Jakarta-Cianjur 18 Jam, Mobil Mengular Sampai Subuh, Ini Cerita Pengendara Terjebak Macet di Puncak
Jarak tempuh Jakarta-Cianjur mencapai 18 jam lantaran kemacetan di Jalan Raya Puncak Bogor, biasanya hanya 2-4 saja.
TRIBUNCIREBON.COM - Berbeda dari biasanya jarak tempuh Jakarta-Cianjur mencapai 18 jam lamanya.
Tak menyangka jarak tempuh Jakarta-Cianjur yang biasanya bisa ditempuh dalam waktu 3-4 jam, ternyata Minggu (27/2/2022) ditempuh dalam waktu 18 jam.
Hal tersebut dialami oleh aktivitis sekaligus kader salah satu partai, Firman Mulyadi (40) asal Cianjur.
Ia yang biasa mengurus keperluan bisnis dan partai mengharuskan hilir mudik Jakarta-Cianjur setiap pekannya.
Ia tak menyangka kepulangannya hari Minggu akan menjadi hari yang paling melelahkan bagi dirinya.
Pasalnya gelombang kendaraan yang masuk ke kawasan Puncak pada akhir pekan liburan panjang ini begitu membeludak dari kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Ruas jalan dipenuhi kendaraan berpelat nomor B baik kendaraan roda empat maupun kendaraan roda dua.
Tak hanya sore dan malam hari, kepadatan kendaraan mengular sampai dinihari.

"Tak menyangka, karena di tol itu arus kendaraan lancar, pas keluar tol juga tak kelihatan mengular, saya langsung diarahin ke Ciawi arah Sukabumi," ujar Firman, Senin (28/2/2022) di Cianjur.
Kemacetan di kawasan Puncak kali ini mempunyai cerita tersendiri bagi Firman yang biasa beraktivitas Jakarta-Cianjur.
Ia mengatakan, jarak tempuh kali ini yang ia habiskan selama 18 jam dari Jakarta menuju rumahnya di Cianjur baru pertama ia rasakan.
Firman Mulyadi Koordinator yang menjadi Divisi Hukum Badan Saksi Nasional Partai Golkar, mengatakan ia berangkat dari Jakarta Pusat kawasan Pejompongan Minggu (27/2) sore sekitar pukul 15.00 WIB.
"Sampai Cianjur Senin (28/2) pagi sekitar pukul 09.00 WIB," ujar Firman.
Firman mengisahkan, ia keluar tol magrib, diarahkan ke Ciawi tak bisa keluar Gadog, dari arah gadog ia pukul 02.00 dinihari mobilnya mulai merayap tapi cuma sampai pom bensin yang dekat pos polisi.
Baca juga: Terjebak Macet Belasan Jam di Puncak Bogor, Disebut Ada Pengendara Meninggal, Ini Kata Polisi
"Pukul 04.00 masuk jalur alternatif tapi ketahan juga karena sudah terlalu banyak mobil di sana," katanya.
Ia mengatakan, pukul 06.00 WIB baru bisa masuk kembali ke jalur utama, namun persis di bawah Masjid At Taawun macet total lagi.
"Alhasil sampai rumah tadi pukul 09.00 WIB pagi," ujarnya.
Tak hanya kendaraan roda empat yang sempat terjebak akibat membeludaknya pengunjung wisata ke Puncak pada Minggu (27/2), kendaraan roda dua pun sempat terjebak macet rata-rata dua jam saat melintas di kawasan Puncak Cianjur.
Pantauan di jalan raya protokol Cipanas dari pukul 12.30 hingga 15.00 WIB, Minggu (27/2), terlihat kendaraan roda dua dan roda empat menuju puncak didominasi pelat nomor B.
Antrean kemacetan kendaraan tersebut sudah terlihat dari arah Tugu Bubur Pacet hingga Segar Alam Puncak.
Seorang wisatawan asal Jakarta, Hendra Kurniawan (25) mengatakan, pihaknya sempat menunggu hampir dua jam lamanya terjebak macet di jalan raya Cimacan, Cipanas.
Bahkan, ia pun mengaku, sampai pegal-pegal akibat mengatur gas, rem, dan kopling karena mobil hanya maju sedikit demi sedikit, sehingga ia pun terpaksa berhenti sejenak di pinggir jalan.
“Aduh, gara-gara macet mobil nyerayap dan ngatur rem, gas dan kopling saya jadi pegal kaki, untung belum sampai tanjakan Puncak kalau udah sampai tanjakan puncak kalau diem gini pasti lebih pegal,” katanya.
Ia mengatakan, liburan akhir pekan kemarin dari wisata yang ada di Cianjur selatan Karang Potong.
"Iya ini saya dari kemarin mungpung libur kerja di weekend yah, liburan ke karang potong dan saat ini mau pulang eh, malah kejegal macet di Cipanas," katanya.
Baca juga: Jalur Puncak Macet Hingga Senin Dini Hari, Saat Ini Arus Lalu Lintas Sudah Lancar
Hal serupa dialami wisatawan asal Bogor Deni Irawan (30) yang mengatakan, ia terjebak macet hampir dua jam lebih dari Cianjur menuju Puncak Bogor.
“Ini saya habis menginap di Hotel Palace. Pas mau pulang, ehh arah Puncaknya macet. Saya hampir dua jam menunggu di depan DSE Cimacan Cipanas," katanya
Sementara itu, untuk mengantisipasi terjadi kemacetan parah, para sopir angkutan sayuran dari Cipanas mengambil jalan Puncak II jalur alternatif Arca Kabupaten Bogor keluar Jonggol
Nanang (37) salah satu sopir pikap pengangkut sayuran dari Cipanas mengatakan, banyaknya kendaraan yang masuk dari Bogor ke Cipanas membuat ia bersama sopir sayuran lainnya kesulitan mengambil jalur utama Puncak Bogor saat akan mengantar sayuran ke Pasar-pasar induk Bogor - Jakarta.
"Yang paling parah itu kemarin Minggu (27/2/2022), arus lalulintas dari di Cipanas menuju Bogor macet total jadi, kami mencoba jalur Arca Jalan Puncak II Kabupaten Bogor," kata Nanang, Senin (28/2/2022).
Nanang mengatakan, jika tidak berinisiatif mengambil jalur puncak II bukan tidak mungkin sayuran yang akan dijual ke Pasar-pasar induk di Jakarta dan juga Bogor tidak bisa terkirim.
"Bisa jadi busuk, terlebih sayuran yang sifatnya Hijau-hujauan, seperti pakcoy, sawi, polling, kol, sesin, dan lainnya akan membusuk dijalan," katanya.
Menurutnya, dengan mengambil jalur puncak II memang jauh dua kali lipat lebih lama ketimbang jalur puncak Bogor.
"Yang tadinya perjalanan dua jam, jadi, kalau ambil jalur puncak II bisa empat jam dan bagi yang belum pernah melintasi jalur puncak II sedikit berisiko terlebih bawa muatan berat," ujarnya.
Namun lanjut Nanang, saat dirinya berangkat Minggu sore pukul 16.00 WIB dan pulangnya lewat Cisarua Bogor pukul 5.00 WIB pagi mendapati mobil pengangkut sayuran terjebak macet arah ke Jakarta.
"Saya juga tidak tahu kondisi sayurannya itu masih utuh atau bagaimana, untung saya berangkat lewat jalur puncak II," katanya.
Nanang mengatakan, untuk hari Senin (28/2/2022) ini dirinya masih menunggu info apakah jalur puncak Bogor sudah bisa dilewatinya apa belum.
"Ini saya masih menunggu apakah sudah bisa lewat apa belum. Kalau gak saya akan kembali lewat Arca," katanya.
Sopir sayuran lainnya Ade (25) asal Cimangkok Sukabumi mengaku kesulitan disaat libur panjang. Karena selain akan terjadi penumpukan kendaraan juga beberapa akses utama yang dari Cianjur menjual Bogor-Jakarta akan terganggu.
"Yan menjadi pikiran saya, disaat pengiriman sayauran ini terganggu karena terlambat dan atau kondisi sayuran yang rusak apa orang di pasar sana akan membelinya. Sedangkan modalnya sendiri sudah sangat jelas," katanya.