Selasa, 5 Mei 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

Prakiraan Cuaca

Waspada, Cuaca Majalengka Juli Ini Bakal Diwarnai Angin Kumbang dari Gunung Ciremai

Angin kencang yang disebut angin kumbang dari Gunung Ciremai akan menerjang Majalengka pada bulan Juli hingga Oktober mendatang

Tayang:
Penulis: Eki Yulianto | Editor: Machmud Mubarok
Tribuncirebon.com/Eki Yulianto
Prakirawan BMKG Kertajati Majalengka, Ahmad Faa Izyin, menjelaskan angin kumbang dari Gunung Ciremai bakal turun menerjang Majalengka, Cirebon dan Kuningan saat musim kemarau mulai Juli hingga Oktober. 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNCIREBON.COM, MAJALENGKA - Angin kencang mulai melanda Majalengka dalam beberapa hari terakhir.

Menurut Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kertajati Majalengka hal itu disebabkan munculnya angin kumbang atau di Majalengka biasa disebut “angin lalakina”.

Angin tersebut biasa terjadi memasuki bulan Juli hingga awal Oktober mendatang.

Baca juga: Cuaca Cirebon Pagi Hari, Jumat 1 Juli 2022, BMKG Ungkap Suhu Terdingin dan Angin Terkencangnya

Angin ini ditandai dengan adanya kenaikan suhu udara sebesar 2-5 derajat celsius per jam pada pagi hari hingga siang hari.

Menurut keterangan Prakirawan BMKG Kertajati, Ahmad Faiz Zyin, munculnya angin kumbang juga ditandai dengan penurunan kelembaban udara antara 5 hingga 34 persen per jam pada pagi hingga siang hari.

Angin kumbang, menurut Faiz Zyin, merupakan angin Fohn, angin yang bertiup turun sepanjang lereng gunung menuju dataran yang lebih rendah dengan suhu udara yang tinggi, dengan tingkat kelembaban udara yang rendah.

“Gak hanya wilayah Majalengka, tapi Cirebon dan Kuningan juga, karena angin kumbang ini berasal dari Gunung Ciremai,” ujar Faiz Zyin, Jumat (1/7/2022).

Menurutnya, dampak dari munculnya angin kumbang ini akan terjadi kenaikan suhu udara mencapai 38 derajat celsius.

Akibat terjadinya penurunan kelembaban udara hingga dapat mencapai 20 persenan, serta peningkatan kecepatan angin mencapai ratusan km per jam.

Pada saat muncul angin kumbang disarankan agar masyarakat lebih banyak mengonsumsi air minum.

Selain itu, sebaiknya menggunakan pelembab atau lotion karena kulit akan kering, menggunakan tabir surya dan persiapan luar ruangan lainnya seperti kaca mata dan masker di samping mengantisipasi paparan virus Covid-19.

Serta menghindari pepohonan yang rimbun dan tinggi untuk menjaga kemungkinan pohon tumbang akibat tiupan angin besar tersebut.

Wilayah Kabupaten Majalengka sendiri sudah memasuki musim kemarau sejak Juni lalu.

Namun demikian musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan sama sekali, karena hujan masih tetap ada dengan intensitas curah hujan di bawah 155 mm per bulan.

Pada umumnya menurut Faiz Zyin, musim kemarau tahun ini diprakirakan bersifat di atas normal, yang berarti kondisi curah hujannya lebih banyak dari tahun 2020 lalu atau dari rata-rata normalnya.

“Beberapa hari kemarin suhu udara terasa dingin pada malam dan pagi hari. Ini disebabkan adanya pergerakan massa udara dingin dan kering dari Australia ke Asia yang melewati wilayah-wilayah Indonesia,” ucapnya.

Saat musim kemarau tiupan awan sedikit, atau bisa dikatakan tidak ada sehingga bumi ini jadi semacam tidak berselimut, lalu panas yang diserap pada siang hari akan sangat mudah dilepas pada malam hari, sehingga malam hari terasa lebih dingin dari biasanya.

Angin kumbang sendiri di Kabupaten Majalengka disebut angin lalakina.

Disebut angin lalakina karena angin yang terjadi di Majalengka bisa sangat besar dan bisa menyingkapkan rok para perempuan bagi yang mengenakan rok lebar.

Ketika angin besar, kaum perempuan yang mengenakan rok lebar akan kesulitan mengendalikan roknya karena akan menyingkap ke atas dan rambut pun kusut tertiup angin.

Kedua tangan akan repot menahan rok yang tersingkap dan wajah “merem” terkena hempasan angin bercampur debu.

“Biasanya kalau sudah angin besar rok tersingkap, ketika ini terjadi dan tengah berjalan kaki maka kedua tangan sibuk merapikan rok, sambil membelakangi arah angin seraya mata ‘merem’, agar wajah tidak terkena debu. Makanya banyak yang menyebut angin kumbang disebut angin lalakina," jelas dia. (*)

Sumber: Tribun Cirebon
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved