Berita Indramayu Hari Ini
Harga Solar Nonsubsidi Melejit, Nelayan di Indramayu Pilih Memarkirkan Kapal
Dampak melejitnya harga solar nonsubsidi mulai dirasakan nelayan di Kabupaten Indramayu.
Penulis: Ahmad Imam Baehaqi | Editor: Mutiara Suci Erlanti
Ringkasan Berita:
- Dampak melejitnya harga solar nonsubsidi yang kini mencapai Rp 27 ribu perliter dari Rp 16 ribu per liter tampaknya mulai dirasakan nelayan di Kabupaten Indramayu
- Ketua Umum Gerakan Nelayan Pantura (GNP), Kajidin, mengatakan, saat ini ratusan kapal nelayan tidak beroperasi
- Kapal-kapal tersebut hanya terparkir di Pelabuhan Karangsong, Kabupaten Indramayu
Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Ahmad Imam Baehaqi
TRIBUNCIREBON.COM, INDRAMAYU - Dampak melejitnya harga solar nonsubsidi yang kini mencapai Rp 27 ribu perliter dari Rp 16 ribu per liter tampaknya mulai dirasakan nelayan di Kabupaten Indramayu.
Ketua Umum Gerakan Nelayan Pantura (GNP), Kajidin, mengatakan, saat ini ratusan kapal nelayan tidak beroperasi, dan hanya terparkir di Pelabuhan Karangsong, Kabupaten Indramayu.
Menurut dia, kondisi yang telah berlangsung dalam dua bulan terakhir tersebut disebabkan tingginya harga solar nonsubsidi yang menjadi bahan bakar kapal nelayan untuk mencari ikan di laut.
Baca juga: Bunda PAUD Majalengka Luncurkan SAE Ceria, Anak-anak Bisa Belajar Sejarah Lewat Animasi
"Kenaikan harga solar nonsubsidi yang sangat tinggi membuat nelayan tidak bisa melaut, karena tidak bisa membelinya," kata Kajidin kepada Tribuncirebon.com, Rabu (6/5/2026).
Karenanya, saat ini tidak sedikit nelayan yang memilih untuk memarkirkan kapalnya di pelabuhan akibat tingginya harga solar nonsubsidi yang membuat biaya operasional untuk melaut membengkak.
Sementara Ketua Koperasi Perikanan Laut (KPL) Mina Sumitra Karangsong, Suwarto, menyampaikan, jumlah kapal yang biasa beroperasi di Pelabuhan Karangsong, Kabupaten Indramayu, mencapai 600-an unit.
Dari jumlah tersebut, terdapat 300-an kapal yang bobotnya lebih dari 30 gross ton (GT) dan menggunakan solar nonsubsidi, sedangkan sisanya merupakan kapal berbobot di bawah 30 GT atau pengguna solar bersubsidi.
Pihaknya mencatat, dari 300-an kapal berbobot di atas 30 GT dan menggunakan bahan bakar solar nonsubsidi itu terdapat lebih dari 100-an kapal yang tidak beroperasi sejak akhir Maret 2026.
Baca juga: Tambah Kuota Solar di Cirebon, Ini Imbauan Pertamina Untuk Nelayan dan Pengusaha Kapal
"Setiap kapal rata-rata memiliki 15 hingga 17 ABK, sehingga jika ada ratusan kapal tidak melaut maka diperkirakan jumlah ABK yang menganggur mencapai ribuan orang," ujar Suwarto.
Suwarto menyampaikan, kapal-kapal yang telah melaut itu berangkat sebelum harga solar nonsubsidi naik signifikan seperti sekarang, sehingga biaya operasional untuk bahan bakarnya relatif masih terkaver.
"Sisanya masih di laut, dan ketika pulang juga diprediksi tidak bisa melaut lagi, karena biaya operasionalnya membengkak akibat tingginya harga solar nonsubsidi," kata Suwarto.
| Atasi Banjir di Wilayah Perkotaan, DPUPR Indramayu Normalisasi Irigasi di Jalan Talang Tembaga |
|
|---|
| Gandeng TNI, Damkar Indramayu Percepat Respons Penanggulangan Kebakaran |
|
|---|
| Inovasi Program Reang Belajar Desa Krasak Berhasil Tekan Angka Anak Tidak Sekolah di Indramayu |
|
|---|
| Semua Kader Didorong Unjuk Gigi, PKB Optimis Tatap Target 15 Kursi DPRD Indramayu |
|
|---|
| Sejumlah Upaya Pemkab Indramayu Untuk Tingkatkan Kunjungan Wisata, Salah Satunya Promosi Digital |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/cirebon/foto/bank/originals/KAPAL-NELAYAN-Kapal-kapal-nelayan-yangsqq.jpg)