Facebook Ganti Nama Jadi Meta, Ini Alasan CEO Meta Mark Zuckerberg
Meski perusahaan induk berganti nama, platform media sosial Meta seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp tetap mempertahankan namanya.
Wanita 37 tahun itu juga mengatakan Facebook tidak memiliki cukup staf, untuk menjaga platform tetap aman, dan "benar-benar mengipasi" kekerasan etnis di negara-negara berkembang.
Haugen muncul di Washington pada Selasa (5/10/2021) setelah tampil sebagai narasumber dari serangkaian pengungkapan di Wall Street Journal bulan lalu, berdasarkan dokumen internal Facebook. Laporan itu mengungkap bahwa Facebook tahu dampak media sosial Instagram merusak kesehatan mental remaja.
Fitur News Feed Facebook – papan utama interaksi pengguna dengan layanan – juga telah membuat platform itu lebih terpolarisasi dan memecah belah.
Menurutnya, Facebook tahu pengguna Instagram sedang dituntun ke konten terkait anoreksia. Algoritme "mengarahkan anak-anak dari topik yang sangat tidak berbahaya, seperti resep sehat ... sampai ke konten yang mempromosikan anoreksia dalam waktu yang sangat singkat".
“Saya di sini hari ini karena saya percaya produk Facebook membahayakan anak-anak, memicu perpecahan, dan melemahkan demokrasi kita,” ujar Haugen, dalam kesaksian pembukaannya melansir Guardian pada Rabu (6/10/2021).
Lebih lanjut kata dia, pimpinan perusahaan tahu bagaimana membuat Facebook dan Instagram lebih aman.Tetapi, mereka tidak akan membuat perubahan yang diperlukan, karena lebih mengutamakan keuntungan yang besar bagi mereka di atas orang lain. Facebook menurutnya telah menukar keamanan banyak orang demi keuntungannya.
Facebook memiliki 3,5 miliar pengguna aktif bulanan di seluruh platformnya termasuk Instagram dan WhatsApp. Pada 2020, Facebook melaporkan laba bersih –lebih dari 29 miliar dollar AS (Rp 413 triliun).
“Selama lebih dari lima jam (gangguan), Facebook tidak digunakan untuk memperdalam perpecahan, mengacaukan demokrasi dan membuat gadis dan wanita muda merasa buruk tentang tubuh mereka,” sindir Haugen mengacu pada gangguan hampir enam jam platform Facebook termasuk Instagram dan WhatsApp, Senin (4/10/2021).
Dia memperingatkan bahwa Facebook membuat pilihan yang "melawan kebaikan bersama". Oleh karena itu, perusahaan media sosial itu harus diperlakukan seperti industri tembakau. Perusahaan media sosial raksasa itu juga perlu diminta tunduk pada pengawasan pemerintah, setelah diketahui menyembunyikan kerusakan yang disebabkan oleh produknya.
Hal ini juga berlaku pada perusahaan mobil yang dipaksa untuk mengadopsi sabuk pengaman atau perusahaan opioid yang telah digugat oleh lembaga pemerintah.
Dia pun mendesak anggota parlemen untuk memaksakan lebih banyak transparansi di Facebook. Harus ada lebih banyak pengawasan terhadap algoritmanya, yang membentuk konten yang dikirim ke pengguna.
"Inti dari masalah ini adalah tidak ada yang bisa memahami pilihan destruktif Facebook lebih baik daripada Facebook, karena hanya Facebook yang bisa melihat di bawah tenda," katanya.
Transparansi yang lebih besar, kata dia, dapat membangun aturan dan standar yang masuk akal untuk mengatasi kerugian konsumen, konten ilegal, perlindungan data, praktik anti persaingan, sistem algoritme, dan banyak lagi.
Haugen memperingatkan bahwa Facebook "secara harfiah mengipasi kekerasan etnis" di tempat-tempat seperti Ethiopia, karena tidak mengawasi layanannya secara memadai di luar AS.
Wanita, yang bekerja untuk tim Facebook dan memantau campur tangan pemilu secara global ini, juga menyinggung masalah penyerbuan 6 Januari di Capitol, ketika para pengunjuk rasa berusaha membatalkan hasil pemilihan presiden AS.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/cirebon/foto/bank/originals/fbok.jpg)