Breaking News:

Kondisi Pariwisata di Bandung Barat Lumpuh Dihantam Pandemi, Kerugian Mencapai Rp 57 Miliar

Kondisi pariwisata di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) lumpuh setelah dihantam pandemi Covid-19

Editor: Machmud Mubarok
Tribun Jabar/Muhamad Nandri Prilatama
Wisata Fairy Garden, Maribaya, Lembang 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG BARAT - Kondisi pariwisata di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) lumpuh setelah dihantam pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung lebih dari 1,5 tahun dan hingga kini tak kunjung berakhir.

Kondisinya bisa dibilang mati suri setelah adanya kebijakan penutupan objek wisata karena para pelaku usaha hotel juga turut terpuruk, apalagi ditambah penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) KBB, Heri Partomo mengakui jika sektor pariwisata saat ini memang sedang berada dititik nadir paling rendah akibat terdampak pandemi Covid-19.

"Imbasnya banyak pelaku wisata yang menutup usahanya atau merumahkan sebagian karyawan. Jelas prihatin dengan kondisi ini, tapi mau bagaimana lagi? Kondisinya serba sulit akibat Covid-19," ujarnya saat dihubungi, Minggu (1/8/2021).

Baca juga: Puluhan Tempat Wisata, Hotel dan Restoran di Kabupaten Bandung Kibarkan Bendera Putih Tanda Menyerah

Baca juga: Tak Main-main Jika Masyarakat Tak Patuh Aturan PPKM Darurat, Akses Keluar Masuk Lembang Akan Ditutup

Baca juga: Jangan Dulu Main ke Lembang, Pemkab Tutup Semua Objek Wisata di KBB, Imbas Zona Merah Covid-19

Heri mengatakan, sejauh ini memang sudah ada usulan dari pengusaha wisata agar penutupan dilakukan secara proporsional, sehingga tempat wisata yang berada di luar zona merah tetap diizinkan beroperasi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat. 

"Tapi sulit juga, masih terlalu berisiko," kata Heri.

Wakil Ketua BPC Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) KBB, Eko Supriyanto mengatakan, total kerugian yang dialami oleh anggotanya yang tergabung di PHRI sejak awal pandemi Maret 2020 sampai Juli 2021 mencapai Rp 57.275.716.977.

"Angka itu baru dari 30 perusahaan anggota PHRI KBB, kalau ditambah di luar anggota PHRI, jumlahnya pasti jauh lebih membengkak," ucapnya, belum lama ini.

Menurutnya, kondisi yang dialami perusahaan hotel dan resto tersebut, berimbas pada nasib karyawan atau pegawai di sektor pariwisata. Hingga saat ini, sebanyak 1.356 orang pegawai terpaksa harus dirumahkan sementara. 

Eko mengatakan, bisnis apa saja itu butuh kondisi yang stabil, sehingga pihaknya mendukung pemerintah untuk lebih serius dalam menjalankan strategi dan aturan yang telah dibuat. 

"Makanya pemerintah harus terus mengajak warga disiplin menjalankan prokes. Supaya kasus bisa ditekan dan kondisi normal bisa dirasakan kembali," kata Eko.

 

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved