Sabtu, 11 April 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

Harga BBM Naik, Petani di Kuningan Kelimpungan Lakukan Dua Hal Ini

Kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) membuat kalangan petani di Kuningan kelimpungan karena sulit mendapatkan pasokan BBM

Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Machmud Mubarok
Tribuncirebon.com/Ahmad Ripai
Suasana di SPBU Jalan Juanda, Kuningan, terlihat sepi karena saat itu BBM jenis Pertalite kosong, Selasa (16/8/2022). 

Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai

TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN - Kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) membuat kalangan petani di Kuningan kelimpungan karena sulit mendapatkan pasokan BBM.

Padahal BBM ini merupakan salah satu kebutuhan dalam melangsungkan kegiatan pertanian.

"Dengan kenaikan harga BBM, kami mengalami kesusahan untuk mendapat pasokan, dan ini jelas mengganggu pada kegiatan kami sebagai petani di pedesaan," kata Dadan Kusnandar (55), petani di Desa Sindangjawa, Kecamatan Cibingbin, sekaligus sebagai pemilik usaha gilingan padi alias Heuler, Selasa (20/9/2022).

Baca juga: Pedemo Tolak Kenaikan BBM Sampaikan 3 Poin di Gedung DPRD Kuningan, Orator Jelaskan Begini

Dadan mengaku sangat kelimpungan dalam menjalankan usaha sebagai petani di desa saat harga BBM naik.

"Yang membuat kami prihatin ini, surat sakti untuk membeli BBM yang dikeluarkan pemerintah itu tidak berlaku bagi kami pelaku usaha di desa. Nah, dengan kejadian ini pemerintah pelayanannya di mana? " kata Dadan lagi.

Dadan menyebut kesulitan mendapat pasokan BBM, ini memaksakan diri untuk datang ke Kantor DPC Demokrat Kuningan dan menyampaikan aspirasi dan permasalahan sosial akibat dampak kenaikan BBM.

"Ya dengan datangnya saya ke sini (Kantor Partai Demokrat), untuk mengadukan nasib kami sebagai pelaku usaha di daerah yang terdampak kenaikan BBM," kata Dadan saat di Kantor Partai Demokrat yang terletak di Jalan Soekarno.

Dadan Kusnandar
Dadan Kusnandar, petani, saat ditemui di kantor Demokrat Kuningan.

Akibat kesulitan pasokan BBM, Dadan mengatakan usaha tani yang dilakukan masyarakat pedesaan ini, jelas terancam dan tidak melangsungkan aktivitas seperti biasanya.

"Ancaman sulitnya pasokan BBM dari adanya kenaikan BBM. Pertama, bagaimana nasib kelompok tani penggarap lahan yang biasa menggunakan traktor kini tidak bisa. Kedua, padi hasil panen itu tidak bisa diurai atau digiling dan macam - macam lagi masalah lainnya," katanya.

Sebagai harapan, kata dia menyebut dengan kenaikan harga BBM ini, jangan sampai di jadikan kesusahpayahan petani dalam mendapat pasokan.

"Apapun bentuknya, kami ingin semua kebutuhan bertani itu terpenuhi. Jadi, meski harga BBM naik tapi pasokan itu bisa terpenuhi bagi kalangan petani di daerah," ujarnya.

Selama terjadi kenaikan harga dan terjadi kesulitan pasokan, kata Dadan mengaku usaha digeluti sebagai jasa giling padi belum stabil. "Untuk usaha jasa giling padi belum stabil. Namun bicara biaya produksi untuk satu hari dalam menghidupkan mesin, itu harus menyediakan 10 liter solar untuk mengurai padi sebanyak 1 ton padi," ujarnya.

Di tempat sama, Ketua DPC Partai Demokrat Kuningan, H Lilik Suherli mengatakan, banyak keluhan masyarakat akibat kenaikan BBM hingga kini terus diakomodasi.

"Banyaknya keluhan soal kenaikan harga BBM. Hingga kini kami terus terima aspirasi dan ini akan menjadi dorongan kami di Legeslasi dalam menyuarakan permalasahan masyarakat. Dalam kepartaian, kami telah menginstruksikan kepada Anggota Fraksi Demokrat terus berjuang dalam melayani kebutuhan masyarakat," katanya. (*)

 

Sumber: Tribun Cirebon
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved