Breaking News:

Anomali Cuaca Bikin Panen Raya Garam di Indramayu Mundur, Begini Rekasi Petani

Anomali cuaca membuat produksi garam para petani dipastikan mundur dari biasanya.

Penulis: Handhika Rahman | Editor: dedy herdiana
Tribun Jabar/Ahmad Imam Baehaqi
ILUSTRASI: Sejumlah petambak garam saat memanen garam di Desa Bungkolor, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, Senin (5/8/2019). 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Handhika Rahman

TRIBUNCIREBON.COM, INDRAMAYU - Anomali cuaca membuat produksi garam para petani dipastikan mundur dari biasanya.

Seperti yang terjadi di Kabupaten Indramayu,  masing seringnya hujan yang turun di musim kemarau pada dua bulan terakhir membuat para petani garam baru memulai menggarap lahan tambaknya pada Agustus 2021 ini.

Padahal, jika pada waktu normal, para petani garam sudah menggarap lahan tambaknya mulai bulan Juni dan pada Juli sudah bisa panen.

Baca juga: Stok Garam Numpuk, Petambak di Indramayu Bingung Jual Berapa, Dijual Harga Serendah-rendahnya

Baca juga: PANDUAN Isolasi Mandiri Pasien Covid-19 di Rumah, Ahli: Kumur Air Garam, Minum Air Putih, Makan Buah

"Biasanya Juni sudah mulai garap, tapi sekarang mundur karena kemarin masih sering hujan," ujar petani garam asal Kecamatan Losarang, Robedi melalui sambungan seluler, Senin (2/8/2021).

Robedi berharap, cuaca panas di bulan Agustus ini tidak diselingi hujan seperti bulan-bulan sebelumnya.

Sehingga, pada pertengahan atau akhir Agustus nanti ia bisa melangsungkan panen garam di lahan tambaknya.

Sementara, untuk panen raya sendiri, karena adanya kemunduran, diperkirakan Robedi akan berlangsung pada awal September 2021.

"Untuk masa panen di berbagai daerah sepertinya tidak akan serentak. Karena pengaruh hujan yang tidak menentu, masa pengolahan lahan garam jadi tidak bersamaan," ujarnya.

Selain curah hujan yang tidak menentu, lamanya musim hujan juga membuat para petambak garam menjadi was-was.

Mereka khawatir dengan masa produksi garam yang akan menjadi lebih singkat pada tahun ini.

Robedi pun hanya bisa pasrah, terlebih para petani garam seperti dirinya sangat bergantung pada cuaca panas.

Ketua Asosiasi Petani Garam (Apgasi) Jawa Barat, M Taufik menambahkan, berdasarkan prakiraan BMKG, musim hujan pada tahun ini akan tiba kembali pada Oktober. 

Dengan kondisi tersebut, maka produksi garam pada tahun ini akan berkurang.

"Cuacanya tidak menentu. Saat ini di Jabar yang sudah mulai garap baru sekitar 40 persen," ujar dia.

Sumber: Tribun Cirebon
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved