Breaking News:

Terbukti Pasien Covid-19 Bisa Sembuh, Dedi Mulyadi Desak BPOM Beri Perhatian pada Obat Tradisional

Anggota DPR RI Dedi Mulyadi mengatakan pihaknya pun mendesak BPOM untuk beri prosedur sederhana pada obat tradisional untuk kasus Covid-19

Editor: dedy herdiana
YouTube/Dedi Mulyadi Channel
Dedi Mulyadi, saat diwawancarai wartawan 

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNCIREBON.COM, BANDUNG - Selama pandemi Covid-19, bermunculan banyak obat-obatan tradisional dan suplemen manakan yang digunakan bahkan diproduksi terbatas untuk mendorong kesembuhan pasien Covid-19.

Namun demikian, tidak banyak di antaranya yang sudah mengantongi izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Anggota DPR RI Dedi Mulyadi mengatakan pihaknya pun mendesak BPOM untuk memberikan ruang dan prosedur lebih sederhana untuk produksi obat-obatan tradisional untuk kasus Covid-19 tersebut. Apalagi, katanya, jika bahan-bahan yang didapat berasal dari dalam negeri.

Baca juga: Vaksinasi Covid-19 Untuk Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Anak 12-18 Tahun Dimulai di Jabar

Ia mengatakan sejauh ini terdapat obat tradisional yang berdasarkan pengalaman penggunanya terbukti mampu mendorong kesembuhan warga yang terkonfirmasi positif Covid-19. Obat tersebut juga dirasakan bereaksi dalam waktu cepat dan tanpa efek samping.

Dedi pun menceritakan pengalamannya saat membantu sejumlah rekannya yang terinfeksi Covid-19. Mereka menurutnya juga diminta untuk tidak isolasi di rumah sakit atau tempat rujukan pemerintah karena akan membebani anggaran. 

“Saya juga berkirim obat, buatan teman orang Subang, sampai hari ini sudah lebih dari 10 pasien yang sehat, waktunya cuma tiga hari, asal tidak bercampur dengan antibiotik,” katanya melalui siaran digital, Rabu (30/6/2021).

Baca juga: Ada yang Terpapar, Kantor Pelayanan BPJS Kesehatan Majalengka Tutup Sementara 3 Hari ke Depan

Meski terbukti membantu kesembuhan dan minus efek samping, Dedi melihat obat-obatan jenis herbal ini akan menghadapi kendala standardisasi dan menutup harapan bisa diakui oleh lembaga resmi pemerintah. 

Kondisi ini dinilai akan membuat upaya penanganan Covid-19 di Indonesia berjalan lambat sementara perang melawan Covid-19 membutuhkan kontribusi dari seluruh lapisan.

“Saya pikir negara hari ini butuh kecerdasan orang untuk berpartisipasi. Saat melawan musuh, peluru habis, berkelahi pakai pisau, tapi kalau pakai katapel apa bisa membunuh, ya tidak masalah kan,” ujarnya.

Baca juga: 11 Daerah di Jabar Jadi Zona Merah, Ridwan Kamil: PPKM Darurat Segera Diberlakukan

Dedi menilai BPOM harus cepat tanggap melakukan analisis dan mengumumkan secara cepat pada masyarakat mengenai sejumlah obat yang diklaim dapat menyembuhkan Covid-19.

“Jadi dengan upaya ini, BPOM juga memberi banyak ruang untuk penyembuhan, dalam situasi ini akan ada juga yang memanfaatkan situasi, artinya BPOM harus tetap selektif,” katanya.

Jika BPOM sigap dan bisa menyederhanakan prosedur pengujian terhadap obat-obatan selain menurunkan angka pasien positif, Dedi menyakini akan terjadi efisiensi.

“Ketika ada obat-obatan yang mampu menyembuhkan empat hari maksimal, itu lebih baik dibanding harus menjadikan hotel sebagai tempat isolasi, isolasi di hotel itu tidak murah,” katanya.

Upaya-upaya di luar kebiasaan ini yang dinilai Dedi akan membantu percepatan penanganan Covid-19 di Indonesia, menurutnya prosedur standar hanya akan memperlambat dan membuat warga putus asa.

Baca juga: Hasil Tes PCR Anda Positif Covid-19? Jangan Panik dan Segera Lakukan Langkah-langkah Ini 

Baca juga: PPKM Darurat, Apakah Itu? Kini Ramai Dibahas Akan Diterapkan di Indonesia, Begini Kata Jubir Luhut

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved