SOSOK Serda Yuni Indah Lestari Kowad Berprestasi, Kayuh Sepeda Puluhan Ribu Kilometer untuk Misi Ini
Berkat kepiawaiannya sebagai atlet sepeda, Serda Yuni Indah Lestari dilantik menjadi anggota TNI pada Desember 2016
Editor:
Mumu Mujahidin
dok. Pribadi
Berbagai penghargaan diterima Serda Yuni Indah Lestari dari Pimpinan TNI tempatnya mengabdi dan dari kemenangannya dalam balap sepeda.
Laporan Wartawan Tribunjabar.id, Daniel Andrean Damanik
TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Serda Kowad (K) Yuni Indah Lestari, Prajurit TNI kelahiran Sidoarjo pada 9 Juni 1996, meraup puluhan prestasi di bidang balap sepeda.
Bersepeda ditekuninya sejak tahun 2010 yaitu saat Ia masih duduk di bangku kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sepeda pertamanya, diakuinya masih dibelikan oleh kedua orangtuanya.
Sebagai sosok prajurit TNI, saat diwawancarai secara khusus oleh Tribun Jabar di Kodiklat AD, Kota Bandung, jawaban demi jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan dijawab secara tegas tak berbelit-belit.
Putri sulung dari tiga bersaudara ini ternyata pernah mengayuh sepeda sepanjang puluhan ribu kilometer. Tentunya, hal tersebut dilaksanakannya selama tiga tahun. Tahun 2017, 2018, hingga 2019.
Tak hanya mengayuh sepeda ribuan kilometer setiap tahunnya, kegiatan tersebut dilakukan Serda Yuni Indah Lestari untuk pencapaian misinya yaitu "Menyatukan Tanah dan Air".

"Dari tiga tahun itu, kami terdiri dari 15 orang. Dari 15 orang itu hanya dua yang berasal dari anggota TNI, saya dan satu orang rekan saya laki-laki. Tahun 2017 kami bersepeda dari Sabang hingga berakhir di Magelang. Selanjutnya tahun 2018 kami mulai lagi dari Etikong, Kalimantan Barat yang berakhir di Jogjakarta dan tahun 2019 kami mulai dari Sota, Merauke dan berakhir di Lombok," kata Serda Yuni Indah Lestari kepada TribunJabar, Selasa (25/1/2022).
Serda Yuni Indah Lestari mengaku banyak mendapat pengalaman baru dari perjalanan yang ditempuh dari Sabang hingga Merauke.
Selain mendapat pengalaman, Ia juga membagi cerita kepada orang-orang yang ditemuinya di masing-masih pulau.
Yuni mencontohkan, jika beranjak dari Sabang, Ia bersama timnya akan mengambil tanah dan air, tiba di Sumut, Riau, Palembang dan pulau lain, maka mereka juga melakukan hal yang sama.
Tanah dan Air yang dibawa tersebut akan berakhir serta diserahkan di Magelang. Begitulah hal serupa yang dilakukan hingga perjalanan di tahun 2019.
Rata-rata, setiap misi tahunan tersebut ditempuh paling lama selama 2 bulan. Perjalanan tahun 2017 menempuh perjalanan sepanjang 5.500 kilometer, tahun 2018 sepanjang 6.700 kilometer dan tahun 2019 sepanjang 3.700 kilometer.
Jarak tempuh tersebut tidak termasuk dari jarak tempuh ketika tim menggunakan transportasi laut ataupun udara.
Baca juga: SOSOK Serda Adhini Pramugari Cantik Pesawat Kepresidenan Jokowi yang Viral karena Paras Cantiknya
Masih tentang sepeda, dari rangkaian prestasi yang diraihnya, akhirnya Serda Yuni Indah Lestari bisa membeli satu unit sepeda balap (Road Bike) tahun 2012 dari hasil tabungannya sendiri. Itu menjadi sepeda pertama yang dibeli dari hasil keringat sendiri.
Hingga kini, Yuni sudah memiliki 3 unit sepeda yang dibelinya sendiri, selebihnya ada beberapa unit yang berasal dari sponsor saat ada perlombaan.
Menjadi atlet sepeda, didorong dari Pamannya yang juga seorang pebalap sepeda Nasional, Dedik Kristanto.
Prestasinya tidak hanya di dalam Negeri, perlombaan di Negera tetangga seperti Thailand dan China.
Saat di China tahun 2015 , Yuni mengaku sangat beruntung bisa bertemu dengan pembalap sepeda idolanya, yaitu Georgia Bronzini dari Italia.
Pertemuan berharga tersebut berlangsung saat Kejuaraan UCI World Cup di Chong-Ming, China.
KARIR MENJADI PRAJURIT TNI
Berkat kepiawaiannya sebagai atlet sepeda, Serda Yuni Indah Lestari dilantik menjadi anggota TNI pada Desember 2016. Menjadi Kowad, bisa diraihnya melalui jalur prestasi saat penerimaan Bintara TNI.
Menjadi TNI, menjadi impiannya sejak kecil. Ia bersyukur, dalam tahap seleksi menjadi anggota TNI, Ia tak perlu berulang-ulang mengikuti ujian seleksi. Tahun 2016 mendaftar dan mengikuti rangkaian seleksi, Ia langsung diterima menjadi anggota TNI.
Saat proses penempaan menjadi anggota TNI, Yuni tidak banyak mengalami kesulitan, khususnya dalam hal latihan olah fisik. Karena, sejak duduk di bangku SD, Ia sudah senang berolahraga. Bahkan, Ia pernah masuk klub Bulutangkis.
Dari keluarga, Yuni mengaku sangat didukung untuk menjadi Abdi Negara. Doa dari keluarga khususnya kedua orangtuanya, sangatlah besar dalam perjalanan karir militernya hingga saat ini.
Di tengah keluarga intinya, Yuni satu-satunya sosok yang menjadi prajurit TNI. Kedua orangtuanya berkerja membuka usaha berjualan alat elektornik di Sidoarjo, adiknya kedua masih SMA Kelas 3 dan yang paling bungsu masih Balita.

Terhadap adik keduanya, Serda Yuni Indah Lestari bercerita bahwa sang adik juga saat ini menjadi atlet sepeda. Bahkan, pernah suatu momen, kakak beradik ini ada dalam satu arena perlombaan balap sepeda, hanya berbeda kelas saja.
Saat ini, Yuni sangat bertanggung jawab terhadap prestasi bersepeda adiknya. Setiap latihan, Yuni selalu memantau dari jarak jauh, yaitu melalui alat komunikasi. Mulai dari durasi latihan, asupan makanan saat latihan dan hal lainnya yang berkaitan dengan balap sepeda.
Saat ditanya tentang cita-cita sang Adik perempuannya, Ia mengatakan punya harapan juga agar adiknya bisa menjadi Abdi Negara sepertinya, tapi Ia kembali menyerahkan kepada Sang Pencipta.
Yuni mengaku jika dirinya tidak pernah merasa puas dan sangat pantang bagi dirinya untuk mudah menyerah. Prinsip ini sangat relevan menurutnya dengan karirnya sebagai TNI.
Saat ini, Yuni bertugas di bagian Ajen Kodiklat TNI AD. Ia mengaku , pimpinan tempat dirinya mengabdi saat ini, sangat mendukung semua prestasi yang diraihnya melalui balap sepeda.
Satuan tempat Ia mengabdi selalu memastikan jenis kejuaraan yang hendak diikuti oleh Yuni. Mulai dari tingkat dan lokasi perlombaan, semuanya harus diketahui instansi TNI.
Selama pandemi, khususnya semenjak menjadi anggota TNI, Yuni masih rutin melakukan latihan balap sepeda, meskipun tidak ada perlombaan yang akan dituju.
"Setiap ada tanggal merah (libur) atau setiap Sabtu dan Minggu, saya masih rutin berlatih, ya sebelum pandemi setidaknya berlatih dengan jarak tempuh 200 kilometer, namun saat ini, hanya 100 kilometer saja," katanya.
Baca juga: SOSOK Ester David Nainggolan, Istri Dandim Kuningan yang Dibentak Preman, Kerap Bagikan Sembako
JIWA PANTANG MENYERAH
Pantang menyerah dan semangat yang tinggi menjadi prinsip yang selalu dipegang teguh oleh Yuni.
Ia mencontohkan di saat jiwa pantang menyerah dan semangatnya bersatu sewaktu bertanding balap sepeda.
"Saya pernah ikut lomba balap sepeda, 200 meter sebelum garis "finish" saya menabrak portal. Akibatnya saya mengalami luka di beberapa bagian tubuh. Lingkar ban sepeda pun rusak. Saya mengakui, itu adalah kesalahan saya sendiri, karena kekesalan terhadap diri sendiri dan semangat yang masih membara, keesokan harinya saya kembali mengikuti perlombaan balap sepeda. Pantang hukumnya kalau mudah menyerah," katanya.
Baginya, setiap pertandingan balap sepeda itu harus juara 1. Karena kalau urutan 2 dan 3, menurutnya itu hanyalah sebuah nomor. Prinsipnya, Juara itu hanya 1.
Prinsip pantang menyerah juga dibagikan Yuni bagi calon atlet maupun calon prajurit TNI. Jika gagal, harus terus dicoba, jika jatuh harus langsung bangkit. Itu pesannya.
Menjaga kesehatan fisik, Yuni berbagi tips. Ia mengatakan, jika saat latihan balap sepeda maupun saat menjelang pertandingan, asupan makanan yang mengandung Karbohidrat dan Protein, harus seimbang masuk ke dalam tubuh. Tentunya didampingi asupan suplemen, vitamin dan susu.
"Selagi masih muda, harus terus berkarir dan bercita- cita. Ibaratkan kalau menyelam, ya harus sampai ke dasar kalau bisa sampai tenggelam. Tetap semangat, jangan mudah menyerah, dan pantang mundur," katanya.