Breaking News:

Sosok

SOSOK Al Habib Umar bin Thoha bin Yahya di Indramayu, Dijuluki Asadullah, Dikawal Singa dan Harimau

Al Habib Umar bin Thoha bin Yahya menjadi sosok yang sangat dihormati. Semasa hidupnya, tokoh yang satu ini sudah banyak berjasa untuk negara & agama

Penulis: Handhika Rahman | Editor: dedy herdiana
Tribuncirebon.com/Handhika Rahman
Haul Al Habib Umar bin Thoha bin Yahya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) RK Karangmalang di Kabupaten Indramayu, Kamis (22/9/2022). 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Handika Rahman

TRIBUNCIREBON.COM, INDRAMAYU - Al Habib Umar bin Thoha bin Yahya menjadi sosok yang sangat dihormati. Semasa hidupnya, tokoh yang satu ini sudah banyak berjasa untuk negara dan agama.

Pada hari ini, ribuan masyarakat pun datang untuk menghadiri Haul Akbar Al Habib Umar bin Thoha bin Yahya ke-139 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) RK di Karangmalang, Indramayu, Kamis (22/9/2022).

Haul Al Habib Umar bin Thoha bin Yahya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) RK Karangmalang di Kabupaten Indramayu, Kamis (22/9/2022).
Haul Al Habib Umar bin Thoha bin Yahya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) RK Karangmalang di Kabupaten Indramayu, Kamis (22/9/2022). (Tribuncirebon.com/Handhika Rahman)

Baca juga: Haul Al Habib Umar bin Thoha bin Yahya Ke-139 di Indramayu Dihadiri Ribuan Jamaah, Lucky Hakim Hadir

Al Habib Umar bin Thoha bin Yahya diketahui juga memiliki julukan Al-Habib Umar Asadullah atau singa Allah.

"Sosoknya sangat dihormati, sampai sekarang banyak yang berdoa untuk beliau" ujar salah satu panitia Haul, Saidi kepada Tribuncirebon.com.

Saidi menceritakan, salah satu jasa beliau terkisahkan dalam peristiwa macanan. Yaitu ketika banyak para ulama, kiyai, habaib yang ditawan oleh Belanda di Pekalongan.

Saat itu Al Habib Alwy bin Muhamad bin Abdulloh Alatos Pekalongan menulis surat kepada Al Habib Umar di Indramayu untuk memohon pertolongan.

Al Habib Umar pun langsung bergegas pergi menuju Pekalongan dengan menggunakan kereta api.

Ketika beliau berangkat para penumpang dan tentara penjaga di stasiun geger ketakutan melihat Al Habib Umar datang menunggangi kuda gagah dan dikawal oleh tiga singa dan satu harimau bernama Si Mandung (yang dahulu merupakan kepunyaan KH Ardi Sela).

Belanda yang mengetahui akan kedatangan Al-Habib Umar segera mempersiapkan pasukannya untuk menghalangi kepergian dan perjalanan Al-Habib Umar.

Setiap stasiun yang dilewati mendapat penjagaan sangat ketat oleh Belanda. Tetapi semua nyalinya menjadi ciut setelah melihat Al-Habib Umar yang gagah membawa kuda dan dikawal oleh tiga ekor singa dan satu harimau.

"Karena sering dikawal singa dan mempunyai pendirian, sifat, dan sikap yang kuat itulah Al Habib Umar bin Thoha bin Yahya dikenal juga dengan sebutan Al-Habib Umar Asadullah," ujar dia.

Selain itu, kata Saidi, pernah suatu ketika datang sekitar 200 ulama dan mufti dari berbagai negara ke Indonesia. Mereka membawa persoalan di negaranya masing-masing.

Pada saat itu mereka mendatangi Al-Habib Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya di Batavia. Namun, beliau hanya bisa menjawab 60 persoalan saja. Ia pun akhirnya menyarankan para ulama menemui Al-Habib Umar karena hanya beliau yang bisa menjawab semua persoalan tersebut.

Mereka pun kemudian datang menemui Al-Habib Umar. Pada peristiwa itu, ada pelajaran yang sangat mahal dan berharga, yakni ketika beliau hendak menjawab semua persoalan terutama terkait Al-Quran dan Hadist, beliau meminta izin dahulu untuk mandi dan berwudhu, salat sunah, lalu menemui para ulama dengan menggunakan jubah, dan wewangian yang sangat harum.

"Hal ini menunjukkan betapa beliau sangat memuliakan serta mengagungkan ilmu," ujar dia.

Al Habib Umar bin Thoha bin Yahya
Al Habib Umar bin Thoha bin Yahya (portalislam.id)

Selain itu Al-Habib Umar juga pernah menyelesaikan permasalahan banjir di Karawang. Pada saat itu, setiap kali banjir yang melanda selalu merusak pertanian di daerah tersebut hingga hancur.

Ternyata hal tersebut disebabkan oleh tersendatnya aliran pada pusat pertemuan Sungai Cilimus, Citarum, dan Ciliwung. Al-Habib Umar pun saat itu berhasil membuat aliran sungai menjadi lancar.

"Karena hal tersebut Al-Habib Umar diberi penghargaan oleh Belanda, bahkan waktu itu dibangunkan tugu penghormatan, dan diberi nama daerah itu dengan sebutan Situ Watu Gede di Karawang," ujar dia.

Sumber: Tribun Cirebon
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved