POLISI Ungkap Fakta Kasus Pembunuhan Bocah di Sukabumi, Ibu Berhubungan Badan Dulu dengan Anaknya

Rekonstruksi tertutup tersebut berisi 34 adegan dan dilakukan di kantor Polres Sukabumi Kota.

POLISI Ungkap Fakta Kasus Pembunuhan Bocah di Sukabumi, Ibu Berhubungan Badan Dulu dengan Anaknya
Tribun Jabar/Ferri Amiril
Keluarga psikopat di Sukabumi yang memperkosa dan membunuh bocah 5 tahun saat ekspos di Polres Sukabumi, Selasa (24/9/2019). 

TRIBUNCIREBON.COM, CIANJUR - Polres Sukabumi Kota menggelar rekonstruksi tertutup kasus pembunuhan dan pemerkosaan anak di bawah umur NP (5) yang yang melibatkan tersangka Ibu angkat korban SR (39) dan dua anak kandung laki-laki yakni RG (16) dan R (14), Senin (30/9/2019).

Rekonstruksi tertutup tersebut berisi 34 adegan dan dilakukan di kantor Polres Sukabumi Kota.

Turut hadir dalam rekonstruksi tersebut pihak Kejaksaan Negeri Sukabumi Kota.

Kapolres Sukabumi Kota, AKBP Wisnu Prabowo mengatakan, rekonstruksi dilakukan di Polres Sukabumi Kota mengingat di tempat kejadian perkara (TKP) tidak kondusif untuk melakukan rekonstruksi.

"Rekonstruksi dilakukan secara tertutup karena dua orang tersangka pelaku merupakan anak di bawah umur dan dilindungi oleh Undang-undang," kata Wisnu seusai rekonstruksi, di Polres Sukabumi Kota.

Wisnu mengatakan, berdasarkan hasil rekonstruksi terungkap bahwa korban dibuang oleh ketiga orang tersangka pada adegan ke 22.

Pihaknya menyebut tak ada fakta baru dalam kasus tersebut namun diketahui sebelum melakukan pembunuhan para tersangka yang terdiri dari ibu dan anak ini melakukan hubungan badan sedarah (inses) terlebih dahulu.

"Korban dibunuh setelah melakukan hubungan sedarah. Mayat korban dibuang oleh ketiga orang tersangka secara bersama-sama, dengan cara didorong ke sungai," katanya.

Kapolres mengatakan, adanya perilaku hubungan sedarah didorong atas keinginan ibu dari tersangka.

Pelaku mengaku kurang dinafkahi secara lahir dan batin dari suaminya. sehingga melampiaskan kepada anak kandungnya.

"Dalam kasus ini tersangka yang merupakan ibunya akan dikenakan pasal berlapis yakni pasal 81 Undang-undang RI no 17 tahun 2016," ujarnya.

Lebih jauh Wisnu membeberkan, pelaku bisa dijerat hukuman seumur hidup sebab Komisi Perlindungan anak (KPA) merekomendasikan pelaku untuk dihukum seumur hidup.

"Bisa dilapis memang dengan ancaman hukuman seumur hidup," katanya.(fam)

Editor: Fauzie Pradita Abbas
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved