Berita Cirebon Hari Ini

Tak Perlu Modal Besar, Program ‘Tani Ternak Satu Padu’ Ubah Cara Bertani di Cirebon

Tribun Cirebon/Eki Yulianto
PERTANIAN TERPADU - Potret pekarangan kantor DKPPP Kota Cirebon yang disulap jadi area pertanian dengan konsep sistem pertanian terpadu atau integrated farming, mulai dari tanaman, ternak hingga limbah, dikelola dalam satu siklus yang saling mendukung 

Ringkasan Berita:
  • Program 'Tani Ternak Satu Padu', Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kota Cirebon menghadirkan konsep baru yang mengubah cara bertani menjadi lebih efisien, bahkan mendekati nol biaya produksi
  • Program ini mengusung sistem pertanian terpadu atau integrated farming, di mana seluruh komponen

 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto


TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON- Tak perlu modal besar untuk bertani, melalui program 'Tani Ternak Satu Padu', Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kota Cirebon menghadirkan konsep baru yang mengubah cara bertani menjadi lebih efisien, bahkan mendekati nol biaya produksi.


Program ini mengusung sistem pertanian terpadu atau integrated farming, di mana seluruh komponen, mulai dari tanaman, ternak hingga limbah, dikelola dalam satu siklus yang saling mendukung.


Kepala Bidang Pertanian dan Peternakan DKPPP Kota Cirebon, Kukuh Gunatama mengatakan, konsep tersebut dirancang untuk menekan biaya produksi petani dengan memaksimalkan potensi yang ada di sekitar.

Baca juga: 3 ASN Pemkot Bandung Terdeteksi Berada di Luar Kota Saat WFH, Ada yang ke Majalengka


“Jadi, peta pertanian dan peternakan yang nol rupiah modalnya. Artinya, pemanfaatan integrated farming. Mulai dari dagingnya bisa dimanfaatkan, terus sayurannya bisa dimanfaatkan,” ujar Kukuh saat diwawancarai di kantornya, Senin (13/4/2026).


Menurutnya, dalam sistem ini, kebutuhan pakan hingga pupuk tidak lagi bergantung pada pembelian dari luar.


Semua bisa dipenuhi dari hasil usaha pertanian itu sendiri.


“Untuk pakannya juga; untuk pakan ayam bisa dari sayuran, untuk pupuk tanamannya juga bisa dari kotoran. Artinya, petani-peternak itu dalam usaha pertaniannya mengurangi biaya produksi. Syukur-syukur bisa zero (nol),” ucapnya.


Tak hanya itu, program ini juga mendorong pemanfaatan sampah rumah tangga sebagai bagian dari siklus produksi.


Limbah yang sebelumnya tidak terpakai kini justru menjadi sumber daya baru.


“Poktan seperti Hortipark Agrigardina (di Kelurahan Kalijaga) itu sudah mulai berjalan. Bahkan mereka juga menyerap sampah rumah tangga di sekitar. Karena di sana sudah ada ayam, jadi sampah itu bisa jadi pakan. Sisanya digiling dan dijadikan kompos,” jelas dia.


Dalam praktiknya, satu kawasan pertanian bisa menggabungkan berbagai komoditas sekaligus.


Mulai dari peternakan ayam kampung, budidaya ikan seperti nila dan lele, hingga tanaman hortikultura dan buah-buahan.

Baca juga: Selangkah Lagi! FCTM Bongkar Agenda Besar 2026, Cirebon Timur Makin Dekat Jadi Daerah Otonom


“Di sana ada ayam kampung, ikan nila, sama lele. Lalu ada sayur-sayuran hortikultura, dan buah-buahan seperti pisang juga sudah ada,” katanya.