KKB Papua
Firasat Sang Ayah Sebelum Praka Dwi Miftahul Akhyar Gugur dalam Baku Tembak dengan KKB Papua
Firasat dirasakan Sartono, bapak almarhum ini mengakui hanya tidak bisa tidur nyenyak pada Jumat malam sampai ada kabar kalau anaknya wafat
TRIBUNCIREBON.COM - Prajurit TNI AL yang gugur dalam baku tembak dengan Kelompok Saparatis Teroris (KST) Papua Praka (Anumerta) Dwi Miftahul Akhyar (26) dikenal sangat baik.
Warga Kelurahan Babat, Lamongan, Jawa Timur menyisakan luka mendalam bagi pihak keluarga dan kerabat.
Seperti yang ditemui Surya.co.id (Tribun Network) pagi hari ini yakni, tiga anggota keluarga, bapak korban, Sartono (50), kakak korban, Yanta (32).
Selain itu kami juga menemui guru kelas korban, Sukarni dan 2 tetangga korban, Harsono dan Saroh.
Semua memberikan kesaksian yang sama, bahwa semasa hidup almarhum adalah orang baik.
Menurut kaka korban, Yanta ada perubahan pada adiknya pada dua bulan terakhir sebelum meninggal.
Almarhum kerap meminta bantuan kakaknya untuk membagikan uang yang dikirimnya dari Papua untuk keluarga, teman dan beberapa orang yang sakit di Babat.
Baca juga: Anak Buah Jenderal Andika Kembali Gugur Tertembak KKB Papua, Kapendam Cendrawasih Geram: Biadab

"Akhir-akhir ini sering memberi sedekah. Saya sering disuruh untuk menyerahkan," ungkap Yanta kepada Surya.co.id, Minggu (24/4/2022).
Bahkan, menurut Yanta, uang yang ditransfer melalui rekeningnya itu dinilainya teramat sering dan jumlahnya juga cukup banyak.
"Lhok kok banyak, ini kan belum Idul Fitri," kata Yanta pada sang adik.
"Gak, gak popo mas, aku dapat tambahan uang banyak. Tolong itu bagikan untuk orang-orang di rumah, teman, tetangga dan keluarga yang sakit," kata Yanta mengutip jawaban Miftah.
Baca juga: SOSOK Briptu Maissy Deza Utami, Polwan Asal Aceh Terbang ke Afrika Tengah Jaga Perdamaian Dunia
Kebaikan almarhum diakui Yanta bukan semasa jadi abdi negara.
Sejak kecil sampai berhasil masuk TNI AL, Praka Dwi Miftahul Akhyar tetap baik, santun dan sederhana.
Firasat yang berbeda dirasakan orangtuanya, Sartono, bapak almarhum ini mengakui hanya tidak bisa tidur nyenyak pada Jumat malam sampai ada kabar kalau anaknya telah meninggal oleh kekejaman KKB.
"Saya semalam itu susah tidur, tidak seperti biasanya. Tahu-tahu kemudian ada kabar kalau Mif (panggilan korban) meninggal karena KKB," ungkapnya.