Sosok

SOSOK Lavita Nuraviana, Lulusan Pertama Teknologi Nano ITB, Bikin Sensor Dopamin Pakai Emas

Lavita Nur'aviana Rizalputri, perempuan Bandung yang lulus dengan predikat cum laude dan merupakan lulusan pertama dari studi Magister Teknologi Nano

Editor: Machmud Mubarok
Istimewa
Lavita Nuraviana Rizalputri, perempuan Bandung yang lulus dengan predikat cum laude dan merupakan lulusan pertama dari studi Magister Teknologi Nano ITB. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Lavita Nuraviana Rizalputri, perempuan Bandung yang lulus dengan predikat cum laude dan merupakan lulusan pertama dari studi Magister Teknologi Nano ITB.

Ia termasuk wisudawati yang mengikuti proses wisuda ketiga ITB tahun akademik 2021/2022 yang dilaksanakan Sabtu (23/7/2022).

Dia terpilih mewakili 2.049 wisudawan untuk sampaikan kata-kata perpisahan dan memimpin salam Ganesa di acara sidang terbuka.

Lavita menjadi orang pertama yang lulus dari program studi Magister Teknologi Nano ITB, bahkan mendapat predikat cum laude.

Baca juga: SOSOK Bambang Susantono, Lulusan ITB yang Ramai Disebut Bakal Jadi Kepala Otorita IKN Pilihan Jokowi

Lavita mulai pendidikan S2 di 2020 tepatnya saat pandemi yang serba online dan penuh keterbatasan. Namun, kondisi itu tak menghalanginya untuk melaksanakan penelitian dan selesaikan studinya.

"Pertama masuk itu sudah full online (belajarnya). Datang ke laboratorium tak bisa, padahal teknologi Nano perlu riset, jadi harus menyesuaikan kondisi saat itu. Beruntung setelah satu semester ada kebijakan diperbolehkan masuk lab untuk pengerjaan tesis, sehingga untuk penelitian bisa balik normal meski kelas tetap online," kata Lavita, Selasa (2/8/2022).

Dia mengaku mulai mengenal dunia nano material saat terlibat dalam riset bersama dosen ITB selama enam bulan pascakelulusannya dari prodi sarjana teknik biomedis ITB.

"Saya bekerjasama dengan berbagai prodi, profesi, universitas, dan industri sehingga kesadaran pentingnya kolaborasi multidisiplin muncul. Ditambah, ITB buka prodi Magister Teknologi Nano untuk pertama kalinya di 2020 yang mengusung kolaborasi," katanya.

Prodi ini, lanjutnya berada langsung di bawah pascasarjana bukan di bawah fakultas tertentu lantaran dosennya berasal dari berbagai fakultas.

"Kami di sini boleh riset apapun. Konsep kolaborasi ditekankan banget. Jadi, aku tertarik banget karena saya lihat prodi di Indonesia mayoritas risetnya selinear dengan bidangnya. Tapi, prodi ini kami bisa riset ke berbagai bidang keilmuan," ucapnya.

Lavita di dalam tesisnya mencoba mengembangkan kinerja sebuah sensor yang dinamakan screen printed carbon electrode untuk mendeteksi dopamin di tubuh tanpa menyakiti tubuh. Dia menggunakan emas berukuran nano sebagai material yang bisa tingkatkan performa sensor itu.

"Hasil penelitian ini sangat bermanfaat karena dopamin bisa indikasikan banyak penyakit, seperti Alzheimer dan Parkinson, sementara cara yang selama ini dilakukan untuk memeriksanya dapat dibilang menyakitkan bagi tubuh," katanya.

Perempuan asal Bandung ini kemudian akan lanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi karena ingin memperdalam pengetahuan yang telah dia dapat sebelumnya dan dia sangat suka dengan riset.

"Masih berpikir sih apakah akan lanjut ke luar negeri atau di dalam negeri saja," ujarnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved