Senin, 18 Mei 2026
Superhub Kota Cirebon
Selamat Datang Di SuperHub Pemerintah Kota Cirebon

Rumahnya Diterjang Banjir 7 Kali, Warga Karangligar Karawang Ini 4 Kali Beli Kipas Lantaran Rusak

Ica Amelia (40) mengaku sudah empat kali membeli kipas angin dan dua kali membeli televisi di tahun 2021.

Tayang:
Tribun Jabar
Ica Amelia (40) mengaku sudah empat kali membeli kipas angin dan dua kali membeli televisi di tahun 2021 ini. Barang elektroniknya selalu rusak terendam banjir. 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id, Karawang, Cikwan Suwandi

TRIBUNCIREBON.COM, KARAWANG- Ica Amelia (40) mengaku sudah empat kali membeli kipas angin dan dua kali membeli televisi di tahun 2021.

Barang elektroniknya selalu rusak terendam banjir.

Tempat tinggal Ica memang dikenal sebagai daerah paling rawan banjir di Karawang.

Kendati tidak hujan, tempat tinggalnya bisa terendam banjir karena luapan Sungai Citarum dan Sungai Cibeet yang diguyur hujan di wilayah Bandung dan Bogor.

Warga sekitar menyebutnya sebagai banjir kiriman. Tahun ini Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat, Karawang sudah tujuh kali terendam banjir.

Bahkan terkadang banjir bisa merendam wilayah tersebut hingga puluhan kali dalam satu tahun.

"Saya sudah beli empat kipas angin dan dua televisi. Terakhir juga kredit, bukan beli. Kalau bukan anak yang paling kecil minta tv (televisi), saya enggak akan beli," kata Ica kepada Tribun Jabar, Selasa (25/5/2021) malam.

Banjir di Karangligar sudah terjadi sejak Tahun 2007. Ica mengaku banyak janji politisi dan pemerintah untuk menyelesaikan persoalan banjir di Karangligar, tetapi sejauh ini belum ada gerakan untuk menyelesaikan persoalan banjir.

"Banyak orang hebat yang datang, tetapi cuma janji doang," katanya.

Suaminya yang hanya berjualan es keliling, tidak mampu untuk membeli tanah dan bangunan baru di daerah yang lebih aman banjir. "Mau pindah kemana, kita enggak mungkin mampu buat belinya," kata dia.

Selama ini pun ketika banjir, Ica mengaku pemerintah hanya memberikan bantuan mi instan dan beras. Padahal banyak yang anak-anak di wilayahnya membutuhkan bantuan. Tak hanya itu, ia juga mengharapkan adanya bantuan pemulihan ekonomi untuk korban banjir.

"Bantuan banyak, tetapi hanya mi instan dan beras. Alhamdulillah. Tetapi banyak anak-anak yang harusnya diperhatikan. Lalu kami selalu kebingungan juga pasca banjir, banyak barang-barang kami yang rusak. Saya berharap ada juga bantuan pemulihan ekonomi," katanya.

Asep Saepulloh (40) lebih memilih untuk meninggalkan rumahnya dan mengosongkannya sejak dua tahun silam. Ia terpaksa pindah karena banjir.

"Saya tidak menjualnya, karena peninggalan dan tempat orang tua saya. Ketika pasca banjir, saya juga sibuk membersihkan," katanya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved