Rabu, 6 Mei 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

Berita Indramayu Hari Ini

Harga Solar Nonsubsidi Melejit, Nelayan di Indramayu Pilih Memarkirkan Kapal

Dampak melejitnya harga solar nonsubsidi mulai dirasakan nelayan di Kabupaten Indramayu.

Tayang:
Tribuncirebon.com/Handhika Rahman
KAPAL NELAYAN - Kapal-kapal nelayan yang pulang kampung ke Pelabuhan Karangsong Indramayu, Kamis (27/3/2025). Dampak melejitnya harga solar nonsubsidi mulai dirasakan nelayan di Kabupaten Indramayu. Saat ini ratusan kapal nelayan di tidak beroperasi 
Ringkasan Berita:
  • Dampak melejitnya harga solar nonsubsidi yang kini mencapai Rp 27 ribu perliter dari Rp 16 ribu per liter tampaknya mulai dirasakan nelayan di Kabupaten Indramayu
  • Ketua Umum Gerakan Nelayan Pantura (GNP), Kajidin, mengatakan, saat ini ratusan kapal nelayan tidak beroperasi
  • Kapal-kapal tersebut hanya terparkir di Pelabuhan Karangsong, Kabupaten Indramayu

 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Ahmad Imam Baehaqi


TRIBUNCIREBON.COM, INDRAMAYU - Dampak melejitnya harga solar nonsubsidi yang kini mencapai Rp 27 ribu perliter dari Rp 16 ribu per liter tampaknya mulai dirasakan nelayan di Kabupaten Indramayu.


Ketua Umum Gerakan Nelayan Pantura (GNP), Kajidin, mengatakan, saat ini ratusan kapal nelayan tidak beroperasi, dan hanya terparkir di Pelabuhan Karangsong, Kabupaten Indramayu.


Menurut dia, kondisi yang telah berlangsung dalam dua bulan terakhir tersebut disebabkan tingginya harga solar nonsubsidi yang menjadi bahan bakar kapal nelayan untuk mencari ikan di laut.

Baca juga: Bunda PAUD Majalengka Luncurkan SAE Ceria, Anak-anak Bisa Belajar Sejarah Lewat Animasi


"Kenaikan harga solar nonsubsidi yang sangat tinggi membuat nelayan tidak bisa melaut, karena tidak bisa membelinya," kata Kajidin kepada Tribuncirebon.com, Rabu (6/5/2026).


Karenanya, saat ini tidak sedikit nelayan yang memilih untuk memarkirkan kapalnya di pelabuhan akibat tingginya harga solar nonsubsidi yang membuat biaya operasional untuk melaut membengkak.


Sementara Ketua Koperasi Perikanan Laut (KPL) Mina Sumitra Karangsong, Suwarto, menyampaikan, jumlah kapal yang biasa beroperasi di Pelabuhan Karangsong, Kabupaten Indramayu, mencapai 600-an unit.


Dari jumlah tersebut, terdapat 300-an kapal yang bobotnya lebih dari 30 gross ton (GT) dan menggunakan solar nonsubsidi, sedangkan sisanya merupakan kapal berbobot di bawah 30 GT atau pengguna solar bersubsidi.


Pihaknya mencatat, dari 300-an kapal berbobot di atas 30 GT dan menggunakan bahan bakar solar nonsubsidi itu terdapat lebih dari 100-an kapal yang tidak beroperasi sejak akhir Maret 2026.

Baca juga: Tambah Kuota Solar di Cirebon, Ini Imbauan Pertamina Untuk Nelayan dan Pengusaha Kapal


"Setiap kapal rata-rata memiliki 15 hingga 17 ABK, sehingga jika ada ratusan kapal tidak melaut maka diperkirakan jumlah ABK yang menganggur mencapai ribuan orang," ujar Suwarto.


Suwarto menyampaikan, kapal-kapal yang telah melaut itu berangkat sebelum harga solar nonsubsidi naik signifikan seperti sekarang, sehingga biaya operasional untuk bahan bakarnya relatif masih terkaver.


"Sisanya masih di laut, dan ketika pulang juga diprediksi tidak bisa melaut lagi, karena biaya operasionalnya membengkak akibat tingginya harga solar nonsubsidi," kata Suwarto.

Sumber: Tribun Cirebon
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved