Jumat, 5 Juni 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

Ramadan

Simak Jadwal Shalat Tarawih Pertama Ramadhan 1447 H

Dalam hitungan hari, umat Islam di seluruh dunia akan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Tayang:
Tribunjabar.id/Fauzi Noviandi
Puluhan warga korban gempa Cianjur saat melaksaan sholat tarawih berjamaah di masjid darurat, Rabu (22/3/2023). 

TRIBUNCIREBON.COM - Salat tarawih pertama pada tahun 2026 ini akan bersamaan dengan dimulainya 1 Ramadhan 1447 H.

Dalam hitungan hari, umat Islam di seluruh dunia akan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Selama satu bulan penuh, umat Islam yang tergolong mampu wajib melaksanakan puasa setiap hari dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Selain berpuasa, amalan ibadah yang khusus dilakukan saat bulan Ramadhan lainnya adalah salat tarawih.

Salat tarawih adalah salat sunnah yang dilakukan setiap malam sepanjang bulan Ramadhan.

Lantas, kapan salat tarawih pertama Ramadhan 2026?

Tahun ini, Ramadan 1447 H bertepatan dengan pertengahan Februari 2026, lebih cepat dibandingkan Ramadan tahun sebelumnya.

Perbedaan ini merupakan konsekuensi dari sistem kalender Hijriah yang hanya berjumlah 354 hari, lebih pendek dibanding kalender Masehi yang terdiri dari 365 hari.

Berdasarkan prediksi pemerintah dalam kalender yang dirilis oleh Kementerian Agama (Kemenag), 1 Ramadhan 1447 H pada 19 Februari 2026.

Namun, pemerintah baru akan menetapkan tanggal pasti jatuhnya 1 Ramadhan setelah menggelar rukyatul hilal dan sidang isbat yang digelar beberapa hari sebelumnya atau pada akhir bulan Syaban.

Artinya, salat tarawih pertama diperkirakan jatuh pada 18 Februari 2026 malam.

Sementara, organisasi Islam Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H melalui Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 bahwa pada 18 Februari 2026.

Berdasarkan maklumat tersebut, salat tarawih pertama akan dilaksanakan pada 17 Februari 2026 malam.

Baca juga: Jelang Ramadan, Petilasan Prabu Siliwangi di Kuningan Banyak Dikunjungi Peziarah

Metode Penetapan 1 Ramadan

Adapun, perbedaan tanggal ini mengacu pada dua metode penetapan 1 Ramadhan yang berbeda.

Pemerintah menggunakan metode rukyatul hilal, sementara Muhammadiyah menggunakan metode hisab atau perhitungan astronomis.

Dilansir dari laman baznas.go.id, rukyatul hilal memiliki makna melihat dengan mata adanya bulan sabit.

Penentuan puasa awal Ramadhan dengan metode ini berdasar pada penglihatan dan pengamatan bulan secara langsung yang berbentuk sabit atau belum terlihat bulat dari bumi.

Dalil terkait penggunaan metode ini terdapat pada surat Al-Baqarah ayat 185, Allah SWT berfirman:

Artinya: "Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan tersebut."

Bulan yang dimaksud adalah bulan sabit muda sangat tipis pada fase awal bulan baru. Bulan inilah yang disebut dengan hilal.

Pengamatan hilal tersebut dilakukan pada  hari ke-29 atau malam ke-30, dari bulan yang sedang berjalan. Bila malam tersebut hilal sudah terlihat, maka malam itu sudah dimulai bulan baru.

Namun jika hilal tidak terlihat,  maka malam itu adalah tanggal 30 bulan yang sedang berjalan. Malam berikutnya dimulai tanggal satu bagi bulan baru atas dasar istikmal (digenapkan). 

Sementara, metode hisab adalah penentuan awal Ramadhan berdasarkan perhitungan astronomis.

Metode ini meyakini adanya hilal meskipun tidak terlihat dengan mata telanjang selama memenuhi kriteria tertentu. 

Tiga syarat kriteria dalam penentuan hilal dengan metode ini di antaranya:

Telah terjadi ijtimak (konjungsi)
Ijtimak (konjungsi) itu terjadi sebelum matahari terbenam. 
Pada saat terbenamnya matahari piringan atas bulan berada di atas ufuk (bulan baru telah wujud).
Ketiga kriteria tersebut harus terpenuhi untuk menandakan telah masuk dalam awal bulan hijriyah. 

Namun dengan catatan, bila menggunakan metode hisab hakiki kriteria ijtimak sebelum gurub (al-ijtima qabla al-gurub), tidak perlu lagi mempertimbangkan keberadaan bulan saat matahari terbenam di atas ufuk atau bukan.

Dalil terkait penggunaan metode hisab sebagai penentuan awal bulan hijriah terdapat pada surat Ar Rahman ayat 5, yakni:

Baca juga: Jadwal Puasa Ramadan 2026, Cek Tanggalnya dari Pemerintah-Muhammadiyah

"Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan."

Selain itu, terdapat pula pada surat Yunus ayat 5 yang berbunyi:

"Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-temat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun perhitungan (waktu)".

Kemudian, ada pula dalam hadis Bukhari dan Muslim:

"Apabila kamu melihat hilal berpuasalah, dan apabila kamu melihatnya ber-idul fitrilah. Jika bulan terhalang oleh awan terhadapmu, maka estimasikanlah."

"Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Maksudnya adalah kadang-kadang dua puluh sembilan hari, dan kadang-kadang tiga puluh hari."

 

Sumber: Tribun Cirebon
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved