke Partai Gelora?

Kita membuka untuk seluruh komponen bangsa terlibat di sini. Karena itu kehadiran kami tidak perlu diartikan sebagai ancaman bagi yang lain. Tidak perlu. Tapi kita ingin semua komponen bangsa terlibat. Kanan, tengah, kiri, bisa terlibat di sini. Tua, muda, semua terlibat di sini.

Dokumen osan-osin, bagaimana tanggapan Anda?

Ini bagian dari konflik lama, yang saya kira sudah kita lupakan. Sekarang kita menata gerakan baru yang mudah-mudahan tidak terpengaruh oleh konflik-konflik yang sudah selesai. Kita sudah lupakan itu.

Pasca deklarasi nanti, apa langkah pertama kali yang akan diambil Partai Gelora?

Sekarang kita fokus dulu, daftar dulu. Jangan terlalu serius. Fokus dulu persoalan teknis, selesaikan administrasi di notaris dan Kemenkumham. Ini masih perlu 2-3 bulan. Kalau ini sudah selesai baru kita pikirkan apa yang akan kita lakukan agenda selanjutnya. Yang pasti, tujuan kita, Insha Allah bisa ikut Pemilu 2024. Syukur-syukur Pilkada 2020 kita bisa juga ambil bagian. Tapi fokus utama kami Pemilu 2024.

Anda mempersiapkan kader Partai Gelora untuk ikut Pilkada serentak 2020?

Kita akan berusaha Insha Allah untuk ikut dalam Pilkada, walaupun kami punya hak untuk mengusung ya karena partai baru. Tapi kita akan berusaha untuk ikut. Tapi fokus utama kami nanti, tentu Pemilu 2024.

Kenapa Anda memberi nama Partai Gelombang Rakyat Indonesia?

Pertama saya ingin menjelaskan kata rakyatnya dulu. Filosofinya adalah kita ingin menjadikan rakyat sebagai pelaku sejarah. Tapi supaya dia menjadi pelaku sejarah, dia mesti punya energi. Karena itu, kita menggunakan kata Gelombang. Gelombang itu adalah isyarat tentang energi. Daya perubahan yang mendalam. Sebab tujuan kami menciptakan deep change. Perubahan yang dalam, dalam tubuh masyarakat kita. Cuma kita ingin menjadikan rakyat sebagai pelaku utamanya. Tapi dia harus memiliki energi yang dahsyat untuk melakukan perubahan itu. Itu filosofi utamanya. Karena itu Anda melihat, logo gelombang yang mewakili energi dan semangat perubahan yang mendalam dan fokus yang tajam.

Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap partai politik terus tergerus, bagaimana Partai Gelora melihat fenomena ini?

Saya kira publik sekarangi ini punya alasan untuk tidak terlalu percaya kepada partai politik. Sebagian besarnya karena kegelisahan mereka tidak terwakili dalam narasi partai-partai itu. Karena itu kita berusaha di Partai Gelombang Rakyat Indonesia ini, untuk mencoba merekam kegelisahan publik yang sesungguhnya. Dan membawanya ke dalam agenda strategis kita nanti. Walaupun kami punya visi besar tentang gelombang sejarah baru Indonesia ke depan. Tetapi kita juga perlu merekam kegelisahan publik itu. Dan  saya kira visi ini, sebagian besar, dan saya rasa sudah mewakili sebagian kegelisahan publik itu. Karena visi ini, kita susun setelah melalui survei yang lama, continue sejak 2008-2009, saya mulai melakukan survei ini secara mendalam. Juga melakukan diskusi yang intensif sekali. Saya percaya ide-ide yang kita bawa ini adalah hasil rekaman terhadap kegelisahan publik itu. Indonesia ini, pantas menjadi kekuatan kelima dunia. Tapi kita tidak membawa kegelisahan publik itu ke dalam suatu tindakan nyata atau agenda strategis yang membuat publik percaya bahwa mereka bisa lompat, bisa terbang, itu sebabnya kita selalu terpuruk lagi ke dalam masalah-masalah yang sebenarnya seharusnya sudah kita lalui, tapi tidak kita selesaikan karena kita tidak punya narasi besar itu. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved