Breaking News:

Human Interest Story

Kisah Warga Pembuat Emping di Kuningan, Alami Kembang-kempis Karena Hal ini

mping merupakan penganan tradisional yang masih bertahan hingga sekarang, produksinya di Kuningan alami pasang surut

Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Machmud Mubarok
TribunCirebon.com/Ahmad Ripai
Warga Kampung Lebakburang, Kelurahan Citangtu, Kuningan, menjadi perajin emping di kala waktu senggang. 

Laporan Kontributor Kuningan Ahmad Ripai

TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN - Emping merupakan penganan tradisional yang masih bertahan hingga sekarang. Meski jumlah produksi jauh berbeda dengan tahun sebelumnya.

Penganan olahan ini dihasilkan dari buah Melinjo atau Belinjo menjadi lahan usaha bagi warga Kampung Lebakburang, Kelurahan Citangtu, Kuningan.

Sartinah (80) dan Nursati (64), warga Lebakburang,  menyebut, usaha pembuatan Emping kini hanya pengisi waktu dalam keseharian saja.

"Sebab, usaha ini tidak begitu menjadi menjadi patokan sebagai mata pencaharian. Karena, perubahan jaman dan akibat berkurangnya pohon melinjo di daerah," kata Sartinah yang masih saudara kandung, saat ditemui di lapak pembuatan emping di daerah setempat,, Rabu (14/9/2022).

Baca juga: Emping Tike Hanya Ada di Desa Jumbleng Indramayu, Rencananya Akan Dijadikan Kampung Tike

Sartinah mengungkapkan banyak dampak yang dirasakan para perajin di daerah. Seperti berkurangnya pohon melinjo dan tidak menentunya cuaca yang mengakibatkan masa panen pada tanaman melinjo tersebut tidak menentu.

"Ya sekarang, pohon Tangkil (Melinjo) tidak banyak kaya dulu. Terus masa panen juga tidak bisa diprediksi karena cuaca tak menentu. Jadi, dalam pembuatan Emping sekarang itu hanya memanfaatkan buah melinjo untuk dijadikan makanan khas," katanya.

Bersamaan dengan Sartinah yang terlihat sedang menata olahan Emping tadi, Nursati (64) terlihat semangat membuat panganan olahan tersebut.

"Untuk pembuatan Emping ini harus begini, mulai dari sangrai, pengupasan cangkang Melinjo hingga buah Melinjo itu diratakan menggunakan palu. Saat meratakan buah Melinjo itu jelas harus di tempat keras dan rata," kata Nursati.

Mengenai hasil pembuatan makanan olahan ini, Nursati menuturkan, jika memang ada yang butuh dan membeli makanan olahan ini, Ia tidak ragu untuk menjual dengan mematok harga Rp 80 ribu per kg.

"Ya untuk pembuatan makanan olahan atau Emping. Jika ada yang membeli saya jual dengan harga Rp 80 ribu per kilogram. Namun sebaliknya, jika tidak ada yang beli, ya buat makanan kami di keluarga," katanya.

Nursati menyebut, usaha pembuatan panganan khas daerah ini, jelas memerlukan biaya produksi tidak sedikit. Pasalnya, buah Melinjo yang menjadi bahan baku pembuatan Emping ini sangat sedikit, sehingga jumlah produksi pun  menyusut.

"Untuk pembuatan Emping, dari 2 Kg Melinjo itu hanya menghasilkan 1 Kg Emping. Kemudian dalam proses pembuatan itu, memerlukan biaya dan tenaga juga, katanya.

Soal  Emping yang memiliki rasa, kata Nursati, Emping siap saji yang memiliki rasa beragam, itu jelas melalui proses pengolahan sebelumnya.

"Jadi, untuk penganan Emping yang ada rasa manis, pedas atau rasa kombinasi. Itu biasanya diolah lagi. Contoh saat mau dijemur itu Emping direndam pada air rasa yang ditentukan. Jadi, untuk Emping yang ada rasa itu jelas melalui banyak proses lagi," ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Cirebon
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved