Breaking News:

Peristiwa Banjir Kotoran Sapi di Lembang Disoroti FPLH Jabar, Harus Diusut Tuntas

Forum Penyelamat Lingkungan Hidup (FPLH) Jawa Barat menyoroti kejadian banjir kotoran sapi yang menerjang sejumlah rumah warga di Lembang KBB

Editor: Mumu Mujahidin
Ahmad Ripai/Tribuncirebon.com
Ilustrasi: kegiatan peternak dan warga bersih bersih kotoran hewan yang menyumbat saluran irigasi di Kelurhan Cipari 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG BARAT - Beberapa waktu lalu terjadi banjir kotoran sapi di Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Forum Penyelamat Lingkungan Hidup (FPLH) Jawa Barat menyoroti kejadian banjir kotoran sapi yang menerjang sejumlah rumah warga di Kampung Sukahaji, RT 01/01, Desa Kayuambon, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Sebelumnya, kotoran sapi tersebut meluber dari selokan di tepi jalan setelah hujan deras hingga mengalir ke permukiman warga, sehingga bau menyengat langsung tercium ketika memasuki pemukiman ini karena kotoran sapi masuk ke halaman rumah warga.

Ketua FPLH Jabar, Thio Setiowekti, mengatakan, dengan adanya kejadian ini Dinas Lingkungan Hidup (DLH) KBB harus terjun untuk mengusut tuntas terkait analisis dampak lingkungan (amdal) pada peternakan sapi yang ada di wilayah tersebut.

kegiatan peternak dan warga bersih bersih kotoran hewan yang menyumbat saluran irigasi di Kelurhan Cipari
kegiatan peternak dan warga bersih bersih kotoran hewan yang menyumbat saluran irigasi di Kelurhan Cipari (Ahmad Ripai/Tribuncirebon.com)

"Dinas LH KBB bersama aparat yang berwenang harus mengusut tuntas apakah peternakan sapi yang menyebabkan limbah tersebut ada amdal-nya atau tidak?," ujarnya melalui pesan singkat, Senin (30/8/2021).

Menurut Thio, jika peternakan sapi ini tidak ada amdalnya atau ketentuan amdal nya dilanggar, bisa dikatakan tindak pidana kejahatan lingkungan karena melanggar UU 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Selain itu, kata Thio, petugas Satgas Citarum Harum juga harus turun melakukan pengecekan mengingat drainase pembuangan limbah tersebut bermuara ke aliran Sungai Cikapundung. 

"Petugas terkait harus turun, pemerintah desa, DLH, dan Tim Satgas Citarum Harum. Kalau peternakan sapi yang jadi penyebab banjir itu sengaja membuang kotorannya ke drainase (sungai) maka termasuk tindak kejahatan lingkungan," katanya.

Baca juga: Masalah Limbah Kotoran Sapi Tak Ditangani Serius, Dampaknya Bisa Ancam Zona Wisata di Kuningan

Bahkan, kata dia, ada indikasi peternak sapi itu memiliki keterbatasan lahan, hingga akhirnya membuang kotoran ke saluran air atau sungai.

Menurutnya, jika setiap keluarga memiliki minimal lima ekor sapi dan setiap ekornya perhari membuang kotoran sekitar 20-30 kilogram, pasti ada puluhan ton dalam sehari yang dibuang ke sungai.

"Aparat kewilayahan dan Satgas Citarum Harum juga harus melakukan pembinaan. Sebab cara membuang kotoran sapi bagi warga sudah menjadi 'kultur' dari dulunya seperti itu (ke sungai). Itu kan limbahnya mengalir ke Cikapundung terus ke Citarum," ucap Thio.

Thio mengatakan, para peternak sapi itu harus diarahkan menyiapkan bak penampungan dan tidak membuang kotoran langsung ke sungai. Seperti di Desa Suntenjaya ada peternak punya sumur limbah dan mengolah kotoran sapi jadi biogas.

"Idealnya seperti itu, karena sebesar apapun drainase kalau dijejali kotoran sapi dan sampah, lama-lama jebol juga kalau tersumbat," katanya.

Baca juga: Pemkab Kuningan Harus Berani Keluarkan Anggaran untuk Olah Limbah Kotoran Sapi

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved