Breaking News:

PMI Asal Majalengka Dituduh Membunuh

VIDEO - Keluarga di Majalengka Yakin Nenah Tidak Bersalah Walau Dituntut Hukuman Mati di Dubai

Bahkan, pihak keluarga meyakini Nenah tidak bersalah dalam kasus terbunuhnya sopir majikan pada 2014 lalu.

Penulis: Eki Yulianto
Editor: Machmud Mubarok

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNCIREBON.COM, MAJALENGKA - Adanya kabar Nenah Arsinah (38) warga Desa Ranjiwetan, Kecamatan Kasokandel, Kabupaten Majalengka dituntut hukuman mati oleh pihak kepolisian setempat membuat keluarga merasa sedih.

Bahkan, pihak keluarga meyakini Nenah tidak bersalah dalam kasus terbunuhnya sopir majikan pada 2014 lalu.

Kakak Kandung Nenah, Nung Arminah (41) mengatakan, adiknya tersebut masih sering berkomunikasi oleh dirinya.

Tak hanya menanyakan kabar, Nenah sering kali bercerita bahwa ia sudah ingin sekali keluar dari penjara.

"Saya yakin Nenah itu tidak bersalah, dia sudah bersumpah bahwa dia bukan yang membunuh sopir majikannya. Terakhir ngabarin tiga hari sebelum lebaran kemarin," ujar Nung saat ditemui di rumahnya di Blok Selasa RT.02/03, Desa Ranjiwetan, Senin (24/5/2021).

Nung menceritakan, bahwa Nenah berangkat bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) secara resmi oleh pembawa berwenang.

Tiga tahun perjalanan, Nenah masih merasa nyaman bekerka sampai akhirnya pulang ke rumah pada tahun 2014 lalu.

"Itu pulang juga karena ibunya meninggal, tapi pas Nenah datang sudah hari ke-40 ibu meninggal, karena katanya sulit izin ke majikannya. Di sini hanya 10 hari lalu berangkat lagi ke Dubai," ucapnya.

Sejatinya, masih kata dia, informasi bahwa Nenah telah terjerat kasus pembunuhan dan dituntut hukuman mati sudah diketahuinya sejak 2014 lalu.

Baca juga: KONDISI Nenah Warga Majalengka yang Dituntut Hukuman Mati di Dubai, Sang Kakak:Kurus, Kerap Disiksa

Baca juga: Terancam Hukuman Mati, Keluarga TKW di Majalengka Sedih, Yakin Nenah Tak Membunuh Sopir Majikannya

Baca juga: TIPS Cara Makan Bawang Putih yang Benar, Manfaatnya Luar Biasa Apalagi Jika Dimakan pada Pagi Hari

Namun, pihak keluarga saat itu tidak bisa berbuat banyak untuk membebaskan Nenah dari hukum yang telah diterimanya.

"Akhirnya saya bulan kemarin datangi kantor Forum Perlindungan Migran Indonesia (FPMI) di Ligung sana, dan alhamdulilah akan dibantu untuk membebaskan Nenah," jelas dia.

Saat ini, pihak keluarga berharap lembaga hukum tersebut dapat membantu membebaskan Nenah.

Sebab, sudah tujuh tahun lamanya, pihak keluarga menantikan kedatangan Nenah di kampung halamannya Desa Ranjiwetan.

Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved