G30S PKI

Ini Alasan Soeharto Tak Masuk Daftar Jenderal yang Dijemput Cakrabirawa pada Pemberontakan G30S/PKI

Sering menjadi pertanyaan dalam peristiwa G30SPKI adalah kenapa Soeharto lolos dari pembantaian PKI

Kolase tribunwow.com
Ini Alasan Soeharto Tak Masuk Daftar Jenderal yang Dijemput Cakrabirawa pada Pemberontakan G30S/PKI 

Namun ada faksi-faksi yang justru anti terhadap PKI.

Baca juga: Jadwal Keberangkatan Kereta Pasundan Hari Ini 22 September 2024, Relasi Surabaya Gubeng-Kiaracondong

Setelah Perang Dunia II berakhir pada 1945, negara-negara pemenang saling bersaing memperebutkan pengaruh.

Di berbagai negara, persaingan yang dikenal dengan Perang Dingin ini membelah dunia menjadi dua.

Misalnya  Uni Soviet dengan paham komunisnya. Dan ada Amerika Serikat dengan paham kapitalisnya.

Di tahun 1960-an, Sukarno dan PKI condong ke Uni Soviet dan antibarat.

Sedangkan Dewan Jenderal diyakini sejalan dengan Amerika Serikat yang ingin menyingkirkan Sukarno.

Dari keyakinan ini, para perwira militer yang loyal kepada Sukarno bergerak secara diam-diam untuk mencegah kudeta.

Baca juga: Pertamax Turun Harga? Segini Harga Pertamina Non Subsidi di Jabar Hari Ini 22 September 2024

Diantaranya Kolonel Abdul Latief (Komandan Garnisun Kodam Jaya), Letkol Untung (Komandan Batalion Pasukan Pengawal Presiden Cakrabirawa), dan Mayor Sujono (Komandan Resimen Pasukan Pertahanan Pangkalan di Halim).

Mereka mendapat dukungan  Sjam Kamaruzaman, Kepala Biro Chusus (BC) PKI yang merupakan badan intelijen PKI. Daftar jenderal yang jadi sasaran disusun oleh Sjam bersama para perwira militer.

Simpatisan pro PKI itu berencana "menculik" para jenderal dan membawanya ke hadapan Presiden Sukarno.

Ternyata rencana ini gagal total. Persiapan tidak dilakukan dengan matang. Para jenderal malah dibunuh.

Baca juga: Terbelah 116,78 Km, 12 Desa di Kecamatan Kalitidu Bojonegoro Terbeton Tol Senilai 23,797 Miliar

Di mana Soeharto?

Dalam kesaksiannya kepada Mahkamah Militer, Latief bercerita alasannya tidak memasukkan nama Soeharto. "...karena kami anggap Jenderal Soeharto loyalis Bung Karno, maka tidak kami jadikan sasaran," kata Latief seperti dikutip dari buku Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan, dan Petualang (2010).

 Latief juga melapor ke Mayjen Soeharto yang kala itu menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat.

Langkah mengejutkan ini  dilakukan Latief setelah laporannya tak ditanggapi oleh Pangdam Jaya Mayjen Umar Wirahadikusumah dan Pangdam Brawijaya Mayjen Jenderal Basoeki Rachmat.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved