Breaking News:

Daging Hewan Ternak yang Terjangkit PMK Bisa Dikonsumsi, Asal Lakukan Langkah Ini

Penyakit mulut dan kuku (PMK) menyerang lebih dari 1000 ekor hewan ternak di wilayah Jawa Timur belum lama ini.

Penulis: Ahmad Imam Baehaqi | Editor: dedy herdiana
Dok Tim Kesmavet Disnakan Ciamis
ILUSTRASI cek kesehatan dan kelayakan ternak sapi 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Ahmad Imam Baehaqi

TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON - Penyakit mulut dan kuku (PMK) menyerang lebih dari 1000 ekor hewan ternak di wilayah Jawa Timur belum lama ini.

Sejumlah gejala klinis PMK sendiri, di antaranya, demam, muncul lesi ataupun melepuh pada areal nostril, lidah, gusi, dan terdapat luka di kuku hewan ternak.

Namun, Medik Veteriner UPTD Puskeswan Ciledug, Kabupaten Cirebon, drh. Edi Purnomo, memastikan daging hewan yang terjangkit PMK tetap bisa dikonsumsi.

"Pada dasarnya aman dikonsumsi, asalkan daging hewan yang tercemar PMK dilakukan pelayuan dulu," ujar Edi Purnomo saat ditemui usai pengecekan hewan di peternakan Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, Jumat (13/5/2022).

Baca juga: Buntut Wabah Penyakit Mulut dan Kuku di Jatim, DKPPP Kota Cirebon Perketat Pengiriman Sapi

Ia mengatakan, pelayuan itu ialah membekukan daging selama 8 - 12 jam di freezer dalam suhu nol hingga empat derajat celcius sebelum dikonsumsi.

Menurut dia, sifat asam yang ditimbulkan dari proses pelayuan bisa menyebabkan daging tersebut mati, sehingga daging beku aman untuk dikonsumsi.

Selain itu, saat membeli daging dari pasaran juga disarankan tidak mencucinya, karena air yang mengalir dari daging berpotensi menjadi perantara penularan virusnya.

"Sebaiknya daging langsung direbus dalam air yang mendidih selama satu jam untuk mematikan virusnya, enggak perlu dicuci," kata Edi Purnomo.

Edi juga mengakui, sebenarnya secara teori virus PMK mati setelah daging direbus dalam suhu 56 derajat celcius selama 30 menit.

Ia menyampaikan, PMK juga dipastikan tidak bersifat zoonosis atau tidak menular kepada manusia, tetapi penularannya hanya terjadi antarhewan.

Namun, kerugian ekonomi yang ditimbulkan sangat besar, karena mengakibatkan penyusutan berat badan hidup, menyusutnya populasi, dan menurunnya produksi susu.

"Penyakit ini hanya bisa dicegah melalui vaksinasi terhadap hewan ternak, tapi hingga kini dipastikan tidak ada temuan kasusnya di Kabupaten Cirebon," ujar Edi Purnomo.

Sumber: Tribun Cirebon
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved