Banjir Rob di Cirebon
Kuwu Ambulu Cirebon: Penyakit Terbesar Warga Bukan Gatal, Tapi Mental yang Terus Diteror Rob
Selama tiga tahun terakhir, banjir rob yang terus datang hampir setiap hari bukan hanya merendam rumah dan melumpuhkan aktivitas ekonomi
Penulis: Eki Yulianto | Editor: Mutiara Suci Erlanti
Ringkasan Berita:
- Tak ada lagi malam-malam yang benar-benar tenang bagi warga pesisir Desa Ambulu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon
- Selama tiga tahun terakhir, banjir rob yang terus datang hampir setiap hari bukan hanya merendam rumah dan melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat
- Banjir rob juga perlahan mulai menggerus kondisi psikologis warga
Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON- Tak ada lagi malam-malam yang benar-benar tenang bagi warga pesisir Desa Ambulu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon.
Selama tiga tahun terakhir, banjir rob yang terus datang hampir setiap hari bukan hanya merendam rumah dan melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi perlahan mulai menggerus kondisi psikologis warga yang hidup dalam ancaman air laut tanpa kepastian kapan bencana itu akan berakhir.
Kuwu Ambulu, Sunaji, bahkan menyebut penyakit terbesar yang kini dirasakan masyarakat bukan lagi sekadar gatal atau penyakit kulit akibat genangan air laut, melainkan tekanan mental karena terus hidup dalam kecemasan menghadapi rob.
Baca juga: 3 Tahun Tidur di Atas Air, Kisah Keluarga di Cirebon yang Rumahnya Tak Pernah Kering dari Banjir Rob
“Biasanya sih gatal. Tapi gatal itu, mau gatal mau korengan, itu sebetulnya penyakit yang kita anggap kecil. Tapi penyakit yang terbesar itu penyakit mental,” ujar Sunaji saat diwawancarai, Selasa (26/5/2026) malam.
Menurut dia, warga kini hidup dalam ketakutan setiap hari karena banjir rob datang tanpa bisa diprediksi seperti tahun-tahun sebelumnya.
Masyarakat harus selalu bersiap mengangkat barang-barang rumah tangga ketika air laut mulai masuk ke permukiman mereka.
“Karena mereka begitu stresnya U, ‘Oh, nanti jam sekian ada banjir rob.’ Mereka mesti mengangkat barang. Tidurnya pun tidak nyaman,” ucapnya.
Sunaji menuturkan, kondisi mental masyarakat yang terus tertekan juga mulai berdampak terhadap aktivitas pendidikan anak-anak di wilayah pesisir.
Apalagi, banjir rob kerap datang pada jam-jam masyarakat beraktivitas pada malam hari.
“Nah, ini yang menarik dan harus jadi perhatian bersama. Air rob itu datangnya persis mulai mengalir antara jam 5 sampai jam 10 malam. Puncaknya biasanya jam 8 malam,” jelas dia.
Menurut dia, waktu tersebut merupakan jam-jam penting ketika anak-anak belajar dan mengaji.
Namun suasana itu kini berubah sejak rob terus datang hampir setiap hari.
“Nah, puncak itulah kan puncaknya orang mengaji, orang belajar, orang hilir mudik. Ketika itu terjadi banjir, aktivitas pastinya menurun dan mental semangat untuk mengaji dan belajar itu pasti terganggu,” katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/cirebon/foto/bank/originals/BANJIR-ROB-Kuwu-Ambulu-Cirebon-Sunaji-buka-suara-soal-banjir-rob-di-wilayahnyaV.jpg)