Breaking News:

Berkah dari Waduk Saguling yang Kering, Warga Ciminyak Bisa Panen Padi Hingga 3 Ton

padi yang ditanam merupakan padi pendek yang bisa dipanen dengan waktu 3 hingga 4 bulan.

Editor: Machmud Mubarok
Tribun Jabar/Hilman Kamaludin
Warga Ciminyak dan sekitarnya memanfaatkan lahan Waduk Saguling yang mengering karena kemarau sebagai sawah dan menanaminya dengan padi dan palawija, Rabu (25/9/2019). 

Penggarap lahan pertanian yang lainnya, Ening (45) mengatakan, ketika dirinya menggarap lahan milik orang lain, ia mengetahui dari tiga petak sawah yang ukurannya cukup luas bisa panen padi hingga 3 ton.

"Tapi kalau di lahan ini tidak sampai segitu, tergantung banyak atau tidaknya menanam padi. Kalau bibit yang ditanam banyak pasti hasilnya juga banyak," kata dia.

Rumah Makan Terapung Sepi

Akibat Waduk Saguling yang berada di wilayah Kampung Ciminyak, Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengering, membuat rumah makan terapung hanya terdampar dan sepi pengunjung.

Biasanya ketika Waduk Saguling ini, kondisi airnya normal, rumah makan terapung ini berada di atas air layaknya perahu yang bisa memanjakan pengunjung dengan pemandangan Waduk Saguling.

Namun, saat ini tidak ada aktivitas apapun di atas rumah makan terapun ini karena pengunjungnya sudah mulai sepi karena Waduk Saguling pun saat ini dimanfaatkan untuk bercocok tanam.

Rumah makan terapung terdampar di tepi Waduk Saguling, Kampung Ciminyak, Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), yang mengering akibat kemarau panjang, Rabu (25/9/2019).
Rumah makan terapung terdampar di tepi Waduk Saguling, Kampung Ciminyak, Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), yang mengering akibat kemarau panjang, Rabu (25/9/2019). (Tribun Jabar/Hilman Kamaludin)

Rumah makan terapung ini memiliki dua bangunan yang dipasangi beberapa pelampung dari tong plastik. Sedangkan pada bagian tengahnya terdapat kolam untuk menampung ikan.

"Kadang sehari itu enggak ada yang makan, sehingga pendapatan pun sangat menurun drastis," ujar pemilik rumah makan terapung, Yanto Hermansyah (50) di Waduk Saguling, Rabu (25/9/2019).

Namun ia enggan menyebut secara detail besaran omzetnya itu. Hanya saja untuk saat ini untuk menambah pemasukan, ia menanam tanaman palawija di samping rumah makan terapungnya itu.

"Kalau keringnya sampai bulan Desember mungkin bisa dipanen, sekarang saya hanya berdoa sajalah semoga diberikan yang terbaik," katanya.

Saat ini, kedalaman air di Waduk Saguling ini telah menyusut sekitar 15 hingga 20 meter dari ketinggian muka air normal, sehingga sangat berdampak pada pengahasilan pemilik rumah makan terapung itu.

"Untuk sekarang jarang ada yang datang untuk makan disini, tapi kalau airnya normal biasanya ramai. Tapi kami akan tetap mencoba untuk bertahan saja," katanya. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved